Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kepada kita dua hal penting: pertama, larangan keras memukul atau menyakiti orang lain, termasuk pembantu atau budak, tanpa alasan yang dibenarkan. Kedua, standar keimanan seseorang dinilai dari keyakinannya yang benar kepada Allah ﷻ, dan salah satu bukti keimanan yang paling mendasar adalah menetapkan bahwa Allah berada di atas langit (bersemayam di atas 'Arsy), serta mengakui kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan untuk memerdekakan hamba perempuan tersebut karena jawabannya menunjukkan iman yang benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sumpah dan Nazar, Bab Tentang Hamba Sahaya yang Beriman, nomor 3282. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan merupakan hadits yang shahih menurut para ulama hadits.
Dalil dari Al-Qur'an tentang penetapan Allah di atas langit (sesuai dengan jawaban hamba sahaya yang dibenarkan Nabi ﷺ):
- Nama Surah dan Nomor Ayat: QS. Thaha [20]: 5
- Teks Arab (dengan harakat lengkap):
> الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
- Terjemahan/Makna Ringkas: "(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas 'Arsy."
Dalil dari Hadits terkait:
Dari Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Wahai Rasulullah, aku memiliki seorang budak perempuan yang telah aku tampar." Maka Rasulullah ﷺ menganggap hal itu sebagai perkara yang besar. Aku berkata, "Apakah aku boleh memerdekakannya?" Beliau bersabda, "Bawalah dia kemari." Maka aku pun membawanya. Beliau bertanya, "Di mana Allah?" Dia menjawab, "Di langit." Beliau bertanya lagi, "Siapa aku?" Dia menjawab, "Engkau adalah Rasulullah." Beliau bersabda, "Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah." (HR. Abu Dawud no. 3282 dan Muslim no. 537)
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama Ahlus Sunnah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah, menjadikan hadits ini sebagai dalil utama bahwa Allah ﷻ berada di atas langit, di atas 'Arsy-Nya, dan bahwa keyakinan ini adalah fitrah yang diakui oleh setiap muslim yang beriman. Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga sering menyebutkan hadits ini dalam menjelaskan masalah sifat al-'Uluww (ketinggian Allah) dan al-Istiwa' (bersemayamnya Allah di atas 'Arsy).
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran agung yang dijelaskan oleh para ulama:
- Larangan Memukul Tanpa Hak: Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu mengaku telah menampar budaknya. Nabi ﷺ merasa berat dan menganggap perbuatan itu sebagai kesalahan besar. Ini menunjukkan bahwa memukul orang lain, terutama mereka yang berada di bawah kekuasaan kita (pembantu, karyawan, atau budak), adalah perbuatan yang sangat tercela. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa memukul wajah itu dilarang keras, dan memukul tanpa alasan syar'i adalah kezaliman.
- Standar Keimanan yang Hakiki: Ketika Mu'awiyah ingin menebus kesalahannya dengan memerdekakan budaknya, Nabi ﷺ tidak langsung menerima. Beliau menguji keimanan budak tersebut dengan dua pertanyaan kunci:
- "Di mana Allah?" Budak itu menjawab, "Di langit." Jawaban ini adalah jawaban yang benar dan sesuai dengan fitrah. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin meyakini Allah berada di atas, berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa pertanyaan Nabi ﷺ ini adalah untuk menguji apakah budak tersebut memiliki akidah yang benar tentang Rabb-nya. Jawaban "di langit" bukan berarti Allah menempati tempat, tetapi menetapkan sifat al-'Uluww (ketinggian) dan al-Istiwa' (bersemayam di atas 'Arsy) tanpa menanyakan bagaimana caranya (bila kaif).
- "Siapa aku?" Budak itu menjawab, "Engkau adalah Rasulullah." Ini adalah pengakuan terhadap risalah Nabi Muhammad ﷺ.
- Kesimpulan Nabi ﷺ: Karena jawaban budak itu benar dan menunjukkan iman yang mantap, Nabi ﷺ bersabda, "Merdekakanlah dia, karena sesungguhnya dia adalah seorang mukminah." Ini adalah dalil bahwa akidah yang benar adalah syarat diterimanya amal. Meskipun budak itu pernah ditampar, keimanannya yang benar membuatnya mulia di sisi Allah.
Perbedaan Pendapat (Jika Ada): Para ulama sepakat bahwa hadits ini shahih dan menjadi dalil akidah. Namun, ada perbedaan dalam hal kaifiyah (cara) Allah bersemayam. Imam Malik ketika ditanya tentang istiwa', beliau menjawab, "Al-Istiwa' ma'lum, wal kaifu majhul, wal imanu bihi wajib, was-su'al 'anhu bid'ah" (Istiwa' itu diketahui maknanya, caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentang caranya adalah bid'ah). Ini adalah madzhab salaf yang dipegang oleh para ulama dalam daftar rujukan kita, seperti Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Taimiyyah, dan selainnya.
Story Telling
Dari kisah Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami ini, kita bisa mengambil hikmah yang sangat dalam. Beliau adalah seorang sahabat yang baru masuk Islam dan masih memiliki sifat jahiliyah, yaitu mudah marah dan memukul. Namun, ketika beliau mengakui kesalahannya di hadapan Nabi ﷺ, beliau tidak dibiarkan begitu saja. Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya adab dan akhlak yang mulia.
Yang lebih menakjubkan adalah kecerdasan dan keimanan budak perempuan tersebut. Meskipun statusnya sebagai budak, Allah ﷻ memberinya taufik untuk menjawab pertanyaan Nabi ﷺ dengan jawaban yang tepat. Ini membuktikan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari status sosial, tetapi dari keimanan dan keyakinan yang benar. Kisah ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat perhatian terhadap pendidikan akidah, bahkan kepada seorang budak perempuan sekalipun. Beliau tidak langsung memerintahkan pembebasan, tetapi terlebih dahulu menguji dan mengajarkan tauhid.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Menjaga Lisan dan Tangan: Jangan pernah menyakiti orang lain, baik dengan perkataan maupun perbuatan, terutama kepada mereka yang berada di bawah tanggung jawab kita. Jika kita bersalah, segera bertaubat dan minta maaf.
- Mempelajari dan Mengajarkan Akidah yang Benar: Pelajarilah keyakinan yang benar tentang Allah ﷻ, bahwa Dia Maha Tinggi dan bersemayam di atas 'Arsy-Nya, tanpa menanyakan bagaimana caranya. Ajarkan hal ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
- Menjadikan Akidah sebagai Tolok Ukur: Nilai seseorang di sisi Allah adalah keimanannya. Oleh karena itu, perbaikilah selalu keyakinan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, karena itu adalah modal utama keselamatan kita.
- Bersegera dalam Kebaikan: Ketika kita melakukan kesalahan, maka tebuslah dengan kebaikan. Seperti Mu'awiyah yang ingin memerdekakan budaknya sebagai bentuk penyesalan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.