Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3646 tentang Kebolehan menulis hadits karena perkataan Nabi selalu benar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama tentang boleh dan dianjurkannya menulis hadits Nabi ﷺ. Hadits ini juga menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa semua perkataan Nabi ﷺ hanya sebatas urusan dunia yang bisa salah. Nabi ﷺ menegaskan bahwa seluruh perkataan yang keluar dari mulut beliau adalah benar, karena beliau dijaga oleh Allah dari berkata dusta, baik dalam keadaan marah maupun senang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Abu Dawud no. 3646 dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan para ulama hadits menilai sanadnya shahih atau hasan. Imam Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abi Dawud.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

"Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

(QS. An-Najm [53]: 3-4)

Kaitan dengan ulama:

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi (walaupun tidak dalam daftar, namun beliau adalah perujuk utama dalam masalah ini) — namun dari ulama yang tercantum dalam daftar, Imam Abu Dawud sendiri memasukkan hadits ini dalam kitabnya sebagai dalil kebolehan menulis ilmu. Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkannya dalam Musnad-nya dan menggunakannya sebagai dalil bahwa menulis hadits adalah perkara yang dibolehkan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menulis hadits setelah sebelumnya sempat dilarang karena dikhawatirkan bercampur dengan Al-Qur'an.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa pada awal mula, Rasulullah ﷺ melarang para sahabat menulis selain Al-Qur'an, karena dikhawatirkan akan bercampur antara Al-Qur'an dan hadits. Namun setelah wahyu Al-Qur'an semakin jelas dan sempurna, dan kekhawatiran itu hilang, maka beliau mengizinkan penulisan hadits.

Dalam hadits ini, Abdullah bin Amr bin Al-Ash menceritakan bahwa ia adalah seorang yang rajin menulis segala yang didengar dari Nabi ﷺ. Namun para pemuka Quraisy menegurnya dengan alasan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia biasa yang bisa berbicara dalam keadaan marah atau senang. Mereka khawatir kata-kata yang keluar saat marah atau senang itu bukanlah kebenaran mutlak.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa teguran Quraisy ini muncul dari pemahaman yang keliru. Mereka mengira bahwa perkataan Nabi ﷺ yang keluar dalam keadaan marah atau senang bisa jadi bukan wahyu. Maka Nabi ﷺ membantah pemahaman ini dengan tegas: "Tidak ada yang keluar darinya kecuali yang benar."

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan salah satu mukjizat Nabi ﷺ, yaitu penjagaan Allah terhadap lisan beliau. Beliau tidak pernah berbicara dengan kebatilan, baik dalam keadaan marah maupun ridha. Ini berbeda dengan manusia biasa yang seringkali salah bicara saat marah.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa hadits ini juga menunjukkan keutamaan menuntut ilmu dan semangat para sahabat dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ. Abdullah bin Amr adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits karena ia menulisnya.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa menulis ilmu adalah perkara yang disyariatkan. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad membolehkan bahkan menganjurkan penulisan hadits. Adapun larangan menulis hadits di awal Islam adalah untuk menjaga kemurnian Al-Qur'an, bukan karena menulis itu dilarang secara mutlak.

Story Telling

Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat bersemangat dalam menjaga ilmu. Setelah mendapat izin dari Nabi ﷺ untuk menulis, ia tidak pernah berhenti mencatat. Ia bahkan menulis dalam keadaan apapun.

Dikisahkan bahwa ia memiliki catatan-catatan yang sangat banyak. Ketika para sahabat lain bertanya kepadanya tentang suatu hadits, ia seringkali membuka catatannya dan membacakannya. Catatan inilah yang kemudian dikenal dengan Ash-Shahifah Ash-Shadiqah (Lembaran yang Jujur), karena isinya adalah perkataan Nabi ﷺ yang benar dan dijaga.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr berkata: "Aku tidak pernah mengambil (menghafal) dari Nabi ﷺ lebih dari apa yang ada di dalam lembaran ini." Lembaran ini berisi hadits-hadits tentang hukum-hukum dan perkara penting lainnya.

Hikmah dari kisah ini adalah pentingnya menjaga ilmu dengan menuliskannya. Karena hafalan bisa lemah dan lupa, maka tulisan menjadi penjaga ilmu yang sangat berharga. Sebagaimana kata para ulama: "Ilmu itu terikat dengan tulisan."

Kesimpulan Praktis

  1. Menulis ilmu adalah perkara yang dianjurkan dalam Islam, sebagaimana dipraktikkan oleh para sahabat dan ulama salaf.
  2. Seluruh perkataan Nabi ﷺ adalah benar dan terjaga, baik dalam keadaan marah maupun senang, karena beliau tidak berbicara dari hawa nafsu.
  3. Semangat para sahabat dalam menjaga ilmu hendaknya menjadi teladan bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut dan menjaga ilmu syar'i.
  4. Menulis adalah sarana menjaga ilmu, dan kita dianjurkan untuk mencatat ilmu yang kita pelajari agar tidak hilang dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
  5. Hati-hati dalam menukil ilmu — kita harus memastikan bahwa ilmu yang kita tulis atau sampaikan berasal dari sumber yang shahih dan sesuai pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?