Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dalil utama tentang disyariatkannya talqin (membimbing) orang yang sedang menghadapi sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tauhid, "Laa ilaaha illallah". Tujuannya agar kalimat terakhir yang diucapkan oleh seorang muslim adalah kalimat tauhid, sehingga ia wafat di atas fitrah dan mendapatkan kabar gembira masuk surga. Ini adalah sunnah yang agung dan bentuk kasih sayang kepada orang yang akan meninggal.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Hadits Riwayat Abu Dawud:
Hadits yang Anda tanyakan adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab At-Talqin, no. 3117. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jana'iz, Bab Talqin Al-Mawta, no. 916, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.
2. Hadits Pendukung Lainnya:
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> "مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ"
>
> "Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah 'Laa ilaaha illallah', maka ia masuk surga."
>
> (HR. Abu Dawud no. 3116, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)
3. Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf telah membahas dan mensyarahkan hadits ini. Di antaranya:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (jilid 6, hlm. 208) menjelaskan bahwa talqin kepada orang yang akan meninggal adalah mustahab (sunnah) menurut kesepakatan ulama. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama tentang disunnahkannya hal ini.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (jilid 3, hlm. 185) juga membahas hadits ini dan menjelaskan adab-adab talqin.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin (jilid 2, hlm. 345) menjelaskan bahwa talqin dilakukan dengan lembut, tidak dengan memaksa atau mengulang-ulang secara berlebihan yang bisa menyusahkan orang yang sedang sekarat.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits
Sabda Nabi ﷺ, "Laaqinuu mawtaakum" artinya "Talqinkanlah orang-orang yang akan meninggal di antara kalian." Kata talqin secara bahasa berarti mengajarkan, membimbing, atau mengilhamkan. Dalam konteks ini, talqin adalah upaya membimbing orang yang sedang sekarat agar lisannya mengucapkan kalimat tauhid.
Hukum Talqin
Para ulama sepakat bahwa talqin hukumnya sunnah (mustahab), bukan wajib. Ini adalah bentuk kasih sayang dan pertolongan kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut. Imam An-Nawawi berkata: "Para ulama sepakat atas disunnahkannya talqin bagi orang yang akan meninggal, berdasarkan hadits ini."
Adab-Adab Talqin
Berdasarkan penjelasan para ulama, berikut adab-adab talqin:
- Dilakukan dengan lembut dan pelan, tidak dengan suara keras atau memaksa. Syaikh Al-Utsaimin menegaskan bahwa talqin tidak boleh dilakukan dengan cara yang menyusahkan orang yang sedang sekarat.
- Tidak diulang-ulang secara berlebihan. Jika orang tersebut sudah mengucapkannya, maka berhentilah. Jika ia berbicara yang lain, barulah diingatkan kembali dengan lembut.
- Orang yang menalqin adalah orang yang dekat dan dikenal oleh orang yang sakit, agar lebih mudah diterima.
- Tidak boleh berkata "kamu akan mati" atau kalimat yang menakutkan. Cukup bisikkan kalimat tauhid dengan harapan ia mengikutinya.
Hikmah Talqin
Hikmah terbesar dari talqin adalah agar kalimat terakhir yang diucapkan oleh seorang muslim adalah kalimat tauhid. Karena Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa akhir perkataannya adalah "Laa ilaaha illallah", maka ia masuk surga. Ini adalah kabar gembira yang sangat agung.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya Ar-Ruh menjelaskan bahwa talqin ini adalah bentuk kasih sayang dan bantuan kepada orang yang sedang sakaratul maut, karena pada saat itu ia sedang menghadapi penderitaan yang sangat berat, sehingga ia membutuhkan orang yang mengingatkannya kepada Allah dan kalimat tauhid.
Story Telling
Dahulu, ada seorang sahabat yang sedang menghadapi sakaratul maut. Keluarganya berkumpul di sekelilingnya dengan wajah cemas. Di antara mereka ada yang menangis, ada yang hanya terdiam.
Melihat hal itu, seorang ulama yang hadir di majelis tersebut mendekat dan membisikkan dengan lembut ke telinga orang yang sedang sekarat itu, "Laa ilaaha illallah... Laa ilaaha illallah..."
Orang yang sedang sekarat itu sempat terdiam, lalu perlahan-lahan lisannya bergerak mengikuti bisikan tersebut. Ia mengucapkan, "Laa ilaaha illallah..." dengan suara yang sangat pelan.
Setelah itu, wajahnya tampak tenang, dan tidak lama kemudian ia pun wafat. Keluarganya bersyukur, karena mereka menyaksikan sendiri bahwa kalimat terakhir yang diucapkan oleh orang yang mereka cintai adalah kalimat tauhid.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa talqin adalah bentuk kasih sayang yang nyata. Kita tidak bisa memastikan amalan apa yang akan menjadi penutup hidup seseorang, tetapi kita bisa berusaha menjadi sebab kebaikan baginya dengan membimbingnya mengucapkan kalimat tauhid.
Kesimpulan Praktis
- Talqin adalah sunnah yang dianjurkan bagi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.
- Lakukan dengan lembut dan penuh kasih sayang, tanpa memaksa atau mengulang-ulang secara berlebihan.
- Cukup bisikkan kalimat "Laa ilaaha illallah" dengan harapan ia mengikutinya.
- Jangan berkata-kata yang menakutkan atau membuat orang yang sakit semakin cemas.
- Perbanyak doa untuk kebaikan orang yang sakit, semoga Allah memudahkan sakaratul mautnya dan menutup hidupnya dengan husnul khatimah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.