Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3587 tentang Kewajiban hakim memutuskan dengan benar dan adil

Ringkasan Jawaban Singkat

Teks yang Anda sebutkan (Sunan Abu Dawud no. 3587) pada bagian yang dikutip bukanlah matan hadits, melainkan rangkaian sanad (mata rantai periwayatan) — yaitu penuturan Imam Abu Dawud tentang jalur gurunya: Ahmad bin 'Abdah ad-Dhabbi, dari Mu'adz bin Mu'adz, dari Abu 'Utsman asy-Syami (Hariz bin 'Utsman). Ini adalah bagian dari isnad, bukan isi sabda Nabi ﷺ. Karena itu, penjelasan yang tepat adalah tentang kedudukan sanad dan pujian terhadap perawi, bukan tentang hukum putusan hakim.

Rujukan Ulama & Dalil

Karena yang Anda kutip adalah bagian sanad, tidak ada ayat Al-Qur'an atau matan hadits Nabi ﷺ yang bisa saya nukilkan secara berharakat dari potongan ini. Saya tidak akan mengarang teks Arab ayat atau hadits yang tidak ada dalam kutipan Anda.

Adapun dalil umum tentang pentingnya sanad dan kejujuran perawi dapat dirujuk pada kaidah yang dipegang para ulama hadits dari daftar yang diizinkan, seperti:

  • Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Muqaddimah Shahih Muslim menegaskan bahwa sanad adalah bagian dari agama, dan para ulama tidak menerima riwayat kecuali dari perawi yang tsiqah (terpercaya).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Nuzhatun Nazhar (Syarh Nukhbatul Fikar) menjelaskan bahwa sanad adalah jalan menuju matan, dan penilaian perawi (jarh wa ta'dil) adalah ilmu yang menjaga keotentikan hadits.
  • Adz-Dzahabi dalam kitab-kitab rijalnya (seperti Siyar A'lam an-Nubala' dan Mizanul I'tidal) mencatat biografi para perawi seperti Hariz bin 'Utsman dan memberikan penilaian terhadap mereka.

Penjelasan Rinci

1. Struktur sanad yang disebutkan

Potongan teks tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Ahmad bin 'Abdah ad-Dhabbi — guru Imam Abu Dawud dalam riwayat ini.
  • Mu'adz bin Mu'adz — perawi tabi'ut tabi'in yang terkenal tsiqah, anak dari Mu'adz bin Mu'adz al-'Anbari.
  • Abu 'Utsman asy-Syami, yaitu Hariz bin 'Utsman — perawi dari negeri Syam.

2. Pujian Mu'adz bin Mu'adz terhadap Hariz bin 'Utsman

Ucapan "Aku rasa aku tidak melihat siapa pun dari Syam yang lebih baik darinya" adalah pujian (ta'dil) dari Mu'adz bin Mu'adz terhadap Hariz bin 'Utsman. Ini termasuk bagian dari ilmu jarh wa ta'dil, yaitu ilmu yang dinilai sangat mulia oleh para ulama hadits.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Nuzhatun Nazhar menjelaskan bahwa pujian seorang perawi tsiqah terhadap perawi lain dapat menjadi penguat kedudukan perawi tersebut, meskipun tetap harus ditimbang dengan penilaian ulama lain.

Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebut Hariz bin 'Utsman sebagai salah satu perawi Syam yang diterima riwayatnya, meskipun sebagian ulama mencatat adanya sedikit catatan (kalam) pada hafalannya — sebagaimana lazimnya perawi yang tidak berada pada derajat tertinggi seperti Imam Malik atau Sufyan ats-Tsauri.

3. Mengapa Imam Abu Dawud menyebutkan sanad ini?

Imam Abu Dawud as-Sijistani dalam Sunan-nya sering menyebutkan sanad secara lengkap sebelum matan. Tujuannya adalah:

  • Menjaga amanah ilmiah, agar pembaca dapat menelusuri keotentikan riwayat.
  • Menunjukkan jalur periwayatan yang beliau tempuh.
  • Kadang beliau menyebutkan komentar pribadi atau komentar gurunya tentang perawi, sebagai isyarat tentang kualitas sanad.

4. Kaitan dengan bab "Putusan Hakim Jika Salah"

Bab ini membahas ijtihad hakim dan konsekuensi jika putusannya keliru. Hadits yang menjadi matan bab ini (yang sanadnya sedang Anda kutip) berkaitan dengan kaidah bahwa hakim yang berijtihad lalu benar mendapat dua pahala, dan jika salah mendapat satu pahala — sebagaimana disebutkan dalam hadits lain yang shahih. Namun, karena kutipan Anda hanya memuat sanad, saya tidak akan mengarang matan yang tidak Anda sertakan.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lamul Muwaqqi'in membahas panjang lebar tentang ijtihad hakim, bahwa kesalahan dalam ijtihad tidak dihukumi sebagai dosa selama dilakukan dengan ilmu dan niat benar. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga menegaskan hal serupa.

Story Telling

Diceritakan dalam biografi para perawi (seperti dalam Siyar A'lam an-Nubala' karya Adz-Dzahabi) bahwa para ulama hadits sangat berhati-hati dalam menilai perawi. Abdullah bin al-Mubarak — salah satu ulama dalam daftar — pernah berkata: "Isnad adalah bagian dari agama. Kalau bukan karena isnad, siapa pun bisa berkata apa saja yang ia kehendaki." (makna umum, diriwayatkan dalam Muqaddimah Shahih Muslim).

Sufyan ats-Tsauri juga dikenal sangat ketat dalam menerima riwayat. Beliau pernah menolak riwayat seseorang hanya karena melihat cara orang itu memperlakukan hewan tunggangannya dengan kasar — sebagai isyarat bahwa akhlak memengaruhi kepercayaan dalam periwayatan.

Hikmahnya: ilmu hadits bukan sekadar hafalan teks, tetapi juga penilaian terhadap kejujuran, akhlak, dan ketelitian manusia yang membawa teks itu. Inilah yang membuat sunnah Nabi ﷺ terjaga hingga hari ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Pahami bahwa kutipan Anda adalah sanad, bukan matan. Untuk memahami isi hadits secara utuh, perlu melihat matan lengkap hadits no. 3587 dalam Sunan Abu Dawud.
  2. Hormati ilmu jarh wa ta'dil. Pujian Mu'adz bin Mu'adz terhadap Hariz bin 'Utsman menunjukkan bahwa para ulama saling mengenal dan menilai dengan adil.
  3. Telusuri matan hadits dari kitab aslinya atau dari penjelasan Ibnu Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in dan Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa untuk memahami hukum putusan hakim yang keliru.
  4. Jangan mengarang nash. Jika teks Arab atau harakatnya tidak ada dalam sumber yang Anda pegang, cukup sebutkan rujukannya tanpa menulis Arab yang tidak Anda yakini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?