Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Saba' yang disebut dalam Al-Qur'an (QS. Saba' [34]: 15) bukanlah nama tanah/negeri dan bukan nama wanita, melainkan nama seorang lelaki keturunan Arab yang memiliki sepuluh anak. Enam anaknya menetap di Yaman (disebut tayammana / ke arah Yaman) dan empat menetap di Syam (disebut tasyaa'ama / ke arah Syam). Dari mereka inilah muncul kabilah-kabilah Arab yang dikenal.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Saba' [34]: 15
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
"Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab al-Huruf wa al-Qira'at, no. 3988, dari sahabat Farwah bin Musayk al-Ghutayfi (ada riwayat menyebut al-Ghathafani). Sanadnya: Utsman bin Abi Syaibah dan Harun bin Abdullah → Abu Usamah → Al-Hasan bin al-Hakam an-Nakha'i → Abu Sabrah an-Nakha'i → Farwah bin Musayk.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim ketika menafsirkan QS. Saba' [34]: 15 menyebutkan riwayat ini dan menjelaskan bahwa Saba' adalah nama seorang lelaki yang kemudian menjadi nama kabilah/kaum.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga membahas riwayat-riwayat tentang Saba' dan menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang apakah Saba' itu nama negeri, nama kabilah, atau nama lelaki.
- Adz-Dzahabi dan para ulama nasab menyebutkan Saba' dalam silsilah kabilah Arab.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Ketika Nabi ﷺ ditanya tentang Saba' — apakah itu nama tanah atau nama wanita — beliau menegaskan bahwa Saba' adalah nama seorang lelaki. Ini penting karena sebagian orang di masa itu mengira Saba' adalah nama negeri (seperti yang dipahami dari konteks ayat "masaakinahum" / tempat kediaman mereka), atau nama seorang wanita.
Penjelasan para ulama:
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Saba' adalah nama seorang lelaki dari keturunan Arab, dan dari keturunannya lahirlah kabilah-kabilah Arab yang terkenal. Beliau menyebutkan bahwa para ulama nasab (ahli silsilah) berbeda pendapat tentang nasab Saba' — sebagian mengatakan ia adalah Saba' bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan. Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat yang ada.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa Saba' adalah nama lelaki, bukan nama negeri. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam Al-Qur'an, penyebutan "masaakinahum" (tempat kediaman mereka) tidak berarti Saba' adalah nama tempat, melainkan tempat kediaman kaum Saba', yaitu keturunan Saba'.
Enam anak ke Yaman, empat ke Syam:
Nabi ﷺ menyebutkan bahwa dari sepuluh anak Saba', enam menetap di Yaman dan empat menetap di Syam. Para ulama nasab menyebutkan bahwa enam kabilah yang menetap di Yaman adalah: Azd, Kindah, Himyar, Asy'ariyyun, Anmar, dan Madzhij. Sedangkan empat yang menetap di Syam adalah: Lakhm, Judzam, Ghassan, dan 'Amilah. Ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar ketika membahas nasab Arab.
Hikmah penyebutan dalam hadits:
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki pengetahuan tentang nasab dan sejarah Arab, dan beliau menjawab pertanyaan dengan jelas dan tegas. Ini juga menunjukkan bahwa para sahabat bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur'an untuk memahami maknanya.
Catatan tentang sanad:
Hadits ini memiliki sanad yang dibahas oleh para ulama. Imam Abu Dawud meriwayatkannya, dan Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Shahih Sunan Abi Dawud menilai hadits ini hasan atau shahih berdasarkan syawahid (penguat) dari riwayat lain. Ada riwayat serupa dari Ibnu Abbas dan lainnya yang memperkuat makna hadits ini.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Farwah bin Musayk al-Ghutayfi datang kepada Nabi ﷺ untuk bertanya tentang berbagai hal. Di tengah majelis, seorang lelaki bertanya: "Wahai Rasulullah, beritahu kami tentang Saba' — apakah itu tanah atau wanita?"
Pertanyaan ini muncul karena dalam Al-Qur'an disebutkan "masaakinahum" (tempat kediaman mereka), sehingga sebagian orang mengira Saba' adalah nama negeri. Ada juga yang mengira Saba' adalah nama seorang wanita — mungkin karena nama "Saba'" bisa digunakan untuk perempuan.
Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: "Bukan tanah dan bukan wanita, tetapi ia adalah seorang lelaki yang memiliki sepuluh anak dari Arab: enam di Yaman dan empat di Syam."
Ibnu Katsir menyebutkan bahwa jawaban Nabi ﷺ ini menjadi rujukan para ulama nasab dalam menentukan silsilah kabilah-kabilah Arab. Dari enam anak yang ke Yaman lahirlah kabilah-kabilah besar seperti Azd (yang kemudian melahirkan Aus dan Khazraj di Madinah), dan dari empat yang ke Syam lahirlah kabilah-kabilah seperti Ghassan dan Lakhm.
Hikmahnya: Islam memperhatikan nasab dan sejarah, dan Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya untuk memahami Al-Qur'an dengan penjelasan yang benar, bukan dengan dugaan.
Kesimpulan Praktis
- Saba' adalah nama lelaki, bukan nama tanah atau wanita, sebagaimana ditegaskan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
- Dari Saba' lahirlah sepuluh anak: enam menetap di Yaman dan empat di Syam, yang menjadi asal kabilah-kabilah Arab.
- Memahami Al-Qur'an harus dengan penjelasan Nabi ﷺ dan para ulama, bukan dengan dugaan atau tafsir tanpa ilmu.
- Hadits ini menunjukkan luasnya ilmu Nabi ﷺ tentang nasab dan sejarah, dan menjadi dalil bagi para ulama nasab dalam menentukan silsilah.
- Hendaknya kita merujuk kepada ulama dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan sejarah dan nasab, seperti penjelasan Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.