Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2780 tentang Berbagi perlengkapan jihad dengan yang membutuhkan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa indahnya akhlak Nabi ﷺ dan para sahabat: seorang pemuda miskin ingin berjihad namun tak punya bekal, lalu Nabi ﷺ mengarahkannya kepada sahabat Ansar yang sakit dan sudah menyiapkan bekal. Sahabat itu pun menyerahkan seluruh bekalnya dengan ikhlas dan penuh kerelaan, bahkan mengingatkan istrinya agar tidak menahan sedikit pun. Pelajarannya: tolong-menolong dalam kebaikan, keikhlasan berinfak, dan keyakinan bahwa menahan kebaikan menghalangi keberkahan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ma'idah [5]: 2

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Terjemahan: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksaan-Nya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dicatat oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab tentang apa yang disunahkan dalam pengeluaran bekal untuk berperang ketika kembali (no. 2780). Sanadnya: Musa bin Isma'il → Hammad → Tsabit al-Bunani → Anas bin Malik.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Riyadh ash-Shalihin menegaskan bab tentang keutamaan tolong-menolong dalam kebaikan dan anjuran menunaikan hajat sesama muslim.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa menyampaikan salam Nabi ﷺ kepada sahabat adalah bentuk penghormatan dan penguatan iman.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengatur urusan pasukan dengan penuh hikmah, termasuk memanfaatkan bekal yang sudah disiapkan sahabat yang berhalangan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan para ulama:

1. Bolehnya meminta bantuan dalam kebaikan.

Pemuda dari Aslam ini jujur menyampaikan keadaannya kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ tidak mencelanya, tetapi mengarahkannya kepada sumber yang tepat. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan kebolehan menyampaikan hajat kepada pemimpin atau orang yang mampu menolong, selama dalam kebaikan.

2. Menyampaikan salam Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ berpesan: "Katakan bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan salam kepadamu." Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dan betapa besar pengaruh salam beliau terhadap hati sahabat. Salam Nabi ﷺ bukan sekadar ucapan, tetapi penghormatan yang menguatkan iman.

3. Keikhlasan sahabat Ansar.

Sahabat Ansar itu langsung memerintahkan istrinya menyerahkan seluruh bekal tanpa menahan sedikit pun. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa ini adalah bentuk zuhud dan itsar (mendahulukan orang lain), sebagaimana pujian Allah dalam QS. Al-Hasyr [59]: 9 tentang kaum Ansar.

4. Keyakinan bahwa menahan kebaikan menghalangi berkah.

Ucapan sahabat: "Demi Allah, jika kau menahan apapun darinya, Allah tidak akan memberkahi padanya," menunjukkan pemahaman mendalam bahwa harta yang ditahan dari jalan kebaikan justru kehilangan berkah. Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa keberkahan harta tergantung pada ketaatan dan infak.

5. Peran istri dalam kebaikan suami.

Istri sahabat itu langsung taat tanpa membantah. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan keshalihan keluarga Ansar dan kerja sama suami-istri dalam kebaikan.

Perbedaan pendapat ulama daftar: Tidak ada perbedaan mendasar di antara ulama yang tercantum tentang makna hadits ini. Semuanya sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tolong-menolong, itsar, dan keberkahan dalam infak.

Story Telling

Dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — pelayan Nabi ﷺ yang paling lama menyertai beliau — bahwa seorang pemuda dari kabilah Aslam datang kepada Rasulullah ﷺ dengan wajah penuh harap. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku ingin berjihad, tetapi aku tidak punya harta untuk mempersiapkan diri."

Nabi ﷺ tidak menolaknya, tidak pula mencela kemiskinannya. Dengan lembut beliau bersabda, "Pergilah kepada si Fulan dari Ansar. Dia sudah menyiapkan bekal, tetapi jatuh sakit. Sampaikan salamku kepadanya, dan katakan bahwa aku meminta bekal yang telah ia siapkan."

Pemuda itu bergegas menemui sahabat Ansar tersebut. Ia menyampaikan salam Nabi ﷺ — dan betapa besar makna salam itu bagi hati seorang mukmin! Sahabat Ansar itu tidak ragu, tidak berpikir dua kali. Ia menoleh kepada istrinya dan berkata, "Wahai Fulanah, berikan seluruh bekal yang telah kau siapkan untukku. Jangan tahan sedikit pun. Demi Allah, jika kau menahan sesuatu darinya, Allah tidak akan memberkahi padanya."

Betapa indahnya pemandangan ini: seorang yang sakit, yang seharusnya membutuhkan bekal untuk dirinya, justru menyerahkan semuanya demi saudaranya yang ingin berjihad. Inilah itsar — mendahulukan orang lain — yang dipuji Allah dalam Al-Qur'an. Ibnu Rajab menyebutkan bahwa sikap seperti ini adalah buah dari iman yang kuat dan keyakinan bahwa rezeki di tangan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Tolong-menolonglah dalam kebaikan, terutama untuk urusan agama dan jihad, sebagaimana perintah QS. Al-Ma'idah [5]: 2.
  2. Sampaikan salam kepada sesama muslim, karena salam adalah penghormatan dan penguat ukhuwah.
  3. Latihlah itsar — mendahulukan kebutuhan saudara muslim di atas kebutuhan sendiri, terutama dalam keadaan sempit.
  4. Yakinlah bahwa menahan kebaikan menghalangi berkah. Harta yang diinfakkan di jalan Allah tidak berkurang, justru bertambah berkahnya.
  5. Bekerja samalah dengan keluarga dalam kebaikan, sebagaimana istri sahabat Ansar yang langsung taat.
  6. Jangan malu menyampaikan hajat kepada orang yang mampu menolong, selama dalam kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?