Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3770 tentang Larangan makan sambil berbaring dan berjalan dengan pengawal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan Rasulullah ﷺ bukanlah dalam keadaan bersandar (mutaki`), melainkan dengan duduk yang sederhana dan tawadhu. Ini adalah bagian dari adab dan akhlak beliau yang mulia dalam urusan duniawi, yang mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dan tidak sombong dalam hal makan. Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa beliau tidak pernah berjalan dengan pengawal di belakangnya, menunjukkan kerendahan hati beliau yang luar biasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Makanan (Ath'imah), Bab "Ma Ja'a fil Akl Muttaki'an" (Bab Apa yang Diriwayatkan tentang Makan dalam Keadaan Berbaring), no. 3770. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara mu'allaq (tanpa sanad lengkap) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Teks Hadits (Arab):

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ شُعَيْبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: مَا رُئِيَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَأْكُلُ مُتَّكِئًا قَطُّ، وَلَا يَطَأُ عَقِبَهُ رَجُلَانِ.

Makna Ringkas: "Tidak pernah terlihat Rasulullah ﷺ makan dalam keadaan bersandar, dan tidak pernah pula dua orang berjalan di belakang beliau (sebagai pengawal)."

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Meskipun tidak ada ayat yang secara spesifik membahas cara makan, prinsip tawadhu' dan tidak berlebihan dalam urusan dunia tercermin dalam firman Allah:

QS. Al-Furqan [25]: 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."

Ayat ini menggambarkan sifat tawadhu' hamba Allah yang shalih, yang berjalan dengan tenang dan tidak sombong. Ini sejalan dengan makna hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf telah membahas makna hadits ini. Di antaranya:

  • Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan secara rinci tentang tuntunan Nabi ﷺ dalam makan, termasuk larangan bersandar.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) membahas makna mutaki` dan perbedaan pendapat ulama tentangnya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin dan kitab-kitab fiqihnya menjelaskan adab makan sesuai sunnah.

Penjelasan Rinci

Makna Kata "Mutaki`" (مُتَّكِئًا):

Para ulama berbeda pendapat tentang makna mutaki` dalam hadits ini. Berikut penjelasan dari para ulama dalam daftar rujukan:

  1. Pendapat Pertama (Mayoritas Ulama): Mutaki` adalah duduk dengan bersandar pada sesuatu, baik pada bantal, tangan, atau sisi tubuh, dengan cara yang menunjukkan sikap sombong dan merasa besar. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Imam Ibnul Qayyim dan Syaikh al-Utsaimin.
  2. Pendapat Kedua: Mutaki` adalah duduk dengan menyilangkan kaki atau duduk seperti orang yang sedang bersantai-santai. Pendapat ini disebutkan oleh sebagian ulama, namun yang lebih kuat adalah pendapat pertama.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa larangan bersandar saat makan adalah karena cara duduk seperti itu menunjukkan sikap sombong dan berlebihan dalam menikmati makanan. Beliau berkata, "Nabi ﷺ makan dengan duduk seperti duduknya seorang hamba, dan beliau tidak makan dalam keadaan bersandar, karena bersandar adalah perbuatan orang-orang yang sombong dan merasa besar."

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa makan dalam keadaan bersandar bisa menyebabkan dua hal yang tidak baik:

  • Menimbulkan sikap sombong dan angkuh.
  • Membahayakan kesehatan karena posisi makan yang tidak baik.

Hikmah Kedua: "Tidak Pernah Dua Orang Berjalan di Belakang Beliau"

Frasa ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah memiliki pengawal yang berjalan di belakang beliau. Ini adalah bukti kerendahan hati beliau yang luar biasa. Beliau adalah pemimpin umat, namun tidak pernah merasa perlu untuk dikawal atau dihormati secara berlebihan. Beliau berjalan di tengah-tengah para sahabatnya, tidak membedakan diri dari mereka.

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits ini secara mu'allaq dalam Shahih-nya, dan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa tawadhu'nya Nabi ﷺ, bahkan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam saat itu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, ketika menjadi khalifah, pernah terlihat membawa air di pundaknya untuk membantu seorang janda tua. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu padahal beliau adalah khalifah, beliau menjawab, "Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan cara selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita."

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami betul ajaran Nabi ﷺ tentang tawadhu'. Mereka tidak merasa besar dengan jabatan dan kekuasaan, justru semakin rendah hati. Ini adalah buah dari pendidikan langsung dari Rasulullah ﷺ yang tidak pernah bersandar saat makan dan tidak pernah berjalan dengan pengawal di belakangnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaknya kita makan dengan duduk yang sederhana dan tawadhu', tidak bersandar dengan cara yang menunjukkan kesombongan.
  2. Hindari sikap berlebihan dalam urusan duniawi, termasuk dalam hal makan dan minum.
  3. Teladani kerendahan hati Nabi ﷺ dalam pergaulan sehari-hari, tidak merasa lebih tinggi dari orang lain.
  4. Jadikan setiap aktivitas, termasuk makan, sebagai ibadah dengan meniatkannya untuk menjaga kesehatan agar bisa beribadah kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.