Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memerintahkan membaca Surah Yasin di sisi orang yang sedang menjelang wafat (sakarul maut), bukan setelah jenazah dimandikan atau dikuburkan. Para ulama berbeda pendapat tentang derajat hadits ini: sebagian melemahkannya, sebagian menerimanya sebagai amalan yang dianjurkan. Yang paling selamat adalah membacakannya di sisi orang yang sedang sekarat dengan niat meringankan dan mengingatkan kepada Allah, tanpa meyakini bahwa bacaan itu pasti mengubah takdir.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (Sunan Abu Dawud no. 3121):
Teks Arab hadits:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ مَكِّيٍّ الْمَرْوَزِيُّ، قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
Terjemahan: Dari Ma'qil bin Yasar, Nabi ﷺ bersabda: "Bacalah Yasin di atas orang-orang yang sedang sekarat di antara kalian."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Az-Zumar [39]: 42
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Terjemahan: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir."
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Al-Adzkar menyebutkan hadits ini ketika membahas amalan yang dilakukan di sisi orang yang sedang sakarul maut, dan beliau menilai hadits ini dha'if (lemah) dari sisi sanad.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ahkam al-Jana'iz (Kitab Ruh) membahas hadits ini dan menyebutkan bahwa sebagian ulama mempersoalkan sanadnya, namun maknanya sejalan dengan anjuran menuntun orang yang sedang sakarul maut dengan kalimat tauhid dan bacaan Al-Qur'an.
- Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil dan Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah menilai hadits ini dha'if karena dalam sanadnya terdapat Abu Utsman (bukan an-Nahdi) dan ayahnya yang tidak dikenal (majhul).
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti' menyebutkan bahwa hadits ini lemah, namun sebagian ulama tetap menganjurkan membaca Yasin di sisi orang yang sedang sakarul maut karena ada riwayat lain yang menguatkan maknanya secara umum.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Kata "مَوْتَاكُمْ" (mautakum) dalam hadits ini dipahami oleh para ulama dalam dua makna:
- Orang yang sedang sakarul maut (menjelang wafat) — ini pendapat yang lebih kuat menurut jumhur ulama, termasuk Imam an-Nawawi dan Ibn Qayyim. Dalilnya adalah konteks hadits yang berbicara tentang keadaan menjelang kematian, bukan setelah kematian.
- Jenazah yang sudah meninggal — sebagian ulama memahaminya demikian, namun ini pendapat yang lebih lemah karena amalan setelah kematian berbeda konteksnya.
Pandangan ulama tentang derajat hadits:
- Ibn al-Mubarak (perawi dalam sanad ini) adalah ulama yang tsiqah (terpercaya), namun dalam sanad terdapat Abu Utsman dan ayahnya yang tidak dikenal identitasnya secara jelas. Karena itu, Imam an-Nawawi, Ibn Qayyim, dan Syeikh al-Albani menilai hadits ini dha'if (lemah).
- Meskipun demikian, Syeikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa kelemahan hadits ini tidak berarti amalan tersebut terlarang, karena:
- Membaca Al-Qur'an di sisi orang yang sedang sakarul maut adalah amalan yang baik secara umum.
- Ada riwayat-riwayat lain yang menganjurkan menuntun orang yang sedang sakarul maut dengan kalimat tauhid (لا إله إلا الله).
- Para ulama salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri menganjurkan untuk membacakan Al-Qur'an di sisi orang yang sedang menjelang wafat.
Hikmah membaca Yasin di sisi orang yang sakarul maut:
Menurut Ibn Qayyim dalam Ahkam al-Jana'iz, hikmahnya adalah:
- Surah Yasin berisi tentang tauhid, kebangkitan, dan hari akhir — hal-hal yang perlu diingatkan kepada orang yang sedang menghadapi kematian.
- Membacakan Al-Qur'an di sisinya dapat mendatangkan ketenangan dan rahmat dari Allah.
- Ini adalah bentuk ta'awun (tolong-menolong) dalam kebaikan dan mengingatkan kepada Allah di saat-saat terakhir.
Perbedaan pendapat:
- Jumhur ulama (Imam an-Nawawi, Ibn Qayyim, Ibn Hajar al-Asqalani) : Hadits ini lemah, namun amalan membaca Yasin di sisi orang sakarul maut tetap dianjurkan karena ada dasar umum dari Al-Qur'an dan hadits-hadits lain tentang menuntun orang yang sedang sakarul maut.
- Syeikh al-Albani: Hadits ini lemah, dan beliau tidak menganjurkan untuk mengkhususkan Yasin, namun menganjurkan untuk menuntun dengan kalimat tauhid.
- Syeikh al-Utsaimin: Hadits lemah, namun tidak mengapa membaca Al-Qur'an secara umum di sisi orang yang sedang sakarul maut, termasuk Yasin, selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau keyakinan bahwa bacaan itu pasti mengubah takdir.
Yang paling kuat:
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa hadits ini dha'if dari sisi sanad, namun amalan membaca Al-Qur'an — termasuk Yasin — di sisi orang yang sedang sakarul maut adalah amalan yang baik dan tidak terlarang, selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau keyakinan yang berlebihan. Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Syeikh al-Utsaimin dan sejalan dengan semangat Ibn Qayyim dalam Ahkam al-Jana'iz.
Story Telling
Kisah dari salaf tentang membaca Al-Qur'an di sisi orang yang sedang sakarul maut:
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H) — seorang tabi'in yang terkenal — ketika ada seseorang yang sedang sakarul maut, beliau menganjurkan untuk membacakan Al-Qur'an di sisinya dan menuntunnya dengan kalimat tauhid. Beliau berkata: "Sesungguhnya Al-Qur'an adalah rahmat, dan membacakannya di sisi orang yang sedang menghadapi kematian adalah bentuk rahmat bagi orang yang hidup dan yang sedang sakarul maut."
Sufyan ats-Tsauri (wafat 161 H) juga disebutkan dalam Hilyat al-Auliya' bahwa beliau menganjurkan untuk membacakan Surah Yasin di sisi orang yang sedang sakarul maut, dengan niat meringankan beban dan mengingatkan kepada Allah, bukan dengan keyakinan bahwa bacaan itu pasti mengubah takdir.
Hikmah: Para salaf memahami bahwa amalan ini adalah bentuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan bentuk kasih sayang kepada sesama muslim yang sedang menghadapi ujian besar. Mereka tidak meyakini bahwa bacaan itu memiliki kekuatan magis, tetapi sebagai wasilah (perantara) untuk mendatangkan rahmat Allah.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Surah Yasin di sisi orang yang sedang sakarul maut (menjelang wafat), bukan setelah jenazah dimandikan atau dikuburkan, dengan niat meringankan dan mengingatkan kepada Allah.
- Jangan meyakini bahwa bacaan Yasin pasti mengubah takdir atau sebagai syarat mutlak. Ini adalah amalan yang dianjurkan, bukan kewajiban.
- Utamakan menuntun dengan kalimat tauhid (لا إله إلا الله) di sisi orang yang sedang sakarul maut, karena ini adalah amalan yang paling jelas dalilnya dari hadits-hadits shahih.
- Jika tidak bisa membaca Yasin, bacalah ayat-ayat Al-Qur'an yang lain atau dzikir kepada Allah. Yang penting adalah menghadirkan hati dan niat yang ikhlas.
- Jangan berdebat tentang derajat hadits ini di sisi orang yang sedang sakarul maut. Fokuslah pada meringankan beban dan mendoakan kebaikan.
- Ikutilah pendapat ulama yang paling kuat dalam masalah ini, yaitu bahwa hadits ini lemah namun amalannya tetap baik, sebagaimana dirajihkan oleh Syeikh al-Utsaimin dan Ibn Qayyim.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.