Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang kita meminta kematian hanya karena beratnya musibah atau kesulitan hidup. Sebaliknya, Nabi ﷺ mengajarkan doa yang menyerahkan urusan hidup dan mati kepada Allah, karena hanya Allah yang tahu mana yang lebih baik bagi hamba-Nya. Sikap ini menunjukkan tawakal, ridha, dan adab yang tinggi kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Jenazah, Bab Tentang Kebencian Menginginkan Kematian, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan larangan berputus asa dan perintah bersabar:
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Terjemahan: "Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"
QS. Al-Baqarah [2]: 216
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Terjemahan: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung bimbingan Nabi ﷺ yang sangat lembut dan penuh hikmah. Beliau melarang seorang muslim mengucapkan permohonan kematian ketika ditimpa musibah, sakit berat, atau kesulitan hidup. Larangan ini bukan berarti mati itu buruk, tetapi karena sikap tersebut bisa muncul dari keluhan, ketidaksabaran, atau berputus asa dari rahmat Allah.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan meminta kematian karena musibah adalah karena hal itu menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir, dan bisa menjerumuskan pada dosa. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama membolehkan meminta kematian jika dikhawatirkan fitnah dalam agama, namun tetap dengan syarat tidak karena keluhan terhadap takdir.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa doa yang diajarkan Nabi ﷺ ini mengandung penyerahan penuh kepada Allah, karena hamba tidak mengetahui mana yang terbaik. Bisa jadi hidup yang tampak berat justru menjadi sebab pahala dan pengampunan, dan bisa jadi kematian yang diinginkan justru memperburuk keadaan.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa doa ini merupakan bentuk tafwidh (menyerahkan urusan) kepada Allah, dan merupakan puncak adab seorang hamba. Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin seharusnya memilih apa yang Allah pilih untuknya, bukan memaksa kehendaknya sendiri.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa sikap ridha terhadap takdir dan menyerahkan pilihan kepada Allah adalah inti dari tauhid dan tawakal. Beliau juga menyebutkan bahwa doa ini mengandung pengakuan bahwa ilmu Allah lebih sempurna daripada ilmu hamba.
Adapun perbedaan pendapat di kalangan ulama: sebagian ulama membolehkan meminta kematian ketika dikhawatirkan fitnah dalam agama (seperti disebutkan dalam hadits lain), namun untuk musibah duniawi, mayoritas ulama sepakat melarangnya. Yang paling kuat adalah pendapat yang melarang secara umum, kecuali ada kekhawatiran fitnah agama yang nyata.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, pernah mengalami masa-masa sulit di akhir hayatnya. Beliau pernah mengeluh kepada sebagian sahabat tentang panjangnya umur dan beratnya ujian, namun beliau tidak pernah meminta kematian. Beliau mengingat sabda Nabi ﷺ ini dan berdoa dengan doa yang diajarkan, menyerahkan urusan kepada Allah. Ini menunjukkan bagaimana para sahabat mengamalkan sunnah Nabi ﷺ dalam keadaan sesulit apa pun.
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata bahwa seorang mukmin sejati adalah yang tetap berdoa "Ya Allah, hidupkanlah aku selama hidup itu baik bagiku" dan tidak tergesa-gesa meminta kematian karena keluhan. Beliau menegaskan bahwa sabar adalah cahaya, dan meminta kematian karena musibah adalah pintu menuju keluhan yang tercela.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meminta kematian karena musibah, sakit, atau kesulitan hidup.
- Ucapkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahumma ahyini ma kanatil hayatu khairan li, wa tawaffani idza kanatil wafatu khairan li."
- Yakinlah bahwa Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
- Perbanyak sabar, tawakal, dan ridha terhadap takdir.
- Jika merasa berat, berdoalah memohon kekuatan dan kesabaran, bukan meminta kematian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.