Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4137 tentang Larangan berjalan dengan satu sandal dan makan tangan kiri

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi tiga adab harian yang diajarkan Nabi ﷺ: (1) jika tali sandal putus, jangan berjalan hanya dengan satu sandal; (2) jangan berjalan dengan satu sepatu/khuff; (3) jangan makan dengan tangan kiri. Ini semua adalah bentuk adab dan akhlak Islam yang menjaga penampilan, menghindari hal yang ganjil, serta mengikuti sunnah dalam urusan makan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab Memakai Sandal, no. 4137, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Adapun dalil terkait larangan makan dengan tangan kiri, terdapat hadits shahih dari Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

"Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di dekatmu." (HR. Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Adapun dalil dari Al-Qur'an yang relevan dengan prinsip menjaga adab dan tidak mengikuti langkah setan, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar." (QS. An-Nur [24]: 21)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sisi:

1. Larangan berjalan dengan satu sandal

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini mengandung hikmah menjaga penampilan dan kehormatan diri. Berjalan dengan satu sandal membuat seseorang terlihat ganjil dan tidak rapi, serta dapat mengganggu keseimbangan. Beliau juga menegaskan bahwa larangan ini adalah larangan makruh, bukan haram, karena tidak berkaitan dengan dosa besar. Namun, seorang mukmin yang baik tetap menjauhi hal ini karena itu menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menambahkan bahwa hikmahnya juga untuk menghindari bahaya fisik, karena berjalan dengan satu sandal dapat membuat kaki terluka atau terkilir.

2. Larangan berjalan dengan satu khuff (sepatu)

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hukumnya sama dengan sandal. Jika salah satu sepatu rusak, maka hendaknya ia melepas keduanya atau memperbaiki yang rusak, tetapi tidak berjalan dengan satu sepatu saja. Ini adalah bentuk kesempurnaan adab dan keindahan dalam Islam.

3. Larangan makan dengan tangan kiri

Ini adalah adab yang sangat ditekankan dalam Islam. Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa makan dengan tangan kiri adalah kebiasaan setan, dan seorang mukmin diperintahkan untuk menyelisihi setan. Beliau juga menegaskan bahwa jika seseorang memiliki udzur (seperti tangan kanan sakit atau terpotong), maka ia boleh makan dengan tangan kiri karena darurat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ selalu menggunakan tangan kanan untuk hal-hal yang baik seperti makan, minum, berwudhu, dan memberi, sedangkan tangan kiri digunakan untuk hal-hal yang kotor seperti bersuci. Ini adalah sunnah yang agung yang menunjukkan kesempurnaan syariat Islam.

Pendapat ulama tentang hukumnya:

Mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa makan dengan tangan kiri tanpa udzur adalah makruh. Namun sebagian ulama seperti Syeikh al-Albani rahimahullah cenderung menyatakan bahwa larangan ini lebih kuat, karena Nabi ﷺ menyebutnya sebagai perbuatan setan, dan menyelisihi setan adalah perintah yang tegas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa sahabat Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah berada di pangkuan Rasulullah ﷺ, lalu tanganku bergerak ke sana ke mari saat makan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: 'Wahai anak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di dekatmu.' Maka sejak itu aku tidak pernah makan kecuali dengan cara itu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ mendidik para sahabat, termasuk anak-anak, dengan adab yang mulia sejak dini. Beliau tidak marah, tetapi mengajarkan dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ini adalah teladan bagi para orang tua dan pendidik dalam mengajarkan adab kepada anak-anak.

Kesimpulan Praktis

  1. Jika tali sandal putus saat di perjalanan, sebaiknya perbaiki dulu atau lepas keduanya, jangan berjalan dengan satu sandal.
  2. Jika salah satu sepatu rusak, berlaku hukum yang sama: jangan berjalan dengan satu sepatu saja.
  3. Biasakan makan dan minum dengan tangan kanan, karena itu sunnah Nabi ﷺ dan menyelisihi kebiasaan setan.
  4. Ajarkan adab-adab ini kepada anak-anak sejak dini dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang.
  5. Jika ada udzur syar'i seperti sakit, maka tidak mengapa menggunakan tangan kiri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.