Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3974 tentang Larangan membunuh pemberi salam karena harta dunia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan seorang lelaki yang mengucapkan salam kepada sekelompok Muslim, namun mereka justru membunuhnya karena menginginkan kambing miliknya. Lalu turunlah ayat QS. An-Nisa [4]: 94 sebagai teguran keras. Pelajarannya: salam adalah tanda keislaman yang harus dihormati, dan tidak boleh menuduh seseorang bukan mukmin hanya karena mencari keuntungan duniawi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. An-Nisa [4]: 94

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ إِذَا ضَرَبْتُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَتَبَيَّنُوا۟ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَنْ أَلْقَىٰٓ إِلَيْكُمُ ٱلسَّلَٰمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فَعِندَ ٱللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ ۚ كَذَٰلِكَ كُنتُم مِّن قَبْلُ فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah, maka telitilah dengan jelas, dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: 'Engkau bukan seorang mukmin,' karena kamu mencari keuntungan kehidupan dunia. Padahal di sisi Allah ada banyak harta rampasan. Demikianlah keadaanmu dahulu, lalu Allah memberi karunia kepadamu, maka telitilah dengan jelas. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Huruf wa Al-Qira'at, no. 3974, dari jalur Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, melalui 'Amr bin Dinar dari 'Atha' bin Abi Rabah.
  • Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari jalur Ibnu 'Abbas dengan lafaz yang berdekatan, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan sebab turunnya ayat ini dengan kisah ini.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani membahasnya dalam Fathul Bari pada bab tafsir.
  • Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim tentang keutamaan mengucapkan salam dan larangan tergesa-gesa dalam menuduh.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Seorang lelaki penggembala kambing bertemu dengan pasukan Muslim. Ia mengucapkan "As-salamu 'alaikum" sebagai tanda bahwa ia seorang Muslim dan tidak ingin diperangi. Namun sebagian pasukan tetap membunuhnya karena tergiur kambing-kambingnya. Maka Allah menurunkan ayat di atas sebagai teguran.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

  1. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mengandung larangan keras menuduh seseorang bukan mukmin padahal ia telah menampakkan tanda keislaman (salam). Beliau menegaskan bahwa niat buruk mencari harta dunia tidak boleh mengalahkan kejelasan syariat.
  2. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa salam adalah syiar Islam yang cukup untuk menghukumi seseorang secara zahir sebagai Muslim, selama tidak ada bukti yang menunjukkan sebaliknya.
  3. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan para sahabat dalam kisah ini adalah ijtihad yang salah, dan Allah menegur mereka. Ini menunjukkan bahwa sahabat pun bisa keliru, namun mereka segera kembali kepada kebenaran ketika teguran datang.
  4. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa hukum asal seseorang adalah Muslim jika ia menampakkan syiar Islam, dan tidak boleh mencari-cari alasan untuk menuduhnya kafir.
  5. Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan tabayyun (verifikasi) sebelum mengambil tindakan, terutama yang menyangkut nyawa dan kehormatan seseorang.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah lelaki tersebut benar-benar Muslim atau hanya menampakkan salam karena takut. Namun jumhur ulama (mayoritas) dari daftar di atas — termasuk Ibnu Katsir, an-Nawawi, dan Ibnu Hajar — berpendapat bahwa zahirnya ia Muslim, dan itulah yang menjadi dasar teguran Allah. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur, karena ayat dan hadits menilai berdasarkan apa yang tampak, bukan berdasarkan prasangka.

Story Telling

Kisah lengkapnya:

Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan: Dahulu ada seorang lelaki dari Bani Sulaim yang menggembala kambingnya di sebuah lembah. Ketika pasukan Muslim yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu melewati daerah itu, lelaki tersebut merasa terancam. Ia segera mengucapkan "As-salamu 'alaikum" sebagai tanda bahwa ia Muslim dan tidak ingin diperangi.

Namun salah satu pasukan — dalam riwayat lain disebutkan bernama Mirdas bin Nahik — tetap menyerangnya karena menginginkan kambing-kambingnya. Lelaki itu terbunuh, dan kambingnya diambil.

Ketika berita ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau sangat marah dan bersabda: "Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan 'As-salamu 'alaikum'?" Lalu turunlah ayat QS. An-Nisa [4]: 94 sebagai teguran.

Hikmah:

  • Salam adalah hak seorang Muslim yang wajib dihormati.
  • Ketergesaan dalam mengambil keputusan bisa menjerumuskan pada dosa besar.
  • Harta dunia tidak boleh menjadi alasan untuk melanggar syariat.
  • Tabayyun (verifikasi) adalah prinsip penting dalam Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Hormati salam — jika seseorang mengucapkan salam, anggap ia Muslim secara zahir, jangan menuduhnya bukan mukmin.
  2. Jangan tergesa-gesa dalam menghukumi atau mengambil tindakan, terutama yang menyangkut nyawa dan kehormatan.
  3. Jangan jadikan harta dunia sebagai alasan melanggar syariat.
  4. Tabayyun — verifikasi dulu sebelum bertindak, sebagaimana perintah Allah dalam ayat ini.
  5. Bertaubat dan kembali kepada kebenaran jika keliru, sebagaimana para sahabat menerima teguran Allah dengan lapang dada.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?