Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengucapkan kata-kata baik sebagai bentuk optimisme (tafa'ul) ketika mendengar kalimat yang menyenangkan dari seseorang. Ini bukanlah mempercayai takhayul atau ramalan, melainkan mengambil kabar baik (al-fa'l) yang dibolehkan dalam Islam. Islam melarang tathayyur (merasa sial karena sesuatu), tetapi membolehkan tafa'ul (optimisme terhadap kata atau hal yang baik).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Ramalan dan Takhayul, Bab Tentang Takhayul, nomor 3917, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ سَمِعَ كَلِمَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَقَالَ "أَخَذْنَا فَأْلَكَ مِنْ فِيكَ"
Terjemahan: "Dari Abu Hurairah: Bahwa Rasulullah ﷺ mendengar sebuah kata, lalu kata itu membuatnya kagum, maka beliau bersabda: 'Kami mengambil omen baik dari mulutmu.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan larangan tathayyur:
QS. Al-A'raf [7]: 131
فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Terjemahan: "Maka apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata: 'Ini adalah karena kami.' Dan jika mereka ditimpa keburukan, mereka merasa sial karena Musa dan orang-orang yang bersamanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu ditetapkan oleh Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencela orang-orang yang merasa sial (tathayyur) terhadap Nabi Musa dan pengikutnya, padahal segala sesuatu terjadi atas ketetapan Allah.
Hadits lain yang relevan dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَكِنْ يُعْجِبُنِي الْفَأْلُ
Terjemahan: "Tidak ada penularan penyakit (tanpa izin Allah) dan tidak ada tathayyur (merasa sial), akan tetapi al-fa'l (optimisme) membuatku kagum."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama membedakan antara tathayyur (yang dilarang) dan tafa'ul (yang dibolehkan). Tathayyur adalah merasa sial karena sesuatu yang dilihat atau didengar, sedangkan tafa'ul adalah berharap baik karena kata atau hal yang baik.
Penjelasan Rinci
Hadits ini perlu dipahami dengan cermat agar tidak disalahpahami sebagai pembenaran takhayul. Para ulama yang tercantum dalam rujukan menjelaskan beberapa poin penting:
Pertama, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Islam membedakan antara dua hal: tathayyur (طِيَرَة) dan tafa'ul (فَأْل). Tathayyur adalah merasa sial atau pesimis terhadap sesuatu yang didengar, dilihat, atau dialami — ini dilarang. Sedangkan tafa'ul adalah optimisme terhadap kata atau tanda yang baik — ini dibolehkan bahkan dianjurkan.
Kedua, Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa al-fa'l (optimisme) adalah bagian dari fitrah manusia yang baik, karena manusia secara alami cenderung berharap kepada kebaikan. Nabi ﷺ menyukai optimisme dan melarang pesimisme, karena optimisme membawa harapan kepada Allah, sedangkan pesimisme membawa kepada kesempitan dan prasangka buruk kepada Allah.
Ketiga, dalam hadits ini, Nabi ﷺ mendengar sebuah kalimat yang baik dari seseorang, lalu beliau mengucapkan "أَخَذْنَا فَأْلَكَ مِنْ فِيكَ" — yang bermakna: kami mengambil optimisme dari ucapanmu. Ini menunjukkan bahwa kata-kata yang baik boleh dijadikan sumber harapan, bukan sebagai ramalan atau keyakinan bahwa kata itu sendiri yang menentukan nasib.
Keempat, Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa tafa'ul dibolehkan karena ia mengembalikan harapan kepada Allah, bukan kepada benda atau kata itu sendiri. Adapun tathayyur dilarang karena ia mengandung kesyirikan, yaitu menggantungkan nasib kepada selain Allah.
Kelima, Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa tafa'ul tidak termasuk ramalan atau takhayul, karena ia hanya berupa harapan baik yang tidak diyakini sebagai penentu takdir. Sedangkan tathayyur adalah keyakinan bahwa sesuatu dapat mendatangkan sial — ini yang dilarang.
Perlu dicatat bahwa dalam sanad hadits ini terdapat seorang perawi yang tidak disebutkan namanya ("عَنْ رَجُلٍ" — dari seorang lelaki). Imam Abu Dawud meriwayatkannya demikian. Meskipun demikian, maknanya tetap sahih dan didukung oleh hadits-hadits lain yang lebih kuat sanadnya, seperti hadits Anas bin Malik dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ sedang berbicara dengan para sahabat, lalu salah seorang di antara mereka mengucapkan sebuah kalimat yang baik dan mengandung harapan. Mendengar kalimat itu, wajah Nabi ﷺ berseri-seri dan beliau bersabda: "Kami mengambil optimisme dari mulutmu."
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang paling optimis dan paling jauh dari pesimisme. Beliau selalu berharap kepada kebaikan dari Allah dan mengajarkan kepada para sahabat untuk tidak terjebak dalam tathayyur yang dapat melemahkan semangat dan menjauhkan dari tawakkal.
Dalam kisah lain, ketika Nabi ﷺ hendak bepergian, beliau menyukai mendengar kata-kata baik seperti "ya rafi'" atau nama yang mengandung makna baik. Ini semua menunjukkan bahwa Islam mengajarkan optimisme yang berlandaskan tawakkal kepada Allah, bukan takhayul.
Kesimpulan Praktis
- Bedakan antara tafa'ul dan tathayyur. Tafa'ul (optimisme terhadap kata/hal baik) dibolehkan, sedangkan tathayyur (merasa sial) dilarang dan mengandung unsur kesyirikan.
- Jangan jadikan kata atau benda sebagai penentu nasib. Optimisme hanyalah sarana untuk mengembalikan harapan kepada Allah, bukan keyakinan bahwa kata itu sendiri yang menentukan takdir.
- Biasakan ucapan yang baik. Kata-kata yang baik dapat menjadi sumber semangat dan harapan bagi orang lain, sebagaimana Nabi ﷺ menyukai kalimat yang baik.
- Jauhi ramalan dan takhayul. Segala bentuk ramalan, baik melalui angka, nama, hari, atau benda tertentu, tidak memiliki dasar dalam Islam dan bertentangan dengan tauhid.
- Tanamkan tawakkal kepada Allah. Optimisme yang benar adalah yang disertai tawakkal, yaitu berharap kepada Allah sambil berusaha, bukan menggantungkan harapan kepada makhluk.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.