Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 3094 tentang Rasulullah mengunjungi orang sakit dan memberi baju untuk kafan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Nabi ﷺ. Meskipun Abdullah bin Ubay adalah tokoh munafik yang sering menyakiti beliau, ketika anaknya meminta baju beliau untuk mengkafani jenazah ayahnya, Nabi ﷺ tetap memberikannya. Ini adalah pelajaran tentang memaafkan dan berbuat baik, bahkan kepada orang yang pernah berbuat buruk kepada kita, selama tidak melanggar syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jenazah, Bab Dalam Mengunjungi Orang Sakit, nomor 3094, dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara panjang, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, tentang peristiwa yang sama. Dalam riwayat Al-Bukhari, Nabi ﷺ bersabda ketika memberikan bajunya:

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَلْبَسَ قَمِيصًا وَهُوَ يُكَفِّنُهُ

"Tidaklah pantas bagi seorang nabi untuk memakai baju yang sama yang akan digunakan untuk mengkafani jenazah." (HR. Al-Bukhari, Kitab Jenazah, Bab Memberikan Baju untuk Mengkafani Jenazah)

Ayat yang relevan dengan akhlak Nabi ﷺ ini adalah firman Allah Ta'ala:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf [7]: 199)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini adalah petunjuk akhlak yang agung, yaitu memaafkan kesalahan orang lain dan tidak membalas kebodohan mereka dengan kebodohan serupa.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Tentang Abdullah bin Ubay bin Salul

Abdullah bin Ubay adalah pemimpin kaum munafik di Madinah. Beliau ﷺ pernah berkata kepadanya: "Aku telah melarangmu mencintai orang-orang Yahudi." Ini karena Abdullah bin Ubay memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Yahudi Madinah. Beliau ﷺ menasihatinya agar meninggalkan kecintaan itu, namun Abdullah bin Ubay membantah dengan menyebut As'ad bin Zurarah, seorang sahabat yang mulia, dengan nada merendahkan.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Abdullah bin Ubay ini menunjukkan kekufuran dan kebenciannya kepada sahabat-sahabat Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ tetap bersabar dan tidak membalas dengan keburukan.

2. Tentang kunjungan Nabi ﷺ kepada orang sakit

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menjenguk orang sakit adalah sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan kepada orang kafir dan munafik sekalipun. Ini adalah bentuk dakwah dan kasih sayang Nabi ﷺ. Beliau menjenguk pamannya Abu Thalib yang masih musyrik, dan juga menjenguk Abdullah bin Ubay yang munafik.

3. Tentang pemberian baju untuk mengkafani

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ memberikan bajunya untuk mengkafani Abdullah bin Ubay adalah bentuk kelembutan akhlak dan untuk melunakkan hati anaknya (Abdullah bin Abdullah) yang merupakan sahabat yang jujur imannya. Ini adalah siasat dakwah yang bijaksana, bukan berarti beliau ridha kepada kekufuran Abdullah bin Ubay.

4. Pelajaran tentang memaafkan

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa memaafkan orang yang berbuat buruk adalah akhlak para nabi. Namun, memaafkan tidak berarti membenarkan kesalahan atau menghilangkan hukuman bagi yang zalim. Ini adalah kebaikan hati yang tidak mengurangi keadilan.

5. Perbedaan antara kasih sayang duniawi dan kebencian karena Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa boleh berbuat baik kepada orang kafir dan munafik dalam urusan duniawi selama tidak membahayakan agama, sebagaimana Nabi ﷺ memberikan baju kepada Abdullah bin Ubay. Namun, hati tetap membenci kekufuran dan kemunafikan mereka karena Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Ubay sakit menjelang kematiannya, Nabi ﷺ tetap datang menjenguknya. Beliau masuk ke rumahnya dengan wajah yang penuh kasih sayang, padahal orang ini adalah orang yang paling keras memusuhi dakwah beliau di Madinah.

Setelah Abdullah bin Ubay meninggal, anaknya yang bernama Abdullah bin Abdullah—seorang sahabat yang jujur dan ikhlas—datang kepada Nabi ﷺ. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, jika engkau tidak datang, maka aku sendiri yang akan mengurus jenazah ayahku. Tetapi aku ingin ayahku mendapatkan kemuliaan dengan bajumu."

Nabi ﷺ tidak ragu. Beliau melepas bajunya dan memberikannya. Para sahabat heran, mengapa beliau berbuat baik kepada musuh Islam yang paling keras itu? Namun Nabi ﷺ melakukannya karena kasih sayang dan hikmah dakwah.

Setelah itu, ketika Nabi ﷺ hendak menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkan orang munafik ini? Padahal Allah telah melarangmu memintakan ampunan bagi orang-orang munafik?"

Maka turunlah firman Allah:

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ

"Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya." (QS. At-Taubah [9]: 84)

Maka Nabi ﷺ tidak menshalatkannya. Namun baju yang telah diberikan tetap menjadi kafan bagi Abdullah bin Ubay, sebagai bentuk kebaikan yang telah dijanjikan. (Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah)

Hikmahnya: kebaikan Nabi ﷺ tidak sia-sia. Anak Abdullah bin Ubay semakin cinta kepada Islam, dan umat belajar bahwa akhlak mulia tidak tergantung pada perilaku orang lain.

Kesimpulan Praktis

  1. Menjenguk orang sakit adalah sunnah, meskipun orang tersebut berbeda keyakinan atau pernah berbuat buruk kepada kita.
  2. Memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang pernah menyakiti kita adalah akhlak para nabi dan tanda keimanan yang matang.
  3. Berbuat baik tidak berarti membenarkan kesalahan — kita tetap tegas dalam prinsip agama, namun lembut dalam menyikapi manusia.
  4. Dakwah dengan kasih sayang lebih efektif daripada dengan kekerasan, sebagaimana Nabi ﷺ mencontohkan.
  5. Niatkan setiap kebaikan untuk melunakkan hati manusia agar menerima kebenaran, bukan untuk kepentingan duniawi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?