Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Abu Dawud no. 3979 ini termasuk bab perbedaan qira'at (cara membaca) Al-Qur'an yang dibolehkan, khususnya pada kata "ضُعْف" dalam QS. Ar-Rum [30]: 54. Nabi ﷺ membacanya dengan "ضُعْف" (dengan dhammah pada huruf dhad) , sedangkan sebagian sahabat membacanya "ضَعْف" (dengan fathah) . Keduanya adalah qira'at yang sah dan mutawatir, dan tidak boleh saling mencela. Ini menunjukkan keluasan rahmat Allah dalam menerima variasi bacaan yang shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Ar-Rum [30]: 54
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat."
Hadits terkait:
- Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim meriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab dan Ibnu Mas'ud bahwa Nabi ﷺ membacanya dengan "ضُعْف" (dhammah). Sebagian sahabat lain seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ubay bin Ka'b, Ibnu Mas'ud, Abu Darda', Ibnu Abbas, dan Aisyah — sebagaimana dinukil Ibnu Katsir dalam tafsirnya — membacanya dengan "ضَعْف" (fathah). Keduanya mutawatir.
Kaitan ulama:
- Imam Abu Dawud menempatkan hadits ini dalam Kitab Al-Huruf wa Al-Qira'at, menunjukkan bahwa bab ini membahas variasi bacaan yang shahih.
- Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan kedua qira'at ini dan menyatakan keduanya sah serta maknanya berdekatan.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan ini termasuk ahruf sab'ah (tujuh huruf/dialek) yang diturunkan Allah sebagai keringanan bagi umat.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Hadits ini sangat singkat — hanya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca "مِن ضُعْفٍ" dengan dhammah pada huruf dhad. Ini adalah bagian dari riwayat yang menegaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca dengan satu wajah qira'at, sementara sahabat lain membaca dengan wajah lain yang juga shahih.
Pemahaman ulama:
- Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata "ضَعْف" dan "ضُعْف" adalah dua qira'at mutawatir. Maknanya sama: kelemahan. Beliau menegaskan bahwa perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan bahasa Arab dan keringanan dari Allah.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat pernah berselisih tentang bacaan tertentu, lalu mereka mengadukan kepada Nabi ﷺ, dan beliau membenarkan keduanya seraya bersabda: "Keduanya benar." Ini menunjukkan bahwa variasi qira'at yang mutawatir tidak boleh dijadikan sebab perpecahan.
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa qira'at yang mutawatir wajib diterima, dan tidak boleh mengingkari salah satunya.
- Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dengan berbagai wajah qira'at untuk memudahkan umat dan memperkaya makna.
Perbedaan pendapat:
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar bahwa kedua qira'at ini shahih dan mutawatir. Yang menjadi catatan: tidak boleh membaca qira'at yang tidak mutawatir atau yang menyalahi mushaf Utsmani. Qira'at "ضَعْف" dan "ضُعْف" keduanya tercatat dalam mushaf dan riwayat yang sah.
Kesimpulan ilmiah:
Hadits ini mengajarkan kita untuk menghormati variasi bacaan yang shahih, tidak mencela saudara yang membaca dengan qira'at berbeda, dan memahami bahwa perbedaan ini adalah rahmat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khaththab pernah mendengar Hisyam bin Hakim membaca Surah Al-Furqan dengan bacaan yang berbeda dari yang biasa dibaca Umar. Umar pun menegurnya dan menariknya menghadap Nabi ﷺ. Setelah keduanya membacakan bacaan masing-masing, Nabi ﷺ bersabda:
"Demikianlah Al-Qur'an diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan dengan tujuh huruf (dialek). Maka bacalah dengan yang mudah bagi kalian."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hikmah: Perbedaan qira'at yang shahih bukanlah perselisihan, melainkan keluasan dan keringanan dari Allah. Sikap salaf adalah menerima dan tidak saling mencela.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Al-Qur'an dengan qira'at yang mutawatir — seperti qira'at "ضَعْف" atau "ضُعْف" — keduanya sah.
- Jangan mencela saudara yang membaca dengan qira'at berbeda yang shahih.
- Pelajari ilmu qira'at dari guru yang bersanad agar tidak salah dalam membaca.
- Renungkan makna ayat: manusia diciptakan dari kelemahan, lalu diberi kekuatan, lalu kembali lemah — ini mengajarkan tawadhu dan tidak sombong.
- Jauhi ghuluw dalam masalah qira'at; cukup ikuti yang mutawatir dan tinggalkan yang syadz.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.