Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3658 tentang Larangan menyembunyikan ilmu yang ditanyakan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ bagi seorang yang berilmu. Jika ia ditanya tentang ilmu yang ia ketahui dan ia menyembunyikannya tanpa uzur syar'i, maka ia akan diberi kekangan (kendali) dari api neraka pada hari kiamat. Ini menunjukkan betapa besarnya tanggung jawab ilmu dan bahaya menyembunyikannya ketika dibutuhkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang Anda tanyakan adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-'Ilm, Bab Karahiyah Katman Al-'Ilm, no. 3658. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Hibban.

Berikut teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan memasangkan kekang dari api neraka kepadanya pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud no. 3658, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Hadits ini memiliki penguat (syawahid) dari sahabat lain seperti Jabir bin Abdillah dan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhum. Para ulama seperti Imam Al-Albani menilai hadits ini shahih.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman yang sangat keras. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "ilmu" di sini adalah ilmu syar'i yang bermanfaat, yaitu ilmu yang berkaitan dengan perkara agama yang dibutuhkan oleh penanya.

Adapun bentuk "menyembunyikan ilmu" yang tercela adalah ketika seseorang ditanya tentang suatu perkara yang ia ketahui, lalu ia menyembunyikannya tanpa ada uzur syar'i. Namun para ulama juga menjelaskan bahwa ada beberapa pengecualian, di antaranya:

  1. Jika penanya bertanya dengan niat buruk atau ingin mempermainkan agama, maka boleh tidak menjawabnya.
  2. Jika yang ditanya adalah orang yang bukan ahlinya dan ia khawatir akan berbuat kesalahan, maka ia boleh berkata "Allahu a'lam" atau merujuk kepada yang lebih berilmu.
  3. Jika ada maslahat yang lebih besar untuk tidak menjawab pada waktu tertentu, seperti yang dilakukan sebagian ulama salaf ketika berada di tengah penguasa zhalim.

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya menyebarkan ilmu yang wajib diketahui, dan haramnya menyembunyikan ilmu ketika dibutuhkan. Namun beliau juga menegaskan bahwa hal ini berlaku jika memang tidak ada uzur.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa menyembunyikan ilmu bisa menjadi haram jika berkaitan dengan hak-hak Allah seperti menjelaskan halal dan haram, dan bisa menjadi makruh jika berkaitan dengan perkara yang sifatnya sunnah dan tidak terlalu dibutuhkan.

Adapun kisah yang masyhur dari salaf, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau menjawabnya. Ketika ditanya lagi tentang masalah yang sama, beliau menjawabnya lagi. Maka ada yang berkata, "Wahai Abu Sa'id, bukankah engkau telah menjawabnya?" Beliau menjawab, "Aku khawatir jika aku tidak menjawab, maka aku termasuk orang yang disebut dalam firman Allah: 'Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedang kamu melupakan dirimu sendiri?'" Ini menunjukkan betapa berhati-hatinya para salaf dalam menyampaikan ilmu.

Story Telling

Dahulu ada seorang ulama dari kalangan tabi'in bernama Sa'id bin Al-Musayyib rahimahullah. Beliau adalah seorang yang sangat alim di zamannya. Suatu ketika ada seseorang yang datang bertanya kepadanya tentang suatu masalah. Sa'id menjawabnya dengan baik. Kemudian orang itu bertanya lagi tentang masalah yang lain, dan Sa'id menjawabnya lagi. Begitu seterusnya sampai orang itu bertanya banyak hal.

Maka berkatalah orang itu, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, engkau telah menjawab semua pertanyaanku." Maka Sa'id bin Al-Musayyib berkata, "Tidaklah aku menjawab pertanyaanmu melainkan aku takut jika aku menyembunyikannya, maka Allah akan memasangkan kekang dari api neraka kepadaku pada hari kiamat."

Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami ancaman dalam hadits ini, sehingga mereka bersungguh-sungguh dalam menyampaikan ilmu yang mereka ketahui.

Kesimpulan Praktis

  1. Ilmu adalah amanah yang harus disampaikan ketika dibutuhkan, bukan untuk ditimbun dan disembunyikan.
  2. Jika ditanya tentang ilmu yang kita ketahui, maka jawablah dengan jujur dan benar. Jika tidak mengetahui, maka katakan "Allahu a'lam" atau "saya tidak tahu" — ini pun bagian dari ilmu dan kejujuran.
  3. Niatkan dalam menuntut dan menyampaikan ilmu semata-mata karena Allah, bukan untuk pamer atau mencari popularitas.
  4. Hindari menyembunyikan ilmu karena rasa pelit, takut kehilangan status, atau alasan duniawi lainnya.
  5. Jika ada uzur syar'i seperti takut disalahgunakan atau penanya berniat buruk, maka boleh menahan diri dengan tetap menjaga adab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?