Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4002 tentang Matahari terbenam di mata air hangat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ memberitahu Abu Dzar bahwa matahari terbenam di "mata air yang hangat" (عين حامية). Ini adalah berita tentang fenomena alam yang termasuk dalam perkara ghaib yang hanya diketahui Allah dan Rasul-Nya. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini secara hakiki sesuai zhahirnya, bahwa matahari benar-benar terbenam di sumber mata air yang hangat di ujung barat bumi, sebagai bagian dari kekuasaan Allah yang Maha Besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Kahfi [18]: 86

حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ ٱلشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِى عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِندَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَـٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا

"Hingga ketika dia (Zulkarnain) sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia mendapati matahari terbenam di dalam sumber mata air yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di dekatnya suatu kaum."

Hadits terkait:

Hadits Abu Dzar radhiyallahu 'anhu dalam Sunan Abu Dawud no. 4002, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan lainnya.

Penjelasan Ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Kahfi: 86 dan hadits ini saling mendukung, menunjukkan bahwa matahari benar-benar terbenam di sumber mata air (عين) yang hangat atau berlumpur hitam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Bad'ul Khalq) menjelaskan bahwa para ulama salaf memahami hadits ini secara hakiki, bukan majazi.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah menegaskan bahwa kita wajib mengimani berita ini sebagaimana datangnya, tanpa menanyakan "bagaimana" karena itu di luar jangkauan akal manusia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk dalam berita-berita ghaib yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat. Ketika Abu Dzar radhiyallahu 'anhu membonceng di belakang Nabi ﷺ di atas keledai, beliau melihat matahari hampir tenggelam lalu bertanya, "Tahukah kamu di mana matahari ini terbenam?" Abu Dzar menjawab dengan adab seorang sahabat, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya ia terbenam di mata air yang hangat (Hamiyah)."

Makna "عين حامية" (mata air yang hangat):

  1. Pendapat mayoritas ulama salaf (seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, dan lainnya) - sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir - bahwa ini adalah sumber mata air yang hangat atau berlumpur hitam di ujung barat bumi. Ini sesuai dengan ayat Al-Qur'an yang menyebut "عين حمئة" (mata air berlumpur hitam) dan hadits menyebut "عين حامية" (mata air hangat). Perbedaan ini karena riwayat yang berbeda, namun maknanya saling mendekati.
  2. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (Kitab Bad'ul Khalq, Bab Sifat asy-Syams) bahwa matahari setelah terbenam bersujud di bawah 'Arsy, lalu meminta izin untuk terbit kembali. Ini menunjukkan bahwa matahari benar-benar memiliki tempat terbenam yang nyata.
  3. Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 112) menegaskan bahwa hadits ini shahih dan wajib diimani sebagaimana adanya.

Peringatan dari Takwil yang Salah:

Sebagian orang di zaman modern mencoba menakwilkan hadits ini dengan teori astronomi bahwa matahari tidak benar-benar terbenam di sumber mata air. Namun para ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa (6/586) dan Ibnu Qayyim dalam Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah menegaskan bahwa:

  • Kita tidak boleh menolak berita shahih dari Rasul ﷺ hanya karena bertentangan dengan teori manusia yang terbatas.
  • Yang dimaksud "mata air" bisa jadi adalah tempat di ujung barat bumi yang terlihat seperti mata air dari pandangan manusia, atau memang hakikatnya demikian.
  • Yang penting adalah mengimani bahwa matahari memiliki tempat terbenam yang nyata, sebagaimana ia memiliki tempat terbit.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu - yang merupakan sahabat yang sangat jujur dan zuhud - bahwa suatu hari ia sedang membonceng di belakang Rasulullah ﷺ. Ketika itu matahari hampir tenggelam, dan Nabi ﷺ memanfaatkan momen tersebut untuk mengajarkan tentang kebesaran Allah.

Abu Dzar berkata, "Aku berada di belakang Rasulullah ﷺ di atas keledai, sementara matahari hampir tenggelam. Beliau bertanya, 'Tahukah kamu di mana matahari ini terbenam?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya ia terbenam di mata air yang hangat.'"

Kemudian dalam riwayat lain (Shahih al-Bukhari no. 3199), Nabi ﷺ melanjutkan, "Dan sesungguhnya ia (matahari) diberi izin untuk terbit kembali. Apabila ia terbit dari tempat terbenamnya (di akhir zaman), maka itulah saat tidak bermanfaat lagi iman bagi orang yang belum beriman sebelumnya."

Dari kisah ini, kita belajar:

  1. Adab seorang murid terhadap gurunya: Abu Dzar tidak menjawab dengan sombong, tapi menyerahkan ilmu kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Setiap fenomena alam adalah tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan.
  3. Berita tentang matahari ini juga berkaitan dengan tanda-tanda kiamat, yaitu ketika matahari terbit dari barat.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib mengimani semua berita yang datang dari Rasulullah ﷺ, meskipun akal kita belum mampu menjangkaunya secara sempurna.
  2. Jangan menakwilkan hadits-hadits tentang alam ghaib hanya karena bertentangan dengan teori sains modern yang masih terus berubah.
  3. Ambil pelajaran bahwa setiap ciptaan Allah memiliki aturan dan tempat yang telah ditetapkan, termasuk matahari yang beredar pada porosnya.
  4. Perbanyak renungan tentang kebesaran Allah melalui fenomena alam seperti terbit dan terbenamnya matahari.
  5. Jaga adab dalam bertanya dan belajar, seperti adab Abu Dzar yang menjawab "Allahu wa Rasuluhu a'lam" (Allah dan Rasul-Nya lebih tahu).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.