Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3113 tentang Berbaik sangka kepada Allah saat menghadapi kematian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah wasiat agung dari Nabi ﷺ di penghujung hidup beliau. Intinya, seorang muslim hendaknya tidak menghadapi kematian kecuali dalam keadaan berbaik sangka (husnuzh-zhan) kepada Allah ﷻ. Ini bukan berarti kita boleh berbuat maksiat lalu merasa aman, melainkan kita berharap rahmat dan ampunan Allah seraya berusaha memperbaiki diri. Berbaik sangka kepada Allah di saat sakratul maut adalah buah dari keyakinan yang benar selama hidup, dan ia menjadi sebab husnul khatimah (akhir yang baik).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sesuai riwayat yang Anda sebutkan):

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلاَثٍ قَالَ " لاَ يَمُوتُ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ "

"Tidak ada seorang pun dari kalian yang mati kecuali ia berbaik sangka kepada Allah." (HR. Abu Dawud no. 3113)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2877) dari jalan Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Juga firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَنزِلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji." (QS. Asy-Syura [42]: 28)

Penjelasan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah anjuran untuk berbaik sangka kepada Allah saat menjelang kematian, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah 'Azza wa Jalla." Beliau juga menukil bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang dianjurkannya berbaik sangka kepada Allah di saat sakaratul maut, karena hal itu termasuk sebab husnul khatimah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa berbaik sangka kepada Allah di saat kematian bukanlah sekadar angan-angan kosong. Ia adalah buah dari keimanan yang benar dan amal shalih yang dilakukan selama hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa berbaik sangka kepada Allah harus disertai dengan taubat dan kembali kepada-Nya. Jika seseorang berbaik sangka kepada Allah namun terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa taubat, maka itu adalah bentuk penipuan terhadap diri sendiri, bukan husnuzh-zhan yang diajarkan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa berbaik sangka kepada Allah adalah dengan meyakini bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Menerima taubat. Keyakinan ini akan mendorong seseorang untuk bersegera dalam ketaatan dan menjauhi larangan-Nya, karena ia tahu Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa husnuzh-zhan kepada Allah di saat kematian adalah puncak dari perjalanan seorang hamba. Beliau menukil bahwa orang yang selama hidupnya selalu berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memudahkan akhir hayatnya dengan kebaikan. Sebaliknya, orang yang berburuk sangka kepada Allah, maka ia akan menghadapi kematian dalam keadaan buruk.

Perlu ditegaskan di sini: berbaik sangka kepada Allah di saat kematian tidaklah bertentangan dengan rasa takut kepada Allah. Seorang mukmin berada di antara khauf (takut) dan raja' (harap). Ia takut akan siksa Allah karena dosa-dosanya, namun ia berharap rahmat dan ampunan-Nya. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya tentang seorang yang berharap kepada Allah di saat sakaratul maut, beliau menjawab bahwa hal itu baik, selama ia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menjelang wafat, beliau bersabda: "Shalat, shalat, dan budak-budak yang kalian miliki." Beliau terus mengulanginya hingga lisannya tidak mampu lagi mengucapkannya. Namun di saat yang sama, beliau mengajarkan umatnya untuk berbaik sangka kepada Allah.

Ada kisah indah dari seorang salaf bernama Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Beliau pernah ditanya tentang seorang yang berbaik sangka kepada Allah, lalu beliau berkata: "Berbaik sangka kepada Allah adalah engkau meyakini bahwa Allah akan merahmatimu, mengampunimu, dan menerima amalmu. Barangsiapa yang berbaik sangka kepada Allah, maka ia akan beramal dengan sungguh-sungguh. Dan barangsiapa yang berburuk sangka kepada Allah, maka ia akan beramal dengan malas dan penuh kelalaian."

Kisah lain datang dari Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah. Beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada seorang hamba yang berbaik sangka kepada Allah di saat sakaratul maut. Karena sesungguhnya Allah Maha Pemurah, dan Dia tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang berharap kepada-Nya."

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan, terutama saat menghadapi ujian dan musibah, karena itu adalah ibadah hati yang agung.
  2. Jangan berputus asa dari rahmat Allah meskipun dosa kita banyak. Allah mengampuni dosa-dosa semuanya bagi yang bertaubat.
  3. Seimbangkan antara harap dan takut — berharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya, keduanya adalah sifat orang mukmin.
  4. Perbaiki amal dan taubat — husnuzh-zhan bukan alasan untuk bermaksiat, melainkan motivasi untuk lebih dekat kepada Allah.
  5. Ajarkan kepada keluarga dan orang sakit — saat menjenguk orang sakit atau menjelang kematian, ingatkan mereka untuk berbaik sangka kepada Allah dan jangan biarkan mereka berputus asa.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?