Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan adalah bagian dari hadits panjang tentang turunnya wahyu, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini menjelaskan makna firman Allah dalam QS. Saba' [34]: 23, yaitu tentang keadaan para malaikat ketika Allah ﷻ berfirman. Ketika Allah berfirman, para malaikat mendengar suara seperti rantai besi di atas batu yang licin, lalu mereka pingsan karena takut dan kagum. Setelah "teror" (faza') itu dihilangkan dari hati mereka, mereka bertanya kepada sesama malaikat: "Apa yang difirmankan Tuhan kalian?" Maka dijawab: "Kebenaran, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Hadits ini menjelaskan bagaimana wahyu turun dan bagaimana para malaikat menerimanya dengan penuh kekhusyukan.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an:
Firman Allah ﷻ dalam QS. Saba' [34]: 23:
وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ ۚ حَتَّىٰ إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
"Dan syafaat di sisi-Nya tidak bermanfaat, kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?' Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.'"
2. Hadits Riwayat Abu Dawud:
Hadits yang Anda sebutkan (Sunan Abu Dawud, no. 3989) diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat lain yang lebih lengkap (Shahih al-Bukhari no. 4800), Abu Hurairah berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ
"Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langit, maka para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, (suaranya) seperti rantai besi di atas batu yang licin."
Lalu beliau ﷺ melanjutkan: "Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?' Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.'"
3. Kaitan dengan Ulama:
- Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan tentang para malaikat yang mendengar wahyu dari Allah ﷻ. Beliau membawakan hadits Abu Hurairah ini sebagai penafsiran ayat tersebut.
- Imam al-Bukhari membawakan hadits ini dalam Shahih-nya pada Kitab Tafsir, Bab QS. Saba', sebagai penjelasan makna ayat.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa para malaikat pingsan karena mendengar firman Allah, dan setelah "faza'" (teror/takut) itu hilang, mereka saling bertanya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang proses turunnya wahyu dan bagaimana para malaikat menerimanya. Berikut penjelasan rincinya:
1. Makna "Fuzz'i'a 'an qulubihim" (فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ)
Kata fuzz'i'a berasal dari kata faza'a yang berarti "menakut-nakuti" atau "membuat takut". Dalam konteks ayat ini, maknanya adalah "dihilangkan ketakutan dari hati mereka". Ini menunjukkan bahwa ketika Allah ﷻ berfirman, para malaikat merasakan ketakutan dan kekaguman yang luar biasa, sehingga mereka pingsan. Setelah ketakutan itu dihilangkan, barulah mereka sadar kembali.
2. Penjelasan Ibnu Katsir
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika Allah ﷻ berfirman, para malaikat mendengar suara yang sangat agung. Mereka merasa takut dan kagum, sehingga mereka pingsan. Kemudian ketika ketakutan itu dihilangkan, mereka bertanya kepada sesama malaikat yang lebih dekat dengan Allah: "Apa yang difirmankan Tuhan kalian?" Maka dijawab: "Kebenaran." Ini menunjukkan bahwa wahyu yang turun dari Allah selalu berisi kebenaran.
3. Penjelasan Imam al-Bukhari dan Ibnu Hajar
Imam al-Bukhari membawakan hadits ini dalam kitab tafsirnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keagungan Allah ﷻ dan betapa para malaikat yang merupakan makhluk yang mulia pun merasa takut dan kagum ketika mendengar firman-Nya. Ini menjadi pelajaran bagi manusia tentang kebesaran Allah.
4. Hikmah dari Hadits Ini
- Keagungan firman Allah: Suara firman Allah sangat agung, sampai-sampai para malaikat pingsan karenanya.
- Kebenaran wahyu: Wahyu yang turun selalu berisi kebenaran, tidak ada kebatilan di dalamnya.
- Adab mendengar Al-Qur'an: Jika para malaikat saja khusyuk dan takut ketika mendengar firman Allah, maka manusia seharusnya lebih khusyuk lagi ketika membaca dan mendengar Al-Qur'an.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ bersabda: 'Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langit, maka para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, (suaranya) seperti rantai besi di atas batu yang licin. Maka ketika ketakutan telah dihilangkan dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar."'"
Kemudian Abu Hurairah berkata: "Maka setan-setan (yang mencuri berita) saling mendengar. Mereka berkata: 'Fulan berkata demikian, fulan berkata demikian.' Lalu setan itu mendatangi dukun-dukun dan membisikkan kepada mereka, tetapi para dukun itu menambahkan seratus kebohongan di samping satu kebenaran itu." (HR. al-Bukhari no. 4800)
Hikmah dari kisah ini: Wahyu dari Allah sangat dijaga dan tidak bisa dicampuri oleh setan. Para malaikat menerimanya dengan penuh kekhusyukan, dan setan tidak mampu mencuri berita wahyu kecuali hanya potongan kecil yang kemudian dicampur dengan kebohongan oleh para dukun. Ini menunjukkan bahwa kebenaran wahyu tetap murni dan terjaga.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang murni dan terjaga — tidak ada kebatilan di dalamnya.
- Khusyuklah ketika membaca dan mendengar Al-Qur'an — jika para malaikat saja takut dan kagum mendengar firman Allah, maka kita seharusnya lebih merendahkan hati.
- Jauhi segala bentuk perdukunan dan ramalan — karena berita yang mereka sampaikan hanyalah potongan kecil yang dicampur dengan kebohongan.
- Perbanyak membaca Al-Qur'an dengan tadabbur — renungkan maknanya agar hati kita semakin dekat kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.