Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3338 tentang Perselisihan perawi dan keutamaan riwayat Sufyan

Ringkasan Jawaban Singkat

Teks yang Anda bawakan bukanlah hadits Nabi ﷺ, melainkan perkataan (atsar) dari kalangan ulama hadits tentang kaidah menguatkan riwayat Sufyan ats-Tsauri ketika berbeda dengan perawi lain. Perkataan ini dinukil oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya pada Kitab Jual Beli, dan menunjukkan betapa para ulama menghormati keilmuan dan keakuratan Sufyan ats-Tsauri. Kaidah ini bersifat tarjih (memilih riwayat yang lebih kuat), bukan syariat ibadah langsung.

Rujukan Ulama & Dalil

Karena ini bukan hadits Nabi ﷺ, tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus menjadi dalilnya. Namun kaidah ini berkaitan dengan prinsip keadilan dan kejujuran dalam menyampaikan berita, yang dasarnya:

QS. Al-Hujurat [49]: 6

وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti…"

Maknanya: Islam mengajarkan agar berita (termasuk riwayat hadits) tidak diterima begitu saja, tetapi diperiksa kualitas pembawanya dan dibandingkan dengan riwayat lain. Inilah yang dilakukan para ulama hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Sufyan ats-Tsauri.

Terkait pribadi Sufyan ats-Tsauri, Yahya bin Ma'in (seorang ulama jarh wa ta'dil yang termasuk dalam daftar) menyatakan bahwa jika ada yang menyelisihi Sufyan, maka pendapat Sufyan yang dipegang. Ini bukan pengagungan buta, melainkan pengakuan atas keakuratan hafalan dan keilmuan beliau, sebagaimana dikenal dalam kitab-kitab rijal.

Penjelasan Rinci

Teks ini diriwayatkan oleh Abu Dawud as-Sijistani dalam Sunan-nya, dari jalur Ibn Abi Rizmah, yang mendengar ayahnya bercerita: seseorang berkata kepada Syu'bah bin al-Hajjaj (tokoh hadits Bashrah yang sangat teliti), "Sufyan menyelisihimu." Syu'bah menjawab, "Kamu membingungkan pikiranku (دمغتني)." Lalu Ibn Abi Rizmah menyebut bahwa Yahya bin Ma'in berkata, "Siapa pun yang menyelisihi Sufyan, maka perkataan Sufyan yang dipegang."

Beberapa poin penting:

  1. Ini bukan hadits Nabi ﷺ. Ini adalah atsar tentang manhaj ulama dalam menilai riwayat. Karena itu ia tidak berbicara tentang hukum halal-haram secara langsung, melainkan tentang metodologi.
  2. Syu'bah dan Sufyan ats-Tsauri adalah dua imam besar di zamannya. Syu'bah dikenal sebagai amirul mu'minin fil hadits di Bashrah, sedangkan Sufyan ats-Tsauri adalah imam Kufah. Ketika keduanya berbeda, para ulama melakukan tarjih (memilih yang lebih kuat) berdasarkan keakuratan, hafalan, dan kesesuaian dengan riwayat lain.
  3. Yahya bin Ma'in (wafat 233 H), salah satu ulama jarh wa ta'dil terkemuka, menegaskan keunggulan Sufyan. Ini menunjukkan bahwa di kalangan ulama hadits, Sufyan ats-Tsauri memiliki kedudukan sangat tinggi dalam hal hafalan dan ketepatan.
  4. Imam Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin al-Mubarak juga memuji Sufyan ats-Tsauri. Abdullah bin al-Mubarak pernah menyebut Sufyan sebagai orang yang paling mengetahui hadits-hadits Kufah. Imam asy-Syafi'i juga mengakui keilmuan beliau.
  5. Pelajaran adab: Syu'bah tidak marah atau mencela, tetapi mengungkapkan kebingungan karena perbedaan itu. Ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah hal biasa, dan yang dituntut adalah sikap ilmiah, bukan permusuhan.
  6. Kaidah ini tidak mutlak. Perkataan Yahya bin Ma'in "yang dipegang adalah Sufyan" berlaku dalam konteks perbandingan riwayat tertentu, bukan berarti Sufyan tidak pernah salah. Para ulama tetap menilai setiap riwayat dengan kaidah hadits yang baku. Ibnu Hajar al-Asqalani dan Adz-Dzahabi mencatat bahwa Sufyan ats-Tsauri adalah tsiqah hafizh, tetapi tetap manusia yang bisa keliru.

Story Telling

Dikisahkan dalam kitab-kitab rijal bahwa Sufyan ats-Tsauri pernah berkata, "Aku tidak pernah menghafal sesuatu lalu aku lupa." Para ulama menyebut beliau sebagai hafizhul hadits yang hafalannya sangat kuat. Yahya bin Ma'in sendiri dikenal sangat ketat dalam menilai perawi; beliau tidak mudah memuji seseorang. Maka ketika beliau menyatakan bahwa Sufyan lebih diutamakan saat berselisih, itu adalah pengakuan yang berat dan berdasarkan penelitian panjang terhadap riwayat-riwayat Sufyan. Imam Ahmad bin Hanbal juga pernah berkata tentang Sufyan, "Aku tidak pernah mendahulukan seseorang atas Sufyan dalam hadits." Hikmahnya: keilmuan yang benar melahirkan pengakuan yang jujur, bukan kedengkian.

Kesimpulan Praktis

  • Teks ini adalah atsar ulama hadits, bukan hadits Nabi ﷺ, sehingga tidak bisa dijadikan dalil langsung untuk hukum ibadah atau muamalah.
  • Ia mengajarkan pentingnya kejujuran ilmiah dan tarjih dalam menilai riwayat.
  • Kita menghormati para ulama seperti Sufyan ats-Tsauri, Syu'bah, dan Yahya bin Ma'in sebagai imam dalam ilmu hadits, tanpa mengangkat mereka ke derajat maksum.
  • Bagi orang awam, cukup memahami bahwa perbedaan riwayat ditangani oleh ulama dengan kaidah yang ketat; kita mengikuti kesimpulan ulama terpercaya.
  • Jika ingin mendalami, rujuklah kitab-kitab Abu Dawud, Ibnu Hajar, Adz-Dzahabi, dan Ibn Rajab al-Hanbali tentang manhaj hadits.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?