Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3845 tentang Adab memungut makanan jatuh dan menjilati jari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab makan yang sangat mulia: tidak menyia-nyiakan makanan, baik yang jatuh maupun yang tersisa di piring. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk mengambil kembali makanan yang jatuh setelah membersihkan kotorannya, menjilati sisa makanan di jari, dan membersihkan piring hingga tidak tersisa. Ini semua karena kita tidak tahu di bagian mana dari makanan tersebut terdapat keberkahan. Sikap ini adalah wujud syukur dan penghormatan terhadap nikmat Allah, sekaligus menjauhkan diri dari perbuatan setan yang suka menyia-nyiakan rezeki.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab Tentang Makanan yang Jatuh, nomor 3845, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan ini menunjukkan keshahihannya.

Dalil lain yang menguatkan adalah firman Allah Ta'ala:

QS. Al-A'raf [7]: 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Ayat ini menunjukkan larangan berlebih-lebihan dalam makanan, dan hadits di atas adalah salah satu bentuk penerapan dari larangan tersebut—yaitu tidak menyia-nyiakan makanan walaupun hanya satu suapan.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang memuliakan nikmat Allah dan tidak meremehkannya, serta menjauhi perbuatan setan yang ingin manusia menyia-nyiakan rezeki.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan yang kami rujuk menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Menjilati Jari Setelah Makan

Rasulullah ﷺ menjilati tiga jarinya setelah makan. Ini menunjukkan bahwa sisa makanan yang menempel di jari tidak boleh dibuang begitu saja. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kesempurnaan syukur seorang hamba atas nikmat makanan yang diberikan Allah. Tidak ada makanan yang dianggap remeh di sisi seorang mukmin, karena semua itu adalah karunia Allah.

2. Mengambil Kembali Makanan yang Jatuh

Rasulullah ﷺ memerintahkan: "Jika makanan salah satu dari kalian jatuh, hendaklah ia menghilangkan kotoran darinya dan memakannya dan tidak meninggalkannya untuk setan."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan wajibnya mengambil makanan yang jatuh dan memakannya setelah dibersihkan. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap nikmat Allah. Adapun penyebutan "untuk setan" adalah karena setan senang ketika manusia menyia-nyiakan rezeki dan tidak mensyukurinya. Meninggalkan makanan yang jatuh adalah bentuk mengikuti godaan setan.

3. Membersihkan Piring (Menyelat)

Rasulullah ﷺ juga memerintahkan untuk membersihkan piring dari sisa makanan. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa membersihkan piring hingga tidak tersisa adalah perbuatan yang membawa keberkahan, karena keberkahan makanan tidak diketahui di bagian mana ia berada. Bisa jadi keberkahan itu ada pada sisa yang terakhir.

4. Hikmah di Balik Perintah Ini

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa semua ajaran ini bertujuan untuk menanamkan rasa syukur, kerendahan hati, dan tidak sombong terhadap nikmat Allah. Orang yang terbiasa menghargai makanan akan menjadi pribadi yang tidak mudah mengeluh, tidak boros, dan selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

5. Apakah Ini Berlaku untuk Semua Makanan?

Para ulama menjelaskan bahwa hukum ini bersifat umum untuk makanan yang halal dan suci. Namun jika makanan tersebut telah berubah menjadi najis atau membahayakan kesehatan, maka tidak boleh dimakan. Ini adalah pengecualian yang logis dan sesuai kaidah syariat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu—yang dikenal sangat mencintai Rasulullah ﷺ dan sangat menjaga sunnah-sunnah beliau—pernah berkata tentang dirinya sendiri. Suatu hari, ketika beliau sedang dalam perjalanan dan mendapatkan makanan, beliau sangat memperhatikan adab-adab makan yang diajarkan Nabi ﷺ. Beliau tidak pernah membuang makanan walaupun hanya sebutir kurma yang jatuh. Beliau mengambilnya, membersihkannya, lalu memakannya sambil berkata, "Aku tidak akan meninggalkannya untuk setan."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat antusias dalam mengamalkan setiap ajaran Nabi ﷺ, sekecil apa pun perintah itu. Mereka memahami bahwa dalam ketaatan kepada Rasulullah ﷺ terdapat kebaikan dunia dan akhirat.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Jangan menyia-nyiakan makanan, sekecil apa pun itu. Jika makanan jatuh dan masih layak dimakan, ambillah, bersihkan kotorannya, lalu makanlah.
  2. Jilat atau bersihkan sisa makanan di jari setelah makan, karena kita tidak tahu di mana letak keberkahan makanan tersebut.
  3. Bersihkan piring hingga tidak tersisa makanan. Ini adalah bentuk syukur dan menghindari pemborosan.
  4. Tanamkan dalam hati bahwa semua makanan adalah nikmat Allah yang harus dihargai, bukan sesuatu yang pantas diremehkan.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang menghargai rezeki dan tidak boros.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?