Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan adalah bagian dari riwayat tentang seorang sahabat yang shalatnya tidak benar, lalu Nabi ﷺ mengajarinya tata cara shalat yang benar. Tambahan dalam riwayat Abu Dawud ini menegaskan bahwa orang yang benar-benar jujur dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti ajaran Nabi ﷺ tentang shalat, maka ia akan beruntung dan masuk surga. Ini menunjukkan keutamaan besar shalat yang dikerjakan sesuai tuntunan, serta dorongan untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari dan mengamalkannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah penggalan dari hadits panjang yang dikenal dengan "Hadits Musii' Shalatuh" (orang yang jelek shalatnya). Riwayat lengkapnya terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam Sunan Abu Dawud, hadits ini diriwayatkan dengan sanad dari Abu Suhail Nafi' bin Malik bin Abi 'Amir, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks lengkap hadits dalam Shahih al-Bukhari (no. 757) dan Shahih Muslim (no. 397) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى وَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ، فَجَاءَ فَسَلَّمَ، فَقَالَ: "ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ"، فَرَجَعَ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ، فَقَالَ: "ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ" ثَلَاثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ: "إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا"
Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki masuk masjid lalu shalat, sementara Rasulullah ﷺ berada di salah satu sudut masjid. Orang itu datang lalu memberi salam. Nabi ﷺ bersabda: 'Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.' Orang itu kembali dan shalat, lalu datang memberi salam. Nabi ﷺ bersabda lagi: 'Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.' (Diulang) tiga kali. Lalu orang itu berkata: 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini, maka ajarkanlah aku.' Nabi ﷺ bersabda: 'Apabila engkau berdiri hendak shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat Al-Qur'an yang mudah bagimu, kemudian rukuklah sampai engkau thuma'ninah dalam rukuk, lalu bangkitlah sampai engkau berdiri tegak, kemudian sujudlah sampai engkau thuma'ninah dalam sujud, lalu bangkitlah dan duduklah dengan thuma'ninah, dan lakukanlah itu dalam seluruh shalatmu.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun tambahan dalam riwayat Abu Dawud yang Anda tanyakan: "أَفْلَحَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ" — "Dia akan beruntung, demi ayahnya, jika ia berkata jujur; ia akan masuk surga, demi ayahnya, jika ia berkata jujur." Ini adalah tambahan yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (4/107) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya thuma'ninah dalam shalat, dan bahwa orang yang tidak thuma'ninah maka shalatnya tidak sah. Beliau juga menyebutkan bahwa tambahan "demi ayahnya" adalah bentuk ungkapan yang lazim di kalangan Arab, bukan berarti bersumpah dengan selain Allah secara hakiki.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab shalat karena mengajarkan rukun-rukun shalat secara praktis. Para ulama dari kalangan yang kami rujuk menjelaskan beberapa faedah penting:
1. Wajibnya Thuma'ninah dalam Shalat
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad (1/214) menjelaskan bahwa thuma'ninah adalah salah satu rukun shalat yang tidak sah shalat tanpanya. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa thuma'ninah dalam rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud adalah wajib. Ini berdasarkan perintah Nabi ﷺ kepada orang yang jelek shalatnya untuk mengulang shalatnya sampai ia melakukan thuma'ninah.
2. Keutamaan Jujur dan Bersungguh-sungguh dalam Belajar
Tambahan dalam riwayat Abu Dawud: "أَفْلَحَ وَأَبِيهِ إِنْ صَدَقَ" — "Dia akan beruntung, demi ayahnya, jika ia berkata jujur" — menunjukkan bahwa orang yang jujur dalam pengakuannya bahwa ia tidak bisa shalat dengan benar, lalu bersungguh-sungguh belajar dari Nabi ﷺ, maka ia akan beruntung dan masuk surga. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (2/234) menjelaskan bahwa kejujuran dalam menuntut ilmu adalah kunci keberhasilan. Orang yang mengaku tidak tahu lalu bertanya kepada ahlinya, maka ia akan selamat.
3. Cara Mengajarkan Ilmu dengan Praktik
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (2/279) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mengulang-ulang pertanyaan dan pengajaran sampai murid benar-benar paham. Nabi ﷺ tidak memarahi sahabat tersebut, tetapi dengan sabar mengulang perintahnya tiga kali, lalu memberikan pengajaran yang detail dan praktis.
4. Sumpah dengan "Demi Ayahnya"
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (11/145) menjelaskan bahwa ungkapan "وَأَبِيهِ" (demi ayahnya) dalam hadits ini adalah kebiasaan lisan orang Arab yang tidak dimaksudkan sebagai sumpah syar'i. Ini bukan termasuk larangan bersumpah dengan selain Allah karena ini hanya ucapan yang sudah menjadi kebiasaan, bukan sumpah yang diyakini. Namun, kita tetap dilarang bersumpah dengan selain Allah berdasarkan hadits-hadits lain.
5. Shalat yang Benar adalah Kunci Surga
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya (QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2) menjelaskan bahwa ayat "قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ" — "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya" — sejalan dengan hadits ini. Keberuntungan dan surga terkait erat dengan kualitas shalat seseorang.
Story Telling
Ada kisah menarik tentang sahabat yang diajari shalat oleh Nabi ﷺ ini. Ia adalah seorang laki-laki yang jujur dan rendah hati. Ketika Nabi ﷺ menyuruhnya mengulang shalat tiga kali, ia tidak marah atau membantah. Ia justru berkata dengan penuh kejujuran: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa shalat lebih baik dari ini. Maka ajarkanlah aku."
Ini adalah pelajaran besar tentang adab murid kepada guru. Ia tidak merasa malu untuk mengakui ketidaktahuannya. Ia tidak berdebat atau menyalahkan gurunya. Ia justru merendahkan diri dan meminta diajari.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa kejujuran dan kerendahan hati dalam menuntut ilmu adalah sebab utama seseorang mendapatkan pemahaman yang benar. Orang yang sombong dan merasa sudah bisa, maka ia tidak akan pernah bertambah ilmunya.
Kesimpulan Praktis
- Pelajari tata cara shalat yang benar sesuai tuntunan Nabi ﷺ, terutama thuma'ninah dalam setiap rukun.
- Jujurlah dalam menuntut ilmu — jika tidak tahu, bertanyalah kepada ahlinya, jangan malu.
- Bersungguh-sungguhlah dalam memperbaiki shalat, karena shalat yang benar adalah kunci keberuntungan dan surga.
- Hindari bersumpah dengan selain Allah, meskipun ungkapan "demi ayahku" dalam hadits ini adalah kebiasaan Arab yang tidak dimaksudkan sebagai sumpah syar'i.
- Sabar dalam mengajar — teladani Nabi ﷺ yang mengulang pengajaran sampai muridnya paham.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.