Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits qudsi yang menceritakan perintah Allah kepada Bani Israil agar masuk ke pintu (Baitul Maqdis) dengan bersujud (merendahkan diri) dan mengucapkan kata "hiththah" (permohonan ampunan). Namun, mereka menyelisihi perintah tersebut dengan masuk sambil merangkak dan mengucapkan kata-kata ejekan. Hadits ini mengajarkan kita tentang pentingnya mentaati perintah Allah dengan penuh keikhlasan dan adab, serta konsekuensi buruk dari menyelisihi perintah-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 58:
وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَّغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman: 'Masuklah ke negeri ini (Baitul Maqdis), maka makanlah sebagian dari rezki yang melimpah di sana sesukamu, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah: "Hiththah" (bebaskanlah kami dari dosa), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.'"
Hadits yang diriwayatkan:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Huruf wa Al-Qira'at (Kitab Huruf dan Bacaan), no. 4006, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Lafazh haditsnya menyebutkan bahwa Allah berfirman kepada Bani Israil: "Masukilah pintu dengan bersujud dan katakanlah 'hiththah', niscaya diampuni dosa-dosamu."
Kaitan dengan ulama:
Para ulama dari kalangan mufassirin seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini secara panjang lebar, termasuk kisah Bani Israil yang menyelisihi perintah tersebut. Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan perintah Allah kepada Bani Israil ketika mereka diperintahkan memasuki Baitul Maqdis. Ada beberapa pelajaran penting:
1. Makna "Sujjadan" (bersujud)
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa makna "sujjadan" di sini adalah masuk dengan merendahkan diri dan tunduk kepada Allah, bukan sujud dalam arti meletakkan dahi ke tanah. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh banyak ulama, termasuk Mujahid dan Qatadah yang mengatakan bahwa mereka diperintahkan masuk dengan kepala tertunduk sebagai tanda kerendahan hati.
2. Makna "Hiththah"
Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma (yang riwayatnya disebutkan oleh Ibnu Katsir) menjelaskan bahwa "hiththah" berarti permohonan ampunan. Mereka diperintahkan mengucapkan kata ini sebagai pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Allah.
3. Kisah Penyelisihan Bani Israil
Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bani Israil diperintahkan untuk masuk dengan bersujud dan mengucapkan 'hiththah', tetapi mereka masuk sambil merangkak di atas pantat mereka dan mengucapkan 'hinthah' (sejenis gandum) sambil mengejek."
Kisah ini menunjukkan betapa buruknya akibat menyelisihi perintah Allah. Mereka yang seharusnya masuk dengan penuh ketundukan dan memohon ampunan, justru masuk dengan cara yang menghina dan mengucapkan kata-kata ejekan. Akibatnya, mereka tidak mendapatkan ampunan yang dijanjikan.
4. Pelajaran dari Hadits Ini
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan pentingnya adab dalam beribadah. Ibadah tidak hanya dilihat dari bentuk lahiriahnya, tetapi juga dari niat dan cara pelaksanaannya. Menyelisihi perintah Allah dengan cara yang merendahkan syariat adalah bentuk kemunafikan yang sangat tercela.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa ayat ini mengajarkan tentang pentingnya bersegera dalam taubat dan memohon ampunan dengan penuh kerendahan hati, bukan dengan kesombongan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Bani Israil diperintahkan untuk masuk dengan bersujud dan mengucapkan 'hiththah', tetapi mereka masuk sambil merangkak di atas pantat mereka dan mengucapkan 'hinthah' (sejenis gandum) sambil mengejek." (HR. Al-Bukhari no. 3403, dari Abu Hurairah)
Hikmah dari kisah ini:
Betapa hinanya sikap Bani Israil yang mengejek perintah Allah. Mereka tidak hanya menyelisihi cara masuk yang diperintahkan, tetapi juga mengganti ucapan yang seharusnya menjadi ejekan. Ini menunjukkan bahwa hati yang sombong dan tidak tunduk kepada syariat akan selalu mencari-cari alasan untuk menyelisihi perintah Allah. Sebaliknya, orang mukmin yang tulus akan menerima perintah Allah dengan penuh ketundukan, meskipun ia tidak memahami hikmah di baliknya secara sempurna.
Kesimpulan Praktis
- Taatlah dengan penuh ketundukan - Ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu, kita harus menerimanya dengan lapang dada, bukan dengan keraguan atau ejekan.
- Jaga adab dalam beribadah - Cara kita beribadah harus sesuai dengan tuntunan syariat, bukan mengikuti hawa nafsu atau akal semata.
- Segera bertaubat dengan kerendahan hati - Jika kita berbuat dosa, segeralah memohon ampunan kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan penyesalan.
- Hindari sikap sombong dan meremehkan perintah Allah - Kesombongan adalah penghalang terbesar untuk menerima hidayah dan ampunan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.