Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4096 tentang Cara berpakaian Nabi dengan mengangkat ujung sarung

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan tata cara memakai sarung (izar) yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ, yaitu bagian depan sarung diletakkan menutupi punggung kaki, sementara bagian belakangnya diangkat (tidak menjuntai ke bawah). Ini adalah bentuk kesederhanaan dan kepatuhan seorang sahabat dalam meniru penampilan Nabi ﷺ, sekaligus bantahan terhadap orang-orang yang memakai pakaian dengan sombong (isbal). Yang terpenting, hadits ini mengajarkan kita untuk berusaha meneladani Nabi ﷺ dalam setiap perkara, termasuk cara berpakaian, selama tidak bertentangan dengan dalil lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab Tentang Ukuran Letak Sarung, no. 4096. Sahabat yang terlibat adalah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dan yang meriwayatkan darinya adalah Ikrimah (maula Ibnu Abbas).

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Firman Allah Ta'ala tentang larangan sombong dalam berpakaian:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." (QS. Al-Isra' [17]: 37)

Hadits terkait:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ

"Apa yang berada di bawah mata kaki dari sarung (yang menjuntai), maka tempatnya di neraka." (HR. Al-Bukhari no. 5787)

Kaitan dengan ulama:

Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Abu Dawud, memandang hadits ini sebagai bagian dari penjelasan praktik Nabi ﷺ dalam berpakaian. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 762) menilai sanad hadits ini hasan (baik), dan beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan cara berpakaian yang tidak berlebih-lebihan dan tidak pula merendahkan pakaian hingga ke tanah karena sombong.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Tata cara memakai sarung yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menjelaskan bahwa beliau meletakkan bagian depan sarungnya di atas punggung kaki, dan mengangkat bagian belakangnya. Ini adalah bentuk praktik yang dilihat langsung dari Nabi ﷺ. Para ulama seperti Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal memahami bahwa cara ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan dalam mengikuti sunnah, meskipun tidak wajib. Yang terpenting adalah tidak menjulurkan sarung hingga melewati mata kaki karena itu termasuk isbal yang dilarang.

  1. Larangan isbal (menjulurkan pakaian) karena sombong.

Hadits ini sejalan dengan hadits-hadits lain yang melarang isbal. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa isbal yang diharamkan adalah yang disertai kesombongan. Adapun jika tidak disertai kesombongan, maka hukumnya makruh menurut sebagian ulama, namun yang lebih hati-hati adalah tetap menghindarinya.

  1. Sikap sahabat dalam meneladani Nabi ﷺ.

Ketika Ikrimah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang cara memakai sarungnya, Ibnu Abbas tidak menjawab dengan alasan pribadi, tetapi langsung menisbahkan kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat berhati-hati dalam beramal, dan mereka tidak membuat-buat cara ibadah atau penampilan tanpa dasar dari Nabi ﷺ.

  1. Bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan sunnah dalam hal penampilan.

Sebagian orang menganggap cara berpakaian adalah perkara sepele. Padahal, para sahabat sangat memperhatikan hal ini karena mereka paham bahwa setiap gerak-gerik seorang mukmin bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk mengikuti Nabi ﷺ.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa memakai sarung di atas mata kaki adalah lebih utama, dan jika seseorang memakai di bawah mata kaki tanpa sombong, maka ia berdosa kecil menurut pendapat yang kuat, karena larangan dalam hadits bersifat umum.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ikrimah — seorang tabi'in yang sangat tekun menuntut ilmu dari Ibnu Abbas — ketika melihat cara gurunya memakai sarung, ia langsung bertanya. Ini menunjukkan adab seorang murid: ia tidak langsung meniru tanpa bertanya, tetapi ia bertanya untuk memahami hikmah dan dasarnya. Dan ketika Ibnu Abbas menjawab, "Aku melihat Rasulullah ﷺ melakukannya," maka Ikrimah pun merasa tenang dan yakin.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa ilmu itu harus bertanya dan bersumber dari dalil, bukan sekadar ikut-ikutan tanpa dasar. Sebagaimana Imam Malik bin Anas berkata: "Ilmu itu tidak diambil dengan cara mendengar dari orang yang tidak dikenal keilmuannya, tetapi harus dari orang yang dikenal membawa ilmu dan pemahaman."

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani Nabi ﷺ dalam setiap perkara, termasuk cara berpakaian, selama tidak bertentangan dengan syariat.
  2. Hindari isbal (menjulurkan pakaian melewati mata kaki), terutama jika disertai kesombongan.
  3. Jika memakai sarung atau celana, usahakan berada di atas mata kaki, dan jika ingin meniru cara Nabi ﷺ, letakkan bagian depan di atas punggung kaki dan angkat bagian belakang.
  4. Jangan meremehkan sunnah-sunnah kecil, karena kebaikan itu semuanya dari Allah dan mengikuti Nabi ﷺ adalah kunci cinta kepada Allah.
  5. Bertanyalah kepada ulama ketika melihat amalan yang tidak dipahami, sebagaimana Ikrimah bertanya kepada Ibnu Abbas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.