Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak boleh meyakini tempat, rumah, atau lokasi tertentu sebagai penyebab datangnya keberkahan atau kesialan. Ketika seorang sahabat mengeluhkan rumahnya yang baru terasa "kurang berkah", Nabi ﷺ memerintahkan untuk meninggalkan rumah itu dengan sikap menjauhinya karena keburukannya, sekaligus menolak keyakinan takhayul bahwa rumah itu sendiri yang mendatangkan kesialan. Yang menentukan keberkahan hanyalah Allah ﷻ, bukan tempat.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an:
Firman Allah ﷻ:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
QS. Hud [11]: 6
"Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya."
Ayat ini menegaskan bahwa rezeki, jumlah, dan keberkahan bukan ditentukan oleh tempat atau rumah, melainkan oleh ketetapan Allah ﷻ. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah menjamin rezeki seluruh makhluk, sehingga tidak ada tempat yang "menahan" rezeki dan tidak ada tempat yang "memberi" rezeki dengan sendirinya.
Dalil Hadits:
Hadits yang sedang kita bahas, diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam Sunan Abu Dawud no. 3924, Kitab Ramalan dan Takhayul, Bab Tentang Takhayul.
Hadits lain yang semakna, dari Abdullah bin Umar, Nabi ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
HR. Al-Bukhari dan Muslim
"Tidak ada penularan penyakit (yang datang dengan sendirinya) dan tidak ada takhayul (kesialan)."
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar penolakan segala bentuk keyakinan bahwa benda, tempat, atau waktu dapat mendatangkan kesialan dengan sendirinya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini berisi pengaduan seorang sahabat kepada Nabi ﷺ. Ia menceritakan bahwa dahulu ia tinggal di sebuah rumah yang di sana jumlah keluarganya banyak dan hartanya pun banyak. Kemudian ia pindah ke rumah lain, dan di rumah baru itu jumlah keluarganya menjadi sedikit dan hartanya pun berkurang. Ucapan sahabat ini mengandung kekhawatiran bahwa rumah barunya itu membawa kesialan atau menjadi sebab berkurangnya keberkahan.
Maka Nabi ﷺ bersabda: "ذَرُوهَا ذَمِيمَةً" — "Tinggalkanlah ia, karena ia tercela."
Imam Abu Dawud memasukkan hadits ini dalam Kitab Ramalan dan Takhayul, menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan dengan bab penolakan takhayul (thiyarah). Para ulama yang menjelaskan hadits ini — seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari — memahami bahwa perintah "tinggalkanlah" di sini bermakna: tinggalkan rumah itu dan jangan tinggal di sana, bukan karena rumahnya mendatangkan kesialan, tetapi justru untuk memutus keyakinan takhayul itu sendiri.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa thiyarah (takhayul) adalah termasuk syirik kecil karena menggantungkan hati kepada selain Allah. Beliau menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan meninggalkan rumah tersebut agar hati sahabat tidak bergantung pada keyakinan bahwa rumah itu penyebab kesialan. Jadi, perintah itu justru merupakan obat bagi penyakit takhayul, bukan pengakuan bahwa rumah bisa mendatangkan kesialan.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Al-Qaul as-Sadid menjelaskan bahwa thiyarah dilarang karena mengandung ketergantungan hati kepada makhluk dan keyakinan bahwa makhluk dapat memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah. Beliau menegaskan bahwa seorang Muslim wajib menggantungkan hatinya hanya kepada Allah ﷻ.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya berpindah dari suatu tempat jika dirasa tidak membawa kebaikan, namun tidak boleh meyakini bahwa tempat itu sendiri yang mendatangkan kesialan. Beliau membedakan antara thiyarah (keyakinan takhayul) yang haram dan tafa'ul (berharap baik) yang dibolehkan.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama memahami "ذَرُوهَا ذَمِيمَةً" sebagai perintah untuk benar-benar meninggalkan rumah tersebut secara fisik. Sebagian lain memahami sebagai perintah untuk meninggalkan keyakinan takhayul terhadap rumah itu. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dirajihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnul Qayyim — adalah bahwa Nabi ﷺ memerintahkan meninggalkan rumah itu sekaligus meninggalkan keyakinan takhayul, karena keduanya saling berkaitan: dengan pindah, hati sahabat akan terbebas dari keyakinan bahwa rumah itu penyebab kesialan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang merasa sial karena sesuatu. Beliau menjawab dengan tegas bahwa thiyarah itu batil dan tidak boleh diyakini. Beliau sendiri dikenal sangat teguh dalam menolak segala bentuk takhayul, sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat al-Hanabilah karya Ibn Abi Ya'la. Suatu ketika ada orang yang mengatakan "semoga Allah melindungimu dari kesialan", Imam Ahmad menegaskan bahwa tidak ada kesialan yang datang dari makhluk, semua ketentuan ada di tangan Allah ﷻ.
Hikmahnya: para salafus shalih sangat menjaga tauhid mereka dari segala bentuk keyakinan yang menggantungkan hati kepada selain Allah, termasuk takhayul terhadap tempat, angka, hari, atau benda tertentu.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meyakini tempat, rumah, atau lokasi tertentu sebagai penyebab datangnya kesialan atau keberkahan. Semua ketentuan ada di tangan Allah ﷻ.
- Jika merasa tidak nyaman di suatu tempat, boleh berpindah, tetapi jangan karena keyakinan takhayul — melainkan karena pertimbangan yang wajar dan tawakkal kepada Allah.
- Jaga tauhid dari thiyarah, karena thiyarah termasuk syirik kecil yang dapat merusak keimanan.
- Gantungkan hati hanya kepada Allah dalam mencari rezeki, keberkahan, dan ketenangan.
- Perbanyak doa dan dzikir untuk menolak waswas takhayul, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.