Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dahulu kurus, lalu ibunya berusaha menggemukkan badannya sebelum beliau masuk ke rumah Rasulullah ﷺ. Setelah mencoba berbagai cara, akhirnya yang berhasil adalah memakan mentimun (qitsa') dengan kurma basah (ruthab). Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, menjaga kesehatan dan penampilan yang baik itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama tidak berlebihan dan tidak melanggar syariat. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabatnya menggunakan pengobatan dan makanan alami untuk menjaga tubuh.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Ath-Thibb (Kedokteran), Bab "Fi At-Tasmin" (Tentang Menambah Berat Badan), nomor 3903. Sanadnya: Muhammad bin Yahya bin Faris ← Nuh bin Yazid bin Sayyar ← Ibrahim bin Sa'd ← Muhammad bin Ishaq ← Hisyam bin 'Urwah ← 'Urwah ← 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks Arab Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا نُوحُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ سَيَّارٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: أَرَادَتْ أُمِّي أَنْ تُسَمِّنَنِي لِدُخُولِي عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَلَمْ أَقْبَلْ عَلَيْهَا بِشَيْءٍ مِمَّا تُرِيدُ، حَتَّى أَطْعَمَتْنِي الْقِثَّاءَ بِالرُّطَبِ، فَسَمِنْتُ عَلَيْهِ كَأَحْسَنِ السِّمَنِ.
Terjemahan: "Ibuku ingin menggemukkan badanku untuk (saat) aku masuk (menjadi istri) Rasulullah ﷺ. Maka tidak ada sesuatu pun yang berhasil (menggemukkan badanku) darinya, hingga ia memberiku makan mentimun dengan kurma basah. Maka aku pun menjadi gemuk dengan kegemukan yang paling baik."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf [7]: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa makan dan minum untuk menjaga tubuh itu dibolehkan, tetapi harus dalam batas wajar, tidak berlebihan.
Hadits terkait:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah." (HR. Muslim no. 2664)
Hadits ini menunjukkan bahwa memiliki tubuh yang kuat dan sehat itu dianjurkan dalam Islam, dan salah satu caranya adalah dengan makan makanan yang bergizi.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Kebolehan berusaha memperbaiki penampilan dan kesehatan. Ibunda 'Aisyah radhiyallahu 'anha berusaha menggemukkan putrinya agar terlihat lebih sehat dan menarik. Ini adalah usaha yang wajar dan tidak dilarang dalam Islam. Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah dalam syarahnya menjelaskan bahwa menjaga kesehatan dan penampilan yang baik adalah bagian dari syariat, selama tidak melanggar batasan-batasan Allah.
- Manfaat makanan alami. Kombinasi mentimun (qitsa') dan kurma basah (ruthab) adalah makanan yang dikenal di kalangan Arab. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya sering menyebutkan bahwa makanan yang halal dan baik (thayyib) memiliki manfaat bagi tubuh. Mentimun bersifat dingin dan melembapkan, sedangkan kurma basah manis dan mengenyangkan. Kombinasi ini membantu penyerapan nutrisi dan menambah berat badan secara sehat.
- Perhatian terhadap kebutuhan pasangan. Ibunda 'Aisyah ingin mempersiapkan putrinya agar bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik. Ini menunjukkan bahwa mempersiapkan diri untuk menjadi pasangan yang baik, termasuk dari segi kesehatan dan penampilan, adalah hal yang terpuji.
- Tidak ada yang salah dengan berobat atau berdiet. Hadits ini juga menunjukkan bahwa para sahabat dan keluarga Nabi ﷺ menggunakan makanan tertentu untuk tujuan kesehatan. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan juga obatnya." (HR. Bukhari no. 5678)
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan tentang manfaat berbagai makanan, termasuk mentimun dan kurma, dan bagaimana Nabi ﷺ dan para sahabat menggunakan makanan alami untuk menjaga kesehatan. Beliau menyebutkan bahwa mentimun baik untuk tubuh karena kandungan airnya, dan kurma basah memberikan energi serta membantu penambahan berat badan.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan dari Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang bagaimana beliau menjaga kesehatan dan kecantikannya untuk Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat lain, 'Aisyah berkata: "Aku pernah berlomba lari dengan Rasulullah ﷺ, dan aku mengalahkannya. Kemudian setelah aku gemuk, aku berlomba lagi dengannya, dan beliau mengalahkanku. Beliau bersabda: 'Ini untuk mengimbangi kekalahan yang dulu.'" (HR. Abu Dawud no. 2578, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Kisah ini menunjukkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha memang memperhatikan kondisi tubuhnya, dan Rasulullah ﷺ pun tidak keberatan dengan hal itu. Beliau bahkan bercanda dengan istrinya. Ini menunjukkan bahwa menjaga kebugaran dan kesehatan adalah hal yang wajar dalam rumah tangga Nabi ﷺ.
Hikmah: Islam tidak melarang seorang muslim untuk menjaga kesehatan dan penampilan. Justru dengan tubuh yang sehat, seorang muslim bisa beribadah dengan lebih baik, bekerja dengan lebih produktif, dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih harmonis.
Kesimpulan Praktis
- Boleh berusaha menambah atau menjaga berat badan dengan cara yang halal dan sehat, selama tidak berlebihan.
- Makanan alami yang halal dan bergizi seperti buah-buahan dan sayuran adalah pilihan terbaik untuk kesehatan.
- Perhatikan kebutuhan pasangan dan keluarga dalam hal kesehatan dan penampilan, sebagaimana yang dilakukan ibunda 'Aisyah.
- Jangan berlebihan dalam makan — ikuti petunjuk Allah dalam QS. Al-A'raf [7]: 31.
- Niatkan semua usaha kita untuk ketaatan kepada Allah, sehingga hal-hal duniawi pun menjadi bernilai ibadah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.