Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya niat yang rusak dalam menuntut ilmu. Ilmu agama yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah, jika diniatkan untuk meraih keuntungan duniawi semata, maka pelakunya terancam tidak akan mencium aroma surga. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan niat dalam mencari ilmu, dan betapa besar dosa menjadikan ilmu agama sebagai alat untuk kepentingan dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ، عَنْ أَبِي طُوَالَةَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ " . يَعْنِي رِيحَهَا .
Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharapkan wajah Allah, tetapi dia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud no. 3664)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 252) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini hasan dalam Shahih Abi Dawud.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
QS. Al-Bayyinah [98]: 5
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..."
Kaitan dengan Ulama: Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fadhlu 'Ilmi as-Salaf 'ala al-Khalaf menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diniatkan untuk Allah, dan barangsiapa mencarinya untuk selain Allah, maka ilmunya menjadi bencana baginya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan Ilmu yang Dicari Karena Allah
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan para nabi, dan warisan ini hanya layak diterima oleh orang yang mencarinya dengan niat ikhlas karena Allah. Ilmu yang dicari karena Allah akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dan akhirat.
2. Ancaman Bagi Pencari Ilmu dengan Niat Dunia
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa "keuntungan duniawi" (عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا) mencakup segala bentuk tujuan duniawi seperti mencari jabatan, popularitas, kekayaan, atau sekadar pujian manusia. Orang yang belajar agama dengan tujuan-tujuan ini terancam tidak akan mencium aroma surga.
3. Makna "Tidak Mendapatkan Aroma Surga"
Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah bentuk ancaman yang sangat keras. Meskipun secara tekstual berarti tidak mencium baunya, para ulama menafsirkan bahwa ini menunjukkan betapa jauhnya orang tersebut dari kebaikan surga, atau bisa jadi ini adalah ancaman baginya untuk tidak masuk surga sama sekali jika niatnya murni untuk dunia.
4. Perbedaan Antara Niat Murni dan Bercampur
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa jika niat seseorang bercampur antara ikhlas dan riya', maka pahalanya berkurang sesuai kadar campuran tersebut. Namun jika niatnya murni untuk dunia, maka ancaman hadits ini berlaku baginya.
5. Kisah Salaf dalam Menjaga Niat
Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat takut jika ilmu mereka tidak bermanfaat. Diriwayatkan bahwa sebagian mereka menangis ketika melihat orang-orang berbondong-bondong belajar kepada mereka, karena khawatir ilmu tersebut menjadi fitnah bagi mereka.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri - salah seorang ulama besar tabi'ut tabi'in - sangat menjaga niatnya dalam menuntut ilmu. Beliau berkata: "Tidak ada sesuatu yang lebih sulit bagiku untuk diperbaiki selain niatku, karena ia selalu berbolak-balik."
Beliau juga berkata: "Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat bagiku daripada niatku." Ini menunjukkan bahwa bahkan ulama sekaliber Sufyan ats-Tsauri pun merasa berat untuk menjaga keikhlasan niat, apalagi kita yang jauh di bawah derajat mereka.
Imam Fudail bin 'Iyadh, seorang ulama besar yang terkenal dengan kezuhudannya, berkata: "Memperbaiki niat itu lebih berat bagiku daripada memperpanjang amal." Beliau memahami bahwa amal yang sedikit tapi ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak tapi tercampur riya'.
Kesimpulan Praktis
- Periksa niat sebelum belajar - Tanyakan pada diri sendiri: mengapa saya belajar agama? Untuk Allah atau untuk tujuan duniawi?
- Perbarui niat secara terus-menerus - Karena niat bisa berubah-ubah, maka perbarui niat ikhlas setiap kali hendak belajar, mengajar, atau beramal.
- Jauhi tujuan-tujuan duniawi dalam menuntut ilmu - Seperti mencari jabatan, popularitas, kekayaan, atau pujian manusia.
- Pelajari ilmu untuk diamalkan - Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dan diajarkan dengan ikhlas.
- Mohon pertolongan Allah untuk keikhlasan - Karena keikhlasan adalah perkara yang berat, maka kita harus senantiasa berdoa memohon keikhlasan kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.