Ringkasan Jawaban Singkat
Teks yang Anda bawakan (Sunan Abu Dawud no. 405) bukanlah matan hadits Nabi ﷺ secara langsung, melainkan keterangan tambahan (idraj/penjelasan) dari Imam az-Zuhri (wafat 124 H) — salah satu ulama Tabi'in dalam daftar rujukan — tentang jarak daerah Al-'Awali dari kota Madinah, yaitu sekitar dua, tiga, atau empat mil. Keterangan ini muncul dalam rangkaian hadits tentang waktu shalat Ashar, karena Nabi ﷺ dan para sahabat pernah shalat di daerah itu. Tujuannya menjelaskan konteks geografis agar pembaca memahami seberapa jauh lokasi tersebut dari Masjid Nabawi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits pokok dalam bab ini (yang menjadi induk riwayat) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ shalat Ashar, lalu seseorang pergi ke Al-'Awali dan sampai di sana ketika matahari masih tinggi. Riwayat ini terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta disebutkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya.
Adapun ayat yang relevan tentang keutamaan menjaga waktu shalat:
QS. An-Nisa' [4]: 103
وَفَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
Terjemahan: "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang yang beriman."
Kaitan dengan ulama daftar:
- Imam az-Zuhri (Tabi'in) — perawi keterangan jarak Al-'Awali ini.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa penyebutan jarak Al-'Awali menunjukkan betapa panjangnya waktu Ashar, karena orang yang berjalan ke sana masih mendapati matahari tinggi.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hal ini dalam bab waktu shalat.
Penjelasan Rinci
Pertama, memahami struktur riwayat. Teks yang Anda bawakan adalah bagian dari sanad dan keterangan Imam az-Zuhri. Beliau berkata: "Al-'Awali terletak pada jarak dua mil atau tiga mil." Lalu perawi (Ma'mar) menambahkan: "Saya mengira beliau berkata: atau empat mil." Jadi ini adalah penjelasan geografis, bukan sabda Nabi ﷺ.
Kedua, apa itu Al-'Awali? Al-'Awali adalah kawasan permukiman di pinggiran Madinah, arah selatan/timur dari Masjid Nabawi. Imam az-Zuhri menyebut jaraknya 2–4 mil (1 mil sekitar 1,6 km), sehingga berkisar 3–6 km dari pusat kota.
Ketiga, mengapa keterangan ini penting? Karena dalam hadits induknya, Nabi ﷺ shalat Ashar bersama para sahabat, lalu salah seorang sahabat berjalan menuju Al-'Awali dan tiba di sana sementara matahari masih tinggi dan belum berubah warna. Ini menunjukkan bahwa waktu Ashar itu panjang dan luas, tidak sempit. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah dalil bahwa awal waktu Ashar dimulai sejak bayangan sama panjang dengan bendanya, dan berlangsung hingga matahari menguning (waktu ikhtiyari).
Keempat, pandangan ulama daftar tentang waktu Ashar:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat awal waktu Ashar adalah ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda (setelah zawal), dan akhir waktu ikhtiyari hingga matahari menguning.
- Imam Abu Hanifah berpendapat awal waktu Ashar ketika panjang bayangan dua kali tinggi benda. Namun jumhur (mayoritas) dari ulama daftar — termasuk asy-Syafi'i, Ahmad, dan yang dikuatkan Ibnu Taymiyyah serta Ibnu Qayyim — menguatkan pendapat pertama berdasarkan hadits Jibril yang mengajarkan waktu-waktu shalat.
- Syeikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menguatkan bahwa waktu Ashar dimulai saat bayangan sama panjang, dan berakhir saat matahari terbenam, dengan waktu ikhtiyari hingga menguning.
Kelima, adab dalam memahami riwayat. Keterangan az-Zuhri ini mengajarkan kita bahwa para ulama salaf sangat teliti dalam menjelaskan konteks, termasuk jarak tempat, agar umat memahami hadits dengan benar. Ini adalah bentuk amanah ilmiah yang patut kita teladani.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Anas bin Malik رضي الله عنه — pelayan Nabi ﷺ yang mulia — menceritakan: "Kami shalat Ashar bersama Rasulullah ﷺ, lalu seseorang pergi ke Al-'Awali dan sampai di sana sementara matahari masih tinggi." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Imam az-Zuhri — yang hidup satu abad setelahnya — merasa perlu menjelaskan kepada murid-muridnya: "Al-'Awali itu jaraknya dua atau tiga mil dari Madinah." Ma'mar, murid beliau, menambahkan: "Aku kira beliau menyebut empat mil."
Hikmahnya: Para ulama salaf tidak hanya meriwayatkan teks, tetapi juga menjaga konteks agar generasi berikutnya tidak salah paham. Mereka sadar bahwa hadits yang tampak sederhana pun bisa mengandung pelajaran tentang keluasan waktu ibadah, jika dipahami dengan penjelasan yang tepat. Inilah warisan keilmuan yang membuat sunnah tetap terang hingga hari ini.
Kesimpulan Praktis
- Pahami konteks riwayat — teks no. 405 Sunan Abu Dawud ini adalah keterangan az-Zuhri, bukan sabda Nabi ﷺ, sehingga tidak dijadikan dalil mandiri.
- Waktu Ashar itu luas — dari bayangan sama panjang hingga matahari menguning (waktu ikhtiyari), dan hingga terbenam (waktu darurat).
- Jangan menunda shalat tanpa uzur — meski waktunya panjang, menunda hingga menguning tanpa alasan adalah makruh menurut jumhur ulama daftar.
- Teladani ketelitian salaf — Imam az-Zuhri mengajarkan kita untuk menjelaskan konteks, bukan sekadar menyampaikan teks.
- Rujuk kitab syarah — untuk pendalaman, bacalah Fathul Bari (Ibnu Hajar), Syarh Shahih Muslim (an-Nawawi), dan Irwa' al-Ghalil (al-Albani).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.