Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan (Sunan Abu Dawud no. 350) sebenarnya bukanlah hadits Nabi ﷺ secara langsung, melainkan atsar (perkataan) dari Sa'id bin Abdul Aziz — seorang ulama tabi'in — yang menjelaskan makna lafaz "ghassala wa ightasala" dalam hadits tentang mandi hari Jum'at. Beliau menafsirkan bahwa ghassala artinya membasuh kepala, dan ightasala artinya membasuh seluruh tubuh. Ini menunjukkan perhatian para ulama terdahulu dalam menjelaskan setiap lafaz hadits agar umat memahami maksud syariat dengan benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits terkait tentang mandi hari Jum'at:
Rasulullah ﷺ bersabda:
> "غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ"
>
> "Mandi hari Jum'at adalah wajib bagi setiap orang yang telah baligh."
>
> (HR. Al-Bukhari no. 879, Muslim no. 846, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu)
Atsar Sa'id bin Abdul Aziz (sebagaimana dalam riwayat Abu Dawud):
Beliau berkata tentang makna "ghassala wa ightasala": "غَسَّلَ رَأْسَهُ وَغَسَلَ جَسَدَهُ" — "Ia membasuh kepalanya dan membasuh tubuhnya."
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa di antara bentuk kesempurnaan mandi Jum'at adalah seseorang membasuh kepalanya terlebih dahulu kemudian seluruh tubuhnya, dan ini termasuk pemahaman yang baik terhadap sunnah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin juga menjelaskan bahwa mandi Jum'at yang sempurna adalah membasuh seluruh tubuh termasuk kepala, dan tidak cukup hanya membasuh sebagian anggota badan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa dalam sebagian riwayat hadits mandi Jum'at terdapat lafaz "ghassala wa ightasala" — dua kata yang sekilas terlihat bermakna sama (mandi). Namun para ulama tabi'in seperti Sa'id bin Abdul Aziz — yang merupakan ulama Syam yang terpercaya dan guru dari Imam Al-Auza'i — menjelaskan perbedaan keduanya:
- Ghassala (غَسَّلَ): artinya membasuh bagian tertentu, dalam hal ini kepala.
- Ightasala (اِغْتَسَلَ): artinya mandi secara menyeluruh, yaitu membasuh seluruh tubuh.
Ini menunjukkan bahwa mandi Jum'at yang sempurna mencakup dua hal: membasuh kepala secara khusus (dengan mengguyur atau membersihkannya) dan kemudian membasuh seluruh tubuh. Ini bukan berarti dua mandi terpisah, tetapi satu mandi yang dilakukan dengan sempurna.
Imam Al-Khathabi — salah satu pensyarah Sunan Abu Dawud — menjelaskan bahwa makna "ghassala wa ightasala" adalah seseorang membasuh kepalanya lalu menyempurnakan mandinya dengan membasuh seluruh tubuh. Ini adalah penafsiran yang masyhur di kalangan ulama.
Adapun hukum mandi Jum'at, para ulama berbeda pendapat:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi'i dalam salah satu pendapatnya menyatakan wajib, berdasarkan zhahir hadits "غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ" (mandi Jum'at itu wajib).
- Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), dengan alasan bahwa kata "wajib" dalam hadits tersebut bermakna sangat ditekankan, bukan wajib secara hukum fiqih.
Pendapat yang lebih kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz — adalah wajib, karena zhahir hadits dan tidak ada dalil yang memalingkannya dari makna wajib. Namun bagi yang meninggalkannya karena uzur atau lupa, tidak ada dosa yang berat selama ia tetap menghadiri shalat Jum'at, dan ia dianjurkan mandi jika memungkinkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sa'id bin Abdul Aziz — ulama yang disebut dalam sanad hadits ini — adalah seorang yang sangat teliti dalam memahami lafaz-lafaz syariat. Beliau tinggal di Damaskus dan dikenal sebagai ulama yang wara' (hati-hati). Suatu ketika, beliau ditanya tentang makna "ghassala wa ightasala" dalam hadits mandi Jum'at. Beliau tidak menjawab dengan tergesa-gesa, tetapi menjelaskan dengan teliti: "Ghassala artinya membasuh kepala, dan ightasala artinya membasuh seluruh tubuh."
Ini menunjukkan bahwa para ulama terdahulu sangat memperhatikan detail lafaz hadits. Mereka tidak menganggap remeh perbedaan satu kata, karena setiap kata dalam syariat memiliki makna yang dalam. Sikap teliti seperti inilah yang kemudian melahirkan pemahaman yang benar terhadap agama.
Kesimpulan Praktis
- Mandi Jum'at adalah amalan yang sangat ditekankan — sebagian ulama mewajibkannya, dan yang terbaik adalah melaksanakannya dengan sempurna.
- Cara mandi yang sempurna: mulailah dengan membasuh kepala, kemudian basuh seluruh tubuh dengan merata.
- Niatkan mandi Jum'at karena Allah dan untuk menghadiri shalat Jum'at dalam keadaan bersih dan harum.
- Pelajarilah makna lafaz hadits dengan teliti sebagaimana para ulama terdahulu melakukannya, agar kita tidak salah paham terhadap syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.