Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa memakan buah semangka (al-biththikh) bersama kurma basah (ar-ruthab), dan menyebutkan hikmahnya: menyeimbangkan sifat panas dan dingin pada kedua buah tersebut. Ini adalah bentuk bimbingan Nabi ﷺ dalam menjaga kesehatan tubuh sekaligus menunjukkan kelembutan dan kesederhanaan beliau dalam makan. Para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi menjelaskan bahwa ini termasuk bab pengobatan dan adab makan, bukan ibadah khusus yang wajib ditiru secara kaku.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Al-Ath'imah (Makanan), bab "Menggabungkan Dua Warna dalam Makanan", dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ نُصَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ: «نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا، وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا»
Terjemah: Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah ﷺ biasa makan semangka dengan kurma basah, lalu beliau bersabda: 'Kita pecahkan panasnya yang ini dengan dinginnya yang itu, dan dinginnya yang ini dengan panasnya yang itu.'"
Dalil umum tentang adab makan dan menjaga kesehatan terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 168:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Terjemah: "Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu."
Kaitan ulama: Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits tentang makanan Nabi ﷺ dan menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak selalu makan mewah, tetapi memperhatikan keseimbangan dan manfaat. Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad juga membahas sifat makanan Nabi ﷺ dan manfaat semangka serta kurma basah dari sisi kesehatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ yang sederhana dan penuh hikmah. Beliau memakan semangka bersama kurma basah, lalu menjelaskan bahwa sifat panas pada kurma basah diseimbangkan dengan sifat dingin pada semangka, dan sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya makan untuk kenyang, tetapi juga memperhatikan keseimbangan tubuh.
Para ulama memahami hadits ini dalam beberapa sisi:
- Sisi kesehatan (thibbiyah): Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa semangka bersifat dingin dan basah, sedangkan kurma basah bersifat panas dan lembap. Menggabungkan keduanya membantu menyeimbangkan suhu tubuh dan pencernaan. Ini termasuk kebiasaan Nabi ﷺ dalam menjaga kesehatan.
- Sisi adab makan: Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ makan dengan cara yang baik, tidak berlebihan, dan memperhatikan manfaat. Ini mengajarkan umatnya untuk makan dengan sadar, bukan sekadar mengikuti hawa nafsu.
- Sisi tauhid dan syukur: Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengaitkan makanan dengan kekuasaan Allah yang menciptakan sifat panas dan dingin. Ini mengajak kita bersyukur atas nikmat Allah yang beragam.
- Bukan ibadah khusus yang wajib: Para ulama menegaskan bahwa ini adalah kebiasaan Nabi ﷺ yang bersifat duniawi (kesehatan), bukan ibadah mahdhah yang harus ditiru secara kaku. Jadi, tidak berdosa jika seseorang tidak memakan semangka dengan kurma basah.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ibnu Taymiyyah menegaskan bahwa perkara duniawi Nabi ﷺ tidak selalu menjadi syariat yang wajib diikuti, kecuali jika ada dalil yang memerintahkan. Namun, mengikuti kebiasaan baik Nabi ﷺ tetap dianjurkan sebagai bentuk cinta dan ittiba'.
Story Telling
Aisyah radhiyallahu 'anha adalah istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang kehidupan sehari-hari beliau. Suatu hari, beliau melihat Nabi ﷺ makan semangka dengan kurma basah. Nabi ﷺ lalu tersenyum dan berkata: "Kita pecahkan panasnya yang ini dengan dinginnya yang itu." Aisyah pun merenung bahwa Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga cara hidup sehat dan seimbang. Kisah ini mengajarkan kita bahwa Islam memperhatikan seluruh aspek kehidupan, termasuk makanan.
Kesimpulan Praktis
- Makanlah dengan memperhatikan keseimbangan dan manfaat, bukan hanya rasa.
- Menggabungkan makanan yang sifatnya panas dan dingin bisa menjadi ikhtiar menjaga kesehatan.
- Contoh Nabi ﷺ dalam makan adalah cerminan kesederhanaan dan syukur.
- Jangan menganggap sunnah ini sebagai kewajiban, tetapi sebagai anjuran yang baik.
- Bersyukurlah atas nikmat Allah yang beragam, karena setiap makanan memiliki hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.