Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3109 tentang Larangan menginginkan kematian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini melarang seorang Muslim menginginkan kematian karena kesulitan atau musibah yang menimpanya. Islam mengajarkan agar kita bersabar, tetap berharap kepada rahmat Allah, dan bila memang berat, Nabi ﷺ mengarahkan kita berdoa memohon kehidupan yang baik atau kematian yang baik sesuai kehendak Allah — bukan meminta mati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab "Kebencian Menginginkan Kematian", dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, melalui Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan). Imam Abu Dawud menyebutkan bahwa setelah lafaz "لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ" ("janganlah salah seorang di antara kalian menginginkan kematian"), perawi menyebutkan kelanjutan yang serupa dengan riwayat lain.

Hadits ini memiliki penguat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin Malik, dengan lafaz yang lebih lengkap:

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

"Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian karena musibah yang menimpanya. Jika memang harus menginginkan sesuatu, hendaklah ia berkata: Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ayat yang menjadi landasan larangan ini antara lain firman Allah:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa' [4]: 29)

Juga firman Allah:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ

"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar." (QS. Al-An'am [6]: 151)

Penjelasan Rinci

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bersifat umum: seorang Muslim tidak boleh mengharapkan kematian datang kepadanya, baik karena kemiskinan, penyakit, musibah, atau tekanan hidup. Sebab, menginginkan kematian mengandung beberapa bahaya: (1) bentuk ketidaksabaran terhadap takdir Allah, (2) menutup pintu amal saleh yang masih bisa dikerjakan, dan (3) bisa menjerumuskan pada tindakan haram seperti bunuh diri.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa larangan ini bukan berarti seorang Muslim dilarang berdoa agar Allah mewafatkannya bila memang kematian lebih baik baginya — karena Nabi ﷺ sendiri mengajarkan doa tersebut. Yang dilarang adalah tamanni (mengharap-harap) kematian secara mutlak karena keluhan dan ketidaksabaran.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menerangkan bahwa sabar terhadap musibah adalah kewajiban, dan menginginkan kematian karena musibah menunjukkan lemahnya iman serta kurangnya tawakal. Beliau juga mengutip perkataan sebagian salaf: "Janganlah kalian membenci kehidupan, karena kehidupan itu adalah kesempatan untuk beramal."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa Allah melarang hamba-Nya mencelakakan diri sendiri, termasuk mengharapkan kematian karena tidak sabar. Seorang mukmin sejati tetap berusaha, berdoa, dan bersabar, karena di balik kesulitan ada kemudahan yang Allah janjikan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa larangan ini mencakup dua hal: menginginkan kematian karena benci terhadap kehidupan, dan menginginkan kematian karena ingin lepas dari ujian. Adapun bila seseorang menginginkan kematian karena rindu kepada Allah dan takut kepada fitnah agama, maka sebagian ulama mengecualikan hal ini — sebagaimana Nabi Yusuf 'alaihissalam berdoa:

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Dia) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh." (QS. Yusuf [12]: 101)

Namun para ulama menegaskan bahwa doa Nabi Yusuf ini bukan karena benci kehidupan, melainkan karena kerinduan kepada Allah dan kekhawatiran terhadap fitnah. Inilah yang paling kuat menurut dalil: larangan menginginkan kematian berlaku mutlak, kecuali bila ada maslahat agama yang jelas, dan itupun diserahkan kepada Allah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang sakit berkepanjangan lalu berdoa meminta kematian. Beliau menjawab dengan mengingatkan hadits Anas bin Malik ini, bahwa Nabi ﷺ melarang menginginkan kematian. Beliau menasihatkan agar orang tersebut bersabar dan berdoa dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku." (Disebutkan dalam riwayat-riwayat manaqib Imam Ahmad dan dinukil oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang ilmu dan hikmah.)

Hikmahnya: kesabaran adalah cahaya, dan seorang mukmin yang tetap beramal meski dalam kesulitan akan mendapatkan pahala yang besar. Kematian bukan pelarian dari masalah, tetapi pintu menuju perjumpaan dengan Allah — dan itu hanya pantas diharapkan oleh orang yang telah mempersiapkan diri dengan amal saleh.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menginginkan kematian karena musibah, penyakit, atau kesulitan hidup.
  2. Bersabarlah dan yakinlah bahwa setiap ujian akan berakhir, dan Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya (QS. Al-Baqarah [2]: 286).
  3. Berdoalah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي."
  4. Perbanyak amal saleh selama masih diberi kehidupan, karena kesempatan beramal adalah nikmat besar.
  5. Jauhi putus asa dari rahmat Allah, dan dekatkan diri kepada-Nya dengan doa, dzikir, dan sabar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?