Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2859 tentang Hidup di pedalaman membuat hati kasar dan lalai

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi tiga nasihat penting dari Nabi ﷺ tentang bahaya yang mengintai dalam tiga aktivitas: tinggal di pedalaman (badiyah) yang bisa membuat hati menjadi kasar, terlalu sibuk mengejar binatang buruan yang bisa melalaikan dari dzikir kepada Allah, dan sering mendatangi penguasa yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam fitnah (ujian berat). Hadits ini bukanlah larangan mutlak, melainkan peringatan agar kita tidak tenggelam dalam hal-hal mubah sehingga melupakan kewajiban agama dan menjerumuskan diri pada hal yang diharamkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Perburuan, Bab "Dalam Mengikuti Perburuan", nomor 2859, dari sahabat mulia Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ سُفْيَانَ، حَدَّثَنِي أَبُو مُوسَى، عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ - وَقَالَ مَرَّةً سُفْيَانُ وَلاَ أَعْلَمُهُ إِلاَّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ - وَقَالَ: " مَنْ سَكَنَ الْبَادِيَةَ جَفَا وَمَنِ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ افْتُتِنَ " .

Terjemahan: "Barangsiapa tinggal di pedalaman (badiyah), maka ia akan menjadi kasar. Barangsiapa mengikuti/mengejar buruan, maka ia akan lalai. Dan barangsiapa mendatangi penguasa, maka ia akan terkena fitnah (terjerumus dalam ujian)."

Ayat Al-Qur'an yang relevan sebagai penguat makna hadits ini adalah firman Allah tentang bahaya lalai dari mengingat Allah:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa kelalaian dari mengingat Allah adalah pangkal dari segala keburukan, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa mengejar buruan dapat menyebabkan kelalaian.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sarat dengan hikmah dan peringatan. Para ulama dari kalangan yang kami rujuk menjelaskan maknanya sebagai berikut:

1. "مَنْ سَكَنَ الْبَادِيَةَ جَفَا" (Barangsiapa tinggal di pedalaman, ia akan menjadi kasar)

Yang dimaksud al-badiyah adalah daerah pedalaman atau padang pasir yang jauh dari peradaban, tempat tinggal orang-orang Arab Badui. Sifat mereka umumnya keras dan kasar karena kerasnya kehidupan di sana.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa tinggal di pedalaman bisa menyebabkan kekasaran hati karena jauh dari majelis ilmu, masjid, dan jamaah yang mengingatkan kepada Allah. Namun beliau juga menegaskan bahwa ini bukanlah vonis mutlak, karena ada juga sahabat yang tinggal di pedalaman namun tetap baik agamanya. Yang dimaksud adalah ghalabah (sifat yang dominan), bukan 'umum (berlaku untuk semua orang tanpa kecuali).

2. "وَمَنِ اتَّبَعَ الصَّيْدَ غَفَلَ" (Barangsiapa mengejar buruan, ia akan lalai)

Ini adalah bagian yang paling relevan dengan konteks hadits dalam Kitab Perburuan. Imam Al-Khathabi (salah satu pensyarah Sunan Abu Dawud) menjelaskan bahwa orang yang terlalu sibuk berburu akan tersita waktunya, pikirannya, dan tenaganya sehingga ia lalai dari dzikir kepada Allah, shalat berjamaah, dan urusan agama lainnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa berburu itu sendiri hukumnya boleh (mubah) berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Sunnah. Namun jika seseorang menjadikannya sebagai kesibukan utama yang melalaikan dari kewajiban, maka ia tercela. Beliau mencontohkan bahwa para sahabat pun berburu, namun mereka tidak menjadikannya sebagai tujuan hidup.

3. "وَمَنْ أَتَى السُّلْطَانَ افْتُتِنَ" (Barangsiapa mendatangi penguasa, ia akan terkena fitnah)

Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa fitnah di sini maksudnya adalah ujian berat yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam dosa. Karena ketika seseorang mendatangi penguasa, ia akan diuji dengan:

  • Berkata yang tidak benar untuk menyenangkan penguasa
  • Membenarkan kezaliman atau ikut serta di dalamnya
  • Terpedaya dengan kemewahan dunia yang ada di sisi penguasa
  • Terjebak dalam kepentingan pribadi yang bertentangan dengan syariat

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan bagi orang awam agar tidak terlalu sering mendatangi penguasa, karena mereka bisa terpaksa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran. Namun bagi ulama yang memiliki ilmu dan keteguhan, mereka boleh mendatangi penguasa untuk amar ma'ruf nahi munkar, sebagaimana dilakukan oleh para sahabat dan ulama salaf.

Pandangan yang lebih kuat: Hadits ini bukanlah larangan mutlak terhadap tiga hal tersebut, melainkan peringatan tentang bahaya yang mengintai di dalamnya. Sebab, kita dapati banyak sahabat yang tinggal di pedalaman, berburu, dan mendatangi penguasa namun tetap istiqamah. Yang terlarang adalah jika aktivitas tersebut menyebabkan seseorang menjadi kasar hati, lalai dari kewajiban, atau terjerumus dalam fitnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri — salah satu ulama besar yang meriwayatkan hadits ini — sangat berhati-hati dalam urusan mendekati penguasa. Beliau lebih memilih bersembunyi dan hidup sederhana daripada harus berhadapan dengan penguasa pada zamannya.

Suatu ketika, Khalifah Al-Mahdi ingin menemuinya dan meminta nasihat, namun Imam Sufyan ats-Tsauri justru melarikan diri dan bersembunyi. Beliau berkata, "Aku takut jika aku mendatangi mereka, mereka akan memanfaatkan ilmu untuk kepentingan dunia mereka, dan aku pun akan ikut terfitnah." Beliau lebih memilih hidup dalam kesederhanaan dan terus mengajarkan ilmu kepada masyarakat umum daripada harus terlibat dengan kekuasaan yang bisa merusak agama.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa menjaga diri dari fitnah adalah bagian dari ketakwaan. Seorang mukmin harus pandai menakar kemampuan dirinya. Jika ia merasa kuat dan berilmu, boleh saja mendatangi penguasa untuk menasihati. Namun jika ia khawatir akan tergoda, maka menjauh adalah lebih selamat.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidup di pedalaman boleh saja, namun harus tetap menjaga hati dengan menghadiri majelis ilmu dan bergaul dengan orang-orang shalih agar hati tidak menjadi kasar.
  2. Berburu atau hobi lainnya hukumnya mubah, namun jangan sampai melalaikan shalat berjamaah, dzikir, dan kewajiban agama lainnya. Jadikan hobi sebagai selingan, bukan tujuan hidup.
  3. Mendatangi penguasa sebaiknya dihindari oleh orang awam karena besar risikonya. Namun bagi ulama yang berilmu dan bertujuan amar ma'ruf nahi munkar, hal itu diperbolehkan dengan syarat tidak berbohong dan tidak membenarkan kezaliman.
  4. Prinsip utama dalam semua aktivitas adalah menjaga hati tetap hidup dengan mengingat Allah dan tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi yang melalaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?