Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, jika seseorang tanpa sengaja bersumpah dengan nama berhala (seperti Al-Lat) karena kebiasaan masa jahiliyah, maka ia harus segera mengucapkan kalimat tauhid "Lā ilāha illallāh" sebagai bentuk taubat dan pemurnian iman. Kedua, jika seseorang mengajak orang lain untuk berjudi (walaupun hanya bercanda), maka ia harus bersedekah sebagai penebus dosa dan agar hatinya tidak terikat pada perbuatan haram. Hadits ini menekankan pentingnya menjaga lisan dan menjauhi segala bentuk kesyirikan serta perbuatan yang diharamkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 225
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللّٰهُ بِاللَّغْوِ فِيْٓ اَيْمَانِكُمْ وَلٰكِنْ يُّؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja (tetapi Dia menghukum kamu) disebabkan apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."
Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 3247), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1647) dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Al-Zuhri (yang menjadi salah satu perawi dalam sanad hadits ini), Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kemurnian tauhid dan kebersihan lisan dari perkataan yang mengandung unsur syirik atau mengarah kepada kemaksiatan.
Penjelasan Rinci
1. Makna "Bersumpah dengan Al-Lat"
Al-Lat adalah salah satu berhala terbesar yang disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah sebelum Islam. Berhala ini terletak di Tha'if dan sangat diagungkan oleh kaum musyrikin. Ketika Islam datang, Allah mengharamkan bersumpah dengan selain nama Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa bersumpah, maka janganlah ia bersumpah kecuali dengan nama Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, karena sebagian orang yang baru masuk Islam masih terbiasa dengan ucapan jahiliyah, mereka terkadang tanpa sengaja mengucapkan "Demi Al-Lat" atau "Demi Uzza" ketika bersumpah. Maka Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk segera mengucapkan "Lā ilāha illallāh" sebagai penebus dan pembersih lisan dari ucapan syirik tersebut.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa perintah mengucapkan kalimat tauhid di sini adalah sebagai bentuk istighfar dan taubat, karena kalimat tauhid adalah kalimat yang menghapus segala bentuk kesyirikan. Beliau juga menegaskan bahwa bersumpah dengan nama berhala termasuk perbuatan yang diharamkan, namun jika terjadi karena kebiasaan lama (bukan disengaja untuk mengagungkan berhala), maka cukup dengan mengucapkan kalimat tauhid dan tidak ada kewajiban kafarat (tebusan) lainnya menurut pendapat yang kuat.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap lisan seseorang. Ucapan "Demi Al-Lat" meskipun hanya sekedar kebiasaan, tetap harus segera diikuti dengan kalimat tauhid agar hati dan lisan senantiasa bersih dari noda syirik.
2. Makna "Ajaklah Teman Berjudi"
Perkataan "Ta'āla uqāmirka" (Ayo kita berjudi) adalah ajakan kepada perbuatan judi yang diharamkan dalam Islam. Judi (maysir) termasuk perbuatan yang sangat dilarang, sebagaimana firman Allah:
QS. Al-Ma'idah [5]: 90
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung."
Nabi ﷺ memerintahkan orang yang mengucapkan ajakan judi tersebut untuk bersedekah. Ini adalah bentuk pendidikan yang sangat indah: setiap kali seseorang terjatuh dalam perkataan yang mengarah kepada kemaksiatan, ia harus segera melakukan kebaikan sebagai penebus dan pembersih.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perintah bersedekah di sini adalah sebagai kafarat (tebusan) atas ucapan buruk tersebut, meskipun tidak sampai melakukan perbuatan judi. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat ketat dalam menjaga lisan, bahkan sekadar ajakan pun harus ditebus dengan sedekah.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam salah satu fatwanya menjelaskan bahwa hadits ini juga menunjukkan bahwa mengucapkan perkataan yang mengandung ajakan maksiat, walaupun hanya bercanda, tetap berdosa dan perlu ditebus dengan amal kebaikan. Beliau menekankan bahwa seorang mukmin harus menjaga lisannya dari segala perkataan yang bisa menjerumuskan dirinya atau orang lain ke dalam dosa.
3. Hikmah di Balik Kedua Perintah Ini
Para ulama menjelaskan bahwa kedua perintah ini memiliki hikmah yang dalam:
- Mengucapkan kalimat tauhid setelah bersumpah dengan nama berhala adalah untuk membersihkan hati dan lisan dari sisa-sisa syirik, serta menegaskan kembali keimanan seseorang.
- Bersedekah setelah mengajak berjudi adalah untuk mengganti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, melatih jiwa untuk gemar memberi, dan menutup pintu menuju perbuatan haram.
Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengandung unsur maksiat harus segera diikuti dengan taubat dan amal shalih. Beliau juga menegaskan bahwa sedekah di sini hukumnya sunnah (dianjurkan), bukan wajib, menurut pendapat yang lebih kuat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang baru masuk Islam. Suatu hari, karena kebiasaan lamanya di masa jahiliyah, ia tanpa sengaja mengucapkan "Demi Al-Lat" ketika berbicara dengan temannya. Ia langsung merasa sangat menyesal dan takut bahwa keislamannya menjadi rusak. Ia pun mendatangi Rasulullah ﷺ dan menceritakan kejadian tersebut.
Rasulullah ﷺ tersenyum dan bersabda kepadanya: "Ucapkanlah: Lā ilāha illallāh. Dan janganlah engkau mengulangi perkataan itu lagi." Sahabat itu pun merasa lega dan berjanji untuk menjaga lisannya.
Kisah ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh kasih sayang. Allah tidak menghukum hamba-Nya karena kesalahan yang tidak disengaja, tetapi Dia mengajarkan cara untuk bertaubat dan membersihkan diri. Yang terpenting adalah kesungguhan untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan dari bersumpah dengan selain nama Allah. Jika tanpa sengaja terlanjur mengucapkan sumpah dengan nama berhala atau selain Allah, maka segera ucapkan "Lā ilāha illallāh" sebagai pembersih dan taubat.
- Jauhi segala bentuk ajakan kepada judi atau perbuatan haram lainnya. Jika terlanjur mengucapkannya, walaupun hanya bercanda, maka bersedekahlah sebagai penebus dan latihan jiwa untuk berbuat baik.
- Sadari bahwa lisan adalah pintu besar menuju kebaikan atau keburukan. Seorang mukmin harus selalu menjaga perkataannya karena setiap ucapan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
- Perbanyak istighfar dan kalimat tauhid dalam keseharian agar hati senantiasa bersih dan terhindar dari noda syirik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.