Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3769 tentang Bab Apa yang Dikatakan tentang Makan dalam Posisi Berbaring

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kebiasaan mulia Nabi ﷺ yang tidak makan sambil bersandar (mutakki'), melainkan dalam posisi duduk yang penuh tawadhu'. Ini bukan larangan keras, melainkan petunjuk adab yang lebih utama agar kita menghindari kesombongan dan meneladani kesederhanaan beliau. Para ulama menjelaskan bahwa makan sambil bersandar bisa menyebabkan makan berlebihan dan kurang menghormati nikmat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud (no. 3769):

عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لَا آكُلُ مُتَّكِئًا"

Dari Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku tidak makan dalam keadaan bersandar (mutakki')."

Penjelasan makna "mutakki'" menurut ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (9/542) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna mutakki'. Pendapat yang kuat adalah: duduk dengan condong ke salah satu sisi (seperti bersandar pada bantal) atau duduk bersila dengan kepala tegak tanpa tunduk.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (13/194) mengatakan: "Makna yang paling benar adalah orang yang duduk dengan cara bersandar pada sesuatu, baik saat makan maupun setelahnya." Beliau juga meriwayatkan dari Al-Khattabi bahwa mutakki' adalah orang yang miring ke samping saat duduk.

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad (2/220) menegaskan bahwa Nabi ﷺ makan dengan duduk di atas lutut (seperti duduk iftirasy) dan tidak makan sambil bersandar, karena itu adalah cara makan orang-orang yang sombong.

Ayat terkait (tentang adab makan):

QS. Al-A'raf [7]: 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah pada setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Ayat ini mengajarkan keseimbangan dalam makan dan minum, termasuk cara duduk yang tidak berlebihan dalam kemewahan.

Penjelasan Rinci

1. Makna Hadits secara Umum

Hadits ini merupakan bagian dari petunjuk Nabi ﷺ dalam adab makan. Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) menafsirkan mutakki' sebagai "orang yang duduk dengan bersandar pada bantal dan tidak mendoakan makanan" (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf). Ini menunjukkan bahwa cara duduk tersebut bisa mengurangi rasa syukur kepada Allah.

2. Pendapat Ulama tentang Cara Duduk yang Dianjurkan

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in sepakat bahwa cara duduk terbaik saat makan adalah duduk dengan bertumpu pada kedua lutut (duduk iftirasy) atau duduk dengan cara yang tidak bersandar. Imam Ahmad bin Hanbal dalam riwayat Al-Khallal mengatakan bahwa beliau memilih duduk seperti duduk shalat (iftirasy) saat makan, dan tidak menyukai makan sambil berbaring (mutakki').

3. Hikmah di Balik Larangan

  • Menghindari kesombongan: Makan sambil bersandar sering dikaitkan dengan gaya hidup mewah dan angkuh. Fudail bin 'Iyadh (w. 187 H) pernah berkata: "Tawadhu' adalah tanda keimanan, dan kesombongan adalah awal kebinasaan."
  • Kesehatan: Duduk dengan posisi tegak membantu pencernaan dan mencegah makan berlebihan.
  • Meneladani Nabi: Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa mengikuti adab Nabi ﷺ dalam perkara kecil sekalipun adalah bentuk kecintaan kepada beliau.

4. Apakah Ini Hukum Wajib atau Sunah?

Mayoritas ulama (termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa hadits ini bersifat mustahabbah (dianjurkan), bukan wajib. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak memerintahkan secara tegas, tetapi menyatakan kebiasaan beliau sendiri. Jadi, orang yang makan sambil bersandar tidak berdosa, namun lebih utama meninggalkannya.

Story Telling

Kisah Abu Juhaifah radhiyallahu 'anhu

Abu Juhaifah (nama aslinya Wahb bin 'Abdillah as-Suwa'i) adalah sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Suatu hari, ia melihat Nabi ﷺ sedang makan bersama para sahabat di sebuah majlis. Beliau duduk dengan sederhana, tidak bersandar, sementara yang lain duduk dengan penuh adab.

Dalam riwayat lain dari Imam al-Bukhari (no. 5422), Abu Juhaifah berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ duduk dengan cara iftirasy (duduk di atas kedua tumit) saat makan, seperti cara duduk seseorang yang sedang shalat." Ini menunjukkan betapa beliau mengajarkan kesederhanaan bahkan dalam hal yang tampak sepele.

Hikmah: Jika Nabi ﷺ yang merupakan pemimpin umat dan makhluk terbaik di dunia saja memilih duduk yang penuh tawadhu' saat makan, maka kita sebagai umatnya seharusnya lebih rendah hati dalam segala hal.

Kesimpulan Praktis

  • Anjuran: Usahakan makan dengan posisi duduk yang baik—tidak bersandar, tidak berbaring, dan tidak sambil berdiri. Cara duduk iftirasy (duduk di atas kedua tumit) sangat dianjurkan.
  • Larangan: Hindari makan sambil bersandar penuh (seperti bersandar pada bantal atau sandaran kursi) karena bertentangan dengan sunnah.
  • Prioritas: Jika dalam kondisi terpaksa (sakit atau kelelahan), maka hukumnya longgar. Namun, secara umum, sunnah ini mudah diamalkan.
  • Niat: Niatkan mengikuti Rasulullah ﷺ agar mendapat pahala dan keberkahan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?