Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa kesombongan (kibr) sekecil apa pun — walau hanya sebesar biji sawi — adalah penghalang masuk surga bagi pelakunya selama ia belum bertaubat dan membersihkan hatinya. Sebaliknya, iman sekecil apa pun — walau hanya sebesar biji sawi — menjadi penghalang masuknya seseorang ke neraka secara kekal. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai dalil bahwa kesombongan adalah dosa besar yang wajib dijauhi, dan bahwa iman yang tersisa di hati seorang mukmin akan menyelamatkannya dari azab yang kekal.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. An-Nahl [16]: 23
وَلَا شَكَّ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
"Dan tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong."
QS. Al-Isra' [17]: 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab Apa yang Dikatakan tentang Kesombongan, nomor 4091. Sanadnya: Ahmad bin Yunus → Abu Bakr bin 'Ayyasy → Al-A'masy → Ibrahim (an-Nakha'i) → 'Alqamah → Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه.
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Mas'ud dengan lafaz yang serupa, dan Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkannya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil pokok tentang haramnya kesombongan.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits ini secara rinci.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari membahas hadits ini dalam konteks pembahasan akhlak.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam memasukkan hadits tentang kesombongan ini sebagai salah satu hadits pokok.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Madarij as-Salikin membahas panjang lebar tentang hakikat kibr dan dampaknya.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam kitab-kitabnya menjelaskan bahwa kibr adalah penghalang dari surga.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." Biji sawi (khardal) adalah perumpamaan untuk sesuatu yang sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Ini menunjukkan bahwa kesombongan sekecil apa pun tidak boleh dianggap remeh.
Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Dan tidak akan masuk neraka orang yang dalam hatinya terdapat iman sebesar biji sawi." Ini menunjukkan bahwa iman sekecil apa pun tetap bernilai di sisi Allah dan akan menjadi penyelamat dari azab yang kekal.
Pemahaman Para Ulama
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam memahami "tidak akan masuk surga":
- Pendapat pertama: Yang dimaksud adalah tidak masuk surga secara langsung/pada awalnya, tetapi mungkin disiksa terlebih dahulu di neraka kemudian dimasukkan ke surga. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh banyak ulama Ahlus Sunnah, termasuk Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.
- Pendapat kedua: Yang dimaksud adalah tidak masuk surga secara sempurna, yakni tidak mendapatkan derajat yang tinggi di surga.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kibr adalah dosa yang sangat berbahaya karena dapat menghalangi seseorang dari surga. Beliau juga menjelaskan bahwa kibr yang dimaksud di sini adalah kibr yang tidak disertai taubat, atau kibr yang sudah menjadi sifat tetap dalam hati seseorang.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa hakikat kibr adalah menolak kebenaran (batharul haq) dan merendahkan manusia (ghamthun nas). Ini sesuai dengan hadits lain Nabi ﷺ:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim)
Syeikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa kibr adalah sifat yang paling tercela karena ia merupakan sifat Iblis yang menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena merasa lebih mulia. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 34:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir."
Perbedaan Pendapat dan Tarjih
Para ulama dalam daftar yang disebutkan di atas — seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Rajab — sepakat bahwa hadits ini tidak berarti bahwa orang mukmin yang memiliki sedikit kibr akan kekal di neraka. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa:
- Orang yang memiliki kibr tidak masuk surga pada awalnya dan mungkin disiksa terlebih dahulu, kecuali jika Allah mengampuninya.
- Iman sekecil apa pun mencegah kekekalan di neraka.
Ini sejalan dengan kaidah Ahlus Sunnah bahwa pelaku dosa besar tidak keluar dari iman dan tidak kekal di neraka jika masih memiliki iman di hatinya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — adalah seorang yang sangat sederhana dan rendah hati. Suatu ketika, Nabi ﷺ bersabda kepadanya dan para sahabat tentang bahaya kibr. Ibnu Mas'ud sendiri adalah sahabat yang dikenal sebagai ahli Al-Qur'an dan sangat tawadhu, meskipun beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ.
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin, suatu ketika Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki yang memakai pakaian bagus dan berjalan dengan sombong. Nabi ﷺ kemudian bersabda tentang bahaya kesombongan, dan para sahabat pun merenung tentang betapa besar bahaya sifat ini.
Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam bahwa Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang mulia) pernah berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang sombong kecuali ia pasti merendahkan orang lain dan menganggap dirinya lebih mulia." Ini menunjukkan bahwa kibr selalu melahirkan akhlak yang buruk terhadap sesama.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi kesombongan sekecil apa pun. Kesombongan adalah sifat Iblis dan penghalang masuk surga. Periksa hati kita: apakah kita merasa lebih baik dari orang lain? Apakah kita menolak kebenaran ketika datang dari orang yang kita anggap rendah?
- Jaga iman di hati. Iman sekecil biji sawi pun akan menyelamatkan kita dari kekekalan di neraka. Maka rawatlah iman dengan amal saleh, dzikir, dan menjauhi dosa.
- Latih diri dengan tawadhu. Rendah hati adalah akhlak para Nabi dan salafus shalih. Al-Hasan al-Bashri berkata: "Tahukah kamu apa itu tawadhu? Tawadhu adalah ketika kamu keluar dari rumahmu dan kamu tidak melihat seorang pun kecuali kamu merasa ia lebih baik darimu."
- Taubat dari kibr. Jika kita menyadari ada kesombongan dalam hati, segera bertaubat dan minta ampun kepada Allah, karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
- Ingat asal kita. Kita berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa merenungkan asal kejadian manusia adalah obat bagi kesombongan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.