Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa sandal Nabi ﷺ memiliki dua tali (qibalān) yang berada di antara jari-jari kaki. Ini adalah bentuk sandal yang sederhana namun kokoh, dan hadits ini menjadi dalil bahwa memakai sandal dengan dua tali adalah sesuatu yang dibolehkan dan pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ. Pelajaran utamanya adalah kesederhanaan dan kepraktisan dalam berpakaian dan memakai alas kaki, serta tidak berlebih-lebihan dalam memilih perlengkapan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ نَعْلَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ لَهَا قِبَالَانِ
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Anas, bahwa sandal Nabi ﷺ memiliki dua tali (qibalān).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5857) dan Imam at-Tirmidzi (no. 1773) dengan redaksi yang semakna.
Penjelasan Ulama:
- Imam al-Bukhari memuat hadits ini dalam Shahih-nya pada "Kitab Pakaian" sebagai dalil tentang bentuk sandal yang dibolehkan.
- Imam Abu Dawud menempatkannya dalam "Kitab Pakaian, Bab Memakai Sandal" untuk menunjukkan bahwa sandal bertali dua adalah bagian dari sunnah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa qibal adalah tali sandal yang berada di antara jari-jari kaki, dan hadits ini menunjukkan bahwa hal itu dibolehkan dan tidak bertentangan dengan larangan memakai sandal bertali satu ketika berjalan jauh (dalam konteks tertentu).
Penjelasan Rinci
Makna Qibalān
Kata قِبَالَانِ (qibalān) adalah bentuk mutsanna (dua) dari kata قِبَال (qibal). Para ulama menjelaskan bahwa qibal adalah tali sandal yang melintang di bagian depan kaki, biasanya berada di antara jari-jari kaki atau melintasi punggung kaki.
Imam Ibnul Atsir dalam an-Nihayah menjelaskan bahwa qibal adalah tali yang ada di bagian depan sandal, dan sandal Nabi ﷺ memiliki dua tali tersebut. Ini menunjukkan bahwa sandal beliau kokoh dan nyaman dipakai.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan memakai sandal dengan dua tali, dan ini adalah bentuk yang paling umum dan paling baik karena lebih kuat dan lebih aman bagi pemakainya.
Hikmah dan Pelajaran
- Kesederhanaan Nabi ﷺ: Sandal Nabi ﷺ tidak terbuat dari bahan mewah, tetapi sederhana dan fungsional. Ini mengajarkan kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam memilih alas kaki atau pakaian.
- Kepraktisan: Dua tali membuat sandal lebih kokoh dan tidak mudah lepas. Ini menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memilih yang praktis dan bermanfaat.
- Bukan Bentuk Ibadah Khusus: Hadits ini tidak menunjukkan bahwa memakai sandal dua tali adalah ibadah yang harus dilakukan, tetapi sekadar informasi tentang kebiasaan Nabi ﷺ. Yang penting adalah memakai alas kaki yang menutup dan melindungi kaki dengan baik.
- Adab Memakai Sandal: Dalam hadits lain, Nabi ﷺ mengajarkan untuk memulai memakai sandal dari kaki kanan dan melepasnya dari kaki kiri (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa Islam memperhatikan adab dalam hal sekecil apapun.
Perbedaan Pendapat Ulama
Para ulama sepakat bahwa memakai sandal dengan dua tali adalah dibolehkan. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam hal ini. Namun, ada sebagian ulama yang membahas tentang larangan berjalan jauh dengan sandal bertali satu (sebagaimana dalam hadits tentang larangan memakai sandal bertali satu ketika safar), namun itu konteksnya berbeda dan tidak bertentangan dengan hadits ini.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ kadang memakai sandal dan kadang memakai khuff (sepatu kulit), dan semuanya adalah hal yang mubah. Yang terpenting adalah menutup kaki dan memberikan kenyamanan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Sandal Nabi ﷺ memiliki dua tali." (HR. Bukhari no. 5857)
Dalam riwayat lain, Anas juga menceritakan bahwa beliau pernah melihat Nabi ﷺ memakai sandal yang terbuat dari kulit yang dijahit dengan sederhana. Meskipun beliau adalah pemimpin umat dan memiliki akses terhadap segala sesuatu, beliau tetap memilih yang sederhana.
Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang sederhana dalam makanannya, sederhana dalam pakaiannya, dan sederhana dalam segala urusannya." (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan bukan terletak pada mahalnya pakaian atau alas kaki, tetapi pada ketakwaan dan kesederhanaan hati.
Kesimpulan Praktis
- Boleh memakai sandal dengan dua tali — ini adalah bentuk sandal yang pernah dipakai Nabi ﷺ dan tidak ada larangan dalam hal ini.
- Utamakan kesederhanaan — jangan berlebih-lebihan dalam memilih alas kaki atau pakaian; pilih yang bersih, nyaman, dan menutup aurat.
- Perhatikan adab memakai sandal — mulai dari kaki kanan saat memakai, dan lepas dari kaki kiri saat melepas.
- Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk tidak terlalu sibuk dengan urusan model dan gaya, tetapi fokus pada kebersihan dan fungsi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.