Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita dua adab penting: pertama, tawadhu' (rendah hati) dalam cara duduk dan makan, sebagaimana Nabi ﷺ duduk berlutut (jatsa) saat makan bersama para sahabat, bukan duduk sombong seperti raja. Kedua, adab makan dari pinggir piring dan meninggalkan bagian tengahnya karena di sanalah keberkahan turun. Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ yang penuh hikmah, mengajarkan kesederhanaan dan mengharap berkah dalam setiap suapan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, Kitab Ath'Imah (Makanan), Bab "Ma Ja'a fil Akl min Hawalaih" (Bab Apa yang Dikatakan tentang Makan dari Atas Piring), no. 3773, dari sahabat Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan yang diriwayatkan Imam Abu Dawud. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya (no. 3271) dengan lafaz yang serupa.
Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang larangan sombong dan perintah tawadhu':
QS. Al-Isra' [17]: 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Khathabi (w. 388 H) dalam Ma'alim as-Sunan—salah satu syarah Sunan Abi Dawud—menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ "Allah menjadikanku hamba yang mulia" adalah pujian atas sifat tawadhu' yang Allah berikan kepadanya, dan ini merupakan bantahan terhadap sifat sombong yang dimiliki para penguasa tiran.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa duduk jatsa (berlutut dengan menegakkan lutut) adalah bentuk tawadhu', dan makan dari pinggir piring adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ agar keberkahan makanan tidak hilang.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
Pertama: Makna "Gharra'" (الغَرَّاء)
Imam Ibnul Atsir dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits menyebutkan bahwa al-gharra' adalah nama mangkuk besar milik Nabi ﷺ. Disebut gharra' (putih berkilau) karena keindahan dan kebersihannya. Mangkuk ini begitu besar sehingga butuh empat orang untuk membawanya—ini menunjukkan banyaknya jumlah orang yang makan bersama Nabi ﷺ.
Kedua: Duduk Nabi ﷺ dengan cara jatsa
Saat para sahabat semakin banyak berkumpul mengelilingi mangkuk, Nabi ﷺ duduk dengan cara jatsa—yaitu duduk berlutut dengan menegakkan kedua lutut dan bertumpu pada lutut tersebut. Ini adalah cara duduk yang menunjukkan kerendahan hati, bukan duduk bersila dengan santai seperti orang yang merasa berkuasa.
Seorang badui (Arab pedalaman) yang melihat hal ini heran dan bertanya, "Duduk macam apa ini?" Maka Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang sangat dalam: "Sesungguhnya Allah menjadikanku hamba yang mulia, dan tidak menjadikanku raja yang sombong lagi keras kepala."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk memilih sifat 'ubudiyah (menjadi hamba Allah) daripada sifat rububiyah (merasa seperti penguasa). Karena kedudukan sebagai hamba yang taat lebih mulia di sisi Allah daripada kedudukan sebagai raja yang sombong.
Ketiga: Adab makan dari pinggir piring
Sabda Nabi ﷺ: "Makanlah dari sisi-sisinya dan tinggalkan bagian atasnya, maka akan diberkahi." Para ulama menjelaskan bahwa bagian tengah makanan adalah tempat turunnya keberkahan, dan dengan mengambil dari pinggir, keberkahan tersebut tetap terjaga dan menyebar ke seluruh makanan.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama menganjurkan makan dari pinggir piring dan tidak mengambil dari tengah, karena bagian tengah adalah tempat keberkahan. Ini juga mencegah seseorang terkesan rakus dan tidak sopan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar menjelaskan bahwa adab ini mengandung hikmah: (1) menghormati makanan dan tidak merusak bentuknya, (2) menjaga keberkahan yang ada di bagian tengah, (3) melatih kesabaran dan tidak tergesa-gesa dalam makan.
Keempat: Bantahan terhadap sifat sombong
Nabi ﷺ menyebut dirinya "hamba yang mulia" ('abdan kariman) dan menafikan sifat "raja yang sombong lagi keras kepala" (jabbaran 'anidan). Ini adalah pelajaran besar: semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin ia harus merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa sifat jabbariyah (kesombongan dan paksaan) adalah sifat yang dibenci Allah, sedangkan sifat 'ubudiyah (penghambaan dan ketundukan) adalah sifat yang paling dicintai Allah. Nabi ﷺ memilih yang paling dicintai Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri—salah seorang ulama tabi'ut tabi'in yang sangat zuhud—pernah ditanya tentang cara duduk beliau saat makan. Maka beliau duduk dengan cara jatsa (berlutut) dan berkata, "Beginilah cara duduknya seorang hamba di hadapan Rabb-nya. Aku tidak suka duduk seperti duduknya orang-orang yang sombong." (Disebutkan dalam Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim—namun perlu dicatat bahwa Abu Nu'aim tidak termasuk dalam daftar rujukan utama kita; namun kisah ini masyhur dan sejalan dengan pemahaman para ulama yang kita rujuk).
Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memperhatikan adab makan yang diajarkan Nabi ﷺ, bahkan dalam hal cara duduk sekalipun. Mereka memahami bahwa setiap gerakan seorang mukmin bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk mengikuti sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Tawadhu' dalam makan: Duduklah dengan sopan dan rendah hati saat makan, jangan bersandar dengan sombong atau duduk seperti penguasa.
- Makan dari pinggir piring: Ambillah makanan dari sisi piring, bukan dari bagian tengahnya, agar keberkahan tetap terjaga.
- Jangan merusak bentuk makanan: Hindari mengambil bagian tengah yang masih utuh dan indah, karena itu bagian yang diberkahi.
- Meneladani sifat Nabi ﷺ: Jadikan Nabi ﷺ sebagai teladan dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, bukan dalam kemewahan dan kesombongan.
- Niatkan makan sebagai ibadah: Dengan mengikuti adab-adab ini, makan kita berubah dari sekadar memenuhi kebutuhan menjadi ibadah yang berpahala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.