Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3263 tentang Sumpah Nabi dengan demi Allah yang membolak-balikkan hati

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sering bersumpah dengan lafaz "لَا، وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ" ("Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati"). Sumpah ini mengandung pengagungan kepada Allah sebagai satu-satunya Dzat yang menguasai dan mengubah keadaan hati manusia. Para ulama menjelaskan bahwa bersumpah dengan nama Allah atau sifat-Nya dibolehkan, dan lafaz ini mengajarkan kita untuk selalu bergantung kepada Allah dalam menjaga keimanan dan hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama (Sunan Abu Dawud no. 3263, Kitab Sumpah dan Nazar):

Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Sumpah yang paling sering digunakan Rasulullah ﷺ adalah: 'لَا، وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ'."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya. Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan makna serupa dalam Shahih-nya dari Ibnu 'Umar, dan Imam an-Nawawi menyebutkannya dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas bab sumpah Nabi ﷺ.

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — tentang Allah yang membolak-balikkan hati:

QS. Ali 'Imran [3]: 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

"Wahai Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

QS. Al-An'am [6]: 110

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ

"Dan Kami membolak-balikkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana mereka tidak beriman kepadanya pada kali pertama."

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah-lah yang menguasai hati manusia, membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Inilah makna yang terkandung dalam sumpah Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Pertama: Bolehnya bersumpah dengan nama atau sifat Allah.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa bersumpah dengan nama Allah atau salah satu sifat-Nya adalah boleh dan bahkan merupakan bentuk pengagungan. Yang terlarang adalah bersumpah dengan selain Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa bersumpah, hendaklah ia bersumpah dengan Allah atau diam." (HR. Al-Bukhari).

Lafaz "مُقَلِّبِ الْقُلُوبِ" (Membolak-balikkan hati) adalah salah satu sifat Allah. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hati manusia itu berada di antara dua jari Allah, dan Allah-lah yang mengarahkannya sesuai kehendak-Nya. Karena itu, seorang hamba harus selalu memohon keteguhan hati kepada Allah.

Kedua: Makna kata "لَا" di awal sumpah.

Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kata "لَا" di sini bukanlah penafian, melainkan semacam pembuka sumpah atau penegasan. Ada juga yang memahami bahwa Nabi ﷺ mengucapkannya sebagai jawaban atas pertanyaan atau konteks tertentu, lalu dilanjutkan dengan sumpah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa lafaz sumpah Nabi ﷺ biasanya singkat namun padat makna, dan beliau sering mengulang sumpah tertentu yang mengandung pelajaran tauhid.

Ketiga: Hikmah memilih sifat "Membolak-balikkan hati".

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hati manusia sangat mudah berubah. Seseorang bisa beriman di pagi hari dan berubah di sore hari. Karena itu, Nabi ﷺ sering bersumpah dengan sifat ini untuk mengingatkan bahwa hanya Allah yang mampu meneguhkan hati di atas kebenaran. Imam as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa membolak-balikkan hati adalah bukti kesempurnaan kekuasaan Allah dan kebutuhan mutlak hamba kepada-Nya.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama.

Sebagian ulama seperti Ishaq bin Rahuyah dan Imam Ahmad membolehkan bersumpah dengan sifat Allah secara mutlak. Sedangkan sebagian ulama lain lebih berhati-hati dan membatasi pada sifat-sifat yang jelas disebutkan dalam nash. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa — adalah bahwa bersumpah dengan nama atau sifat Allah dibolehkan karena sumpah itu pada hakikatnya adalah penyebutan Allah, dan itu termasuk bentuk ibadah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma — seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ — memperhatikan betul lafaz sumpah yang sering diucapkan Rasulullah ﷺ. Beliau menyampaikan hal ini kepada murid-muridnya agar umat mengetahui cara bersumpah yang diajarkan Nabi ﷺ. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ibnu 'Umar sendiri sering bersumpah dengan lafaz: "لَا، وَمُقَلِّبِ الْقُلُوبِ" mengikuti Nabi ﷺ.

Dalam riwayat lain, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang sesuatu, beliau kadang bersumpah dengan lafaz ini untuk menegaskan jawabannya. Para sahabat memahami bahwa sumpah Nabi ﷺ bukanlah sumpah sembarangan, melainkan mengandung pengagungan kepada Allah dan pengakuan bahwa segala sesuatu — termasuk hati manusia — berada di bawah kekuasaan-Nya.

Hikmah: Seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa hatinya bisa berubah kapan saja. Maka ia harus selalu berdoa seperti doa Nabi ﷺ yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi: "يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ" ("Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu").

Kesimpulan Praktis

  1. Bersumpahlah hanya dengan nama Allah atau sifat-Nya, dan jangan bersumpah dengan selain Allah.
  2. Perbanyak doa memohon keteguhan hati, karena hati manusia mudah berubah dan hanya Allah yang mampu meneguhkannya.
  3. Renungkan sifat Allah "Membolak-balikkan hati" — ini menumbuhkan rasa tawadhu, ketergantungan kepada Allah, dan menjauhkan diri dari merasa aman dari fitnah.
  4. Ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam bersumpah — lafaz yang beliau gunakan singkat, padat, dan penuh makna tauhid.
  5. Jangan mengucapkan sumpah dengan sembarangan, karena sumpah adalah penyebutan nama Allah yang harus dijaga adabnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?