Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa pakaian yang paling disukai Rasulullah ﷺ adalah al-hibarah, yaitu kain/jubah bergaris yang indah namun tidak berlebihan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang keindahan dalam berpakaian, selama tetap sederhana, tidak sombong, dan tidak menyerupai lawan jenis atau orang kafir. Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — yang lama melayani Nabi ﷺ — menjadi saksi langsung tentang selera pakaian beliau.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab tentang memakai jubah bergaris, dari jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan) dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
<p>حَدَّثَنَا هُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ قُلْنَا لأَنَسٍ - يَعْنِي ابْنَ مَالِكٍ - أَىُّ اللِّبَاسِ كَانَ أَحَبَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْ أَعْجَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ الْحِبَرَةُ</p>
Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid Al-Azdi, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, ia berkata: Kami bertanya kepada Anas — yakni Ibnu Malik — pakaian apa yang paling disukai atau paling mengagumkan bagi Rasulullah ﷺ? Ia menjawab: Al-hibarah (jubah bergaris)."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar umum keindahan dalam berpakaian:
<p>يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</p>
QS. Al-A'raf [7]: 31 — "Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini membantah orang yang mengharamkan perhiasan dan pakaian bagus yang Allah sediakan bagi hamba-Nya, sekaligus memerintahkan kesederhanaan (tidak israf).
Penjelasan Rinci
1. Makna "al-hibarah".
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-hibarah adalah kain dari Yaman yang memiliki garis-garis (striped) berwarna, terbuat dari kapas atau katun, dengan motif bergaris yang indah. Ia bukan pakaian mewah yang berlebihan, tetapi pakaian yang bagus dan enak dipandang.
2. Mengapa Nabi ﷺ menyukainya?
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa pakaian Nabi ﷺ secara umum sederhana, namun beliau menyukai yang indah dan bersih selama tidak mengandung kesombongan. Beliau pernah bersabda bahwa siapa yang memakai pakaian bagus untuk menunjukkan syukur kepada Allah, maka itu baik. Jadi kesukaan beliau pada al-hibarah bukan karena gengsi, tetapi karena keindahan yang wajar dan sesuai fitrah.
3. Adab berpakaian menurut para ulama daftar:
- Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa disunnahkan memakai pakaian yang indah pada hari Jumat, hari raya, dan saat menerima tamu — sebagai bentuk menghormati syiar Islam.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa pakaian adalah nikmat Allah yang harus disyukuri, dan syukur itu diwujudkan dengan memakainya secara pantas, bukan untuk riya'.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa larangan dalam Islam bukan pada keindahan pakaian, melainkan pada israf (berlebihan), khuyala' (kesombongan), dan tasyabbuh (menyerupai lawan jenis atau orang kafir dalam hal yang khas).
4. Perbedaan pendapat ringan.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa pertanyaan Qatadah kepada Anas bersifat umum, dan jawaban Anas menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ sehari-hari. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama daftar tentang bolehnya memakai pakaian bergaris dan indah. Yang paling kuat adalah pendapat yang membolehkan keindahan pakaian dengan syarat tidak berlebihan dan tidak untuk kesombongan, sesuai QS. Al-A'raf [7]: 31 dan penjelasan Ibnu Katsir.
Story Telling
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — seorang Tabi'in yang buta sejak kecil namun sangat kuat hafalannya — pernah bertanya langsung kepada Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, sahabat yang melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Anas adalah orang yang paling tahu kebiasaan harian Nabi ﷺ, termasuk pakaian beliau.
Bayangkan: Qatadah, seorang Tabi'in yang tidak bisa melihat, bertanya tentang warna dan bentuk pakaian Nabi ﷺ. Ia ingin mengetahui sunnah sampai detail sekecil itu. Anas pun menjawab dengan yakin: al-hibarah. Ini menunjukkan betapa para salaf sangat teliti dalam meneladani Nabi ﷺ, bahkan dalam hal berpakaian. Mereka tidak menganggap remeh urusan penampilan, karena penampilan adalah cerminan hati dan bentuk syukur kepada Allah.
Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam kitabnya bahwa para salaf biasa memakai pakaian terbaik mereka ketika bertemu manusia, namun tetap sederhana ketika sendirian — karena mereka tahu Allah lebih berhak dilihat keindahan hamba-Nya dalam ketaatan.
Kesimpulan Praktis
- Boleh dan bahkan disunnahkan memakai pakaian yang indah dan bagus, seperti kain bergaris, selama tidak berlebihan.
- Hindari israf dan kesombongan — pakaian mahal bukan untuk pamer, tetapi untuk syukur.
- Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ — beliau menyukai yang indah, tetapi tidak berlebihan.
- Perhatikan adab — pakai pakaian terbaik saat shalat, Jumat, hari raya, dan bertemu orang.
- Jangan mengharamkan keindahan yang Allah halalkan, sebagaimana ditegaskan Ibnu Katsir dalam tafsir QS. Al-A'raf [7]: 31.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.