Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4087 tentang Tiga golongan yang tidak dilihat Allah di hari kiamat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang tiga golongan manusia yang sangat terancam dengan hukuman berat di hari kiamat: tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak dilihat oleh Allah, tidak disucikan dari dosa, dan mendapatkan azab yang pedih. Mereka adalah: (1) orang yang mengulurkan pakaiannya melebihi mata kaki karena sombong (musbil), (2) orang yang memberi sesuatu lalu menyebut-nyebut pemberiannya (mannan), dan (3) orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu. Ini adalah peringatan keras agar kita menjaga hati dari sifat sombong, riya, dan tidak jujur dalam bermuamalah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab "Apa yang Dikatakan tentang Menggantungkan Pakaian", nomor 4087. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ ۙ

"Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang." (QS. Al-Muthaffifin [83]: 1)

Ayat ini relevan dengan sifat tidak jujur dalam bermuamalah, termasuk bersumpah palsu untuk menjual barang dagangan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "musbil" adalah orang yang mengulurkan pakaiannya melebihi mata kaki karena sombong. Adapun jika tidak karena sombong, maka hukumnya makruh, bukan termasuk dosa besar yang disebutkan dalam hadits ini.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa ancaman keras dalam hadits ini khusus bagi yang melakukannya karena sombong dan angkuh.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan tiga golongan yang disebutkan dalam hadits ini dengan rincian sebagai berikut:

1. Al-Musbil (المسبل) - Orang yang Mengulurkan Pakaian

Yang dimaksud adalah orang yang memanjangkan pakaiannya (biasanya sarung, celana, atau gamis) hingga melebihi mata kaki karena kesombongan. Ini adalah perbuatan yang sangat dilarang karena menunjukkan sifat angkuh dan merasa lebih tinggi dari orang lain.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa larangan ini terkait dengan kesombongan. Beliau berkata, "Jika seseorang mengulurkan pakaiannya bukan karena sombong, maka hukumnya makruh (tidak disukai), bukan haram. Namun jika karena sombong, maka termasuk dosa besar yang diancam dengan ancaman keras."

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa batas pakaian yang dibolehkan adalah hingga pertengahan betis, dan yang paling utama adalah di atas mata kaki. Beliau berkata, "Yang diharamkan adalah mengulurkan pakaian melebihi mata kaki dengan disertai kesombongan. Adapun jika tidak disertai kesombongan, maka hukumnya makruh."

2. Al-Mannan (المنان) - Orang yang Memberi Lalu Menyebut-nyebut Pemberiannya

Yaitu orang yang memberi sesuatu kepada orang lain, lalu dia menyebut-nyebut pemberiannya, menyakiti hati penerima, atau mengungkit-ungkit kebaikannya. Perbuatan ini menghapus pahala sedekah dan menunjukkan hati yang tidak ikhlas.

Allah Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)." (QS. Al-Baqarah [2]: 264)

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini melarang seorang muslim merusak pahala sedekahnya dengan dua hal: al-mann (menyebut-nyebut pemberian) dan al-adza (menyakiti perasaan penerima). Kedua perbuatan ini menunjukkan hati yang tidak ikhlas dan hanya mengharap pujian manusia.

3. Al-Munfiq Sila'atahu Bil-Halifil Kadzib - Orang yang Menjual Barangnya dengan Sumpah Palsu

Yaitu orang yang bersumpah dengan nama Allah secara bohong untuk meyakinkan pembeli bahwa barangnya bagus, padahal tidak demikian. Ini adalah bentuk penipuan dalam jual beli yang sangat dilarang.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa sumpah palsu dalam jual beli termasuk dosa besar karena mengandung tiga pelanggaran: berdusta atas nama Allah, menipu pembeli, dan menghalalkan yang haram.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah sangat membenci orang yang bersumpah palsu untuk melariskan dagangannya, karena ini menunjukkan kehinaan dunia lebih utama baginya daripada akhirat.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ada tiga golongan yang Allah tidak akan mengajak bicara pada hari kiamat, tidak melihat mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.' Beliau mengulanginya tiga kali."

Abu Dzar berkata: "Mereka benar-benar merugi dan kecewa, wahai Rasulullah. Siapakah mereka?"

Rasulullah ﷺ menjawab: "Orang yang mengulurkan pakaiannya (karena sombong), orang yang memberi lalu menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah palsu." (HR. Abu Dawud dan Muslim)

Hikmah dari kisah ini:

Betapa tegasnya Rasulullah ﷺ dalam memperingatkan umatnya. Beliau mengulanginya tiga kali agar para sahabat benar-benar memperhatikan. Abu Dzar yang mendengar langsung merasa sangat khawatir dan berkata "mereka telah merugi dan kecewa" sebagai bentuk empati dan ketakutan.

Ini mengajarkan kita bahwa dosa-dosa yang berkaitan dengan hati (sombong, riya) dan lisan (sumpah palsu, menyakiti dengan ucapan) sangat berbahaya. Karena itu, kita harus selalu menjaga keikhlasan dalam beramal dan kejujuran dalam bermuamalah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga pakaian dari kesombongan - Kenakan pakaian yang sopan dan tidak berlebihan, jangan mengulurkan hingga melebihi mata kaki karena sombong.
  2. Jaga keikhlasan dalam memberi - Jika memberi bantuan, jangan pernah menyebut-nyebut pemberian tersebut kepada orang lain atau menyakiti penerima dengan ucapan.
  3. Jaga kejujuran dalam jual beli - Jangan bersumpah palsu untuk melariskan dagangan. Cukup jelaskan kondisi barang dengan jujur.
  4. Perbanyak istighfar - Jika pernah melakukan hal-hal tersebut, segera bertaubat dan perbaiki diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.