Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3177 tentang Larangan menunggangi hewan saat malaikat mengiringi jenazah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan adab mulia Nabi ﷺ dalam mengiringi jenazah, yaitu berjalan kaki di belakang jenazah karena para malaikat turut hadir dan berjalan bersama jenazah tersebut. Beliau menolak menaiki kendaraan selama para malaikat berjalan, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap kehadiran mereka. Setelah jenazah dikebumikan dan para malaikat pergi, barulah beliau menaiki kendaraan. Ini mengajarkan kita tentang tawadhu' (rendah hati) dan adab yang tinggi dalam urusan ibadah dan penghormatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Tsauban (mantan budak Rasulullah ﷺ). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan An-Nasa'i. Derajat hadits ini shahih menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman tentang kehadiran malaikat bersama orang-orang beriman:

> وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

> "Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya."

> (QS. Ali 'Imran [3]: 123)

Ayat ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah salah satunya melalui para malaikat yang turun membantu kaum mukminin. Ini menguatkan pemahaman bahwa malaikat hadir dalam berbagai keadaan, termasuk saat mengiringi jenazah.

Hadits Pendukung Lainnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ

> "Barangsiapa yang menghadiri jenazah sampai ia menshalatkannya, maka baginya satu qirath. Dan barangsiapa yang menghadiri sampai ia dikuburkan, maka baginya dua qirath."

> (HR. Al-Bukhari no. 1325, Muslim no. 945)

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar mengiringi jenazah, yang juga menguatkan pentingnya adab dalam pelaksanaannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Kehadiran Malaikat Saat Mengiringi Jenazah

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa para malaikat turut hadir dan berjalan bersama jenazah orang mukmin. Ini adalah bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang beriman. Kehadiran malaikat ini menjadi alasan mengapa Nabi ﷺ memilih berjalan kaki.

2. Adab Menghormati Kehadiran Malaikat

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ menolak menaiki kendaraan saat para malaikat berjalan adalah bentuk pengagungan terhadap makhluk Allah yang mulia. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus memiliki rasa hormat kepada malaikat, terlebih dalam keadaan ibadah seperti mengiringi jenazah.

3. Hukum Berjalan Kaki atau Berkendara Saat Mengiringi Jenazah

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya:

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan mayoritas ulama berpendapat bahwa berjalan kaki lebih utama daripada berkendara saat mengiringi jenazah, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang menunjukkan Nabi ﷺ berjalan kaki.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa berkendara diperbolehkan, namun berjalan kaki tetap lebih utama.
  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Malik juga cenderung kepada pendapat bahwa berjalan kaki lebih utama, namun berkendara tidaklah terlarang jika ada kebutuhan.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa jika ada kebutuhan seperti jarak yang jauh atau kondisi yang tidak memungkinkan, maka berkendara diperbolehkan. Namun yang lebih utama adalah berjalan kaki selama tidak memberatkan.

4. Hikmah di Balik Tindakan Nabi ﷺ

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ ini mengajarkan kita tentang tawadhu' (kerendahan hati) dan adab dalam beribadah. Beliau tidak ingin terlihat lebih tinggi dari para malaikat yang sedang berjalan, padahal beliau adalah manusia paling mulia di sisi Allah.

5. Pelajaran tentang Niat dan Keikhlasan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan pentingnya menjaga adab dalam setiap amalan, karena amalan yang dilakukan dengan adab yang baik akan lebih sempurna pahalanya di sisi Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sangat memperhatikan adab dalam mengiringi jenazah. Beliau pernah ditanya tentang seseorang yang mengiringi jenazah sambil berkendara, maka beliau menjawab bahwa berjalan kaki lebih utama. Bahkan disebutkan bahwa Imam Ahmad sendiri selalu berjalan kaki ketika mengiringi jenazah, meskipun jaraknya jauh, sebagai bentuk pengamalan sunnah Nabi ﷺ dan penghormatan kepada para malaikat yang hadir.

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat bersemangat dalam meneladani Nabi ﷺ dalam hal-hal yang tampak kecil sekalipun, karena mereka memahami bahwa kesempurnaan ibadah terletak pada mengikuti sunnah dengan detail.

Kesimpulan Praktis

  1. Berjalan kaki saat mengiringi jenazah lebih utama daripada berkendara, selama tidak memberatkan.
  2. Menghormati kehadiran malaikat dengan tidak melakukan hal-hal yang menunjukkan kesombongan atau keangkuhan.
  3. Menjaga adab dalam setiap ibadah, karena kesempurnaan ibadah tidak hanya pada rukunnya, tetapi juga pada adab dan caranya.
  4. Berkendara diperbolehkan jika ada kebutuhan, seperti jarak jauh, kondisi sakit, atau cuaca yang tidak memungkinkan.
  5. Meneladani Nabi ﷺ dalam hal-hal kecil sekalipun, karena setiap tindakan beliau mengandung hikmah dan kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?