Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan salah satu bentuk tuntunan dan strategi perang dari Nabi ﷺ. Beliau tidak tergesa-gesa memulai pertempuran di awal hari. Jika belum berperang di pagi hari, beliau menunggu hingga waktu zawal (matahari condong ke barat), yaitu ketika angin bertiup dan rahmat serta pertolongan Allah turun. Ini adalah bentuk tawakal, kesabaran, dan pengaturan strategi yang matang dalam peperangan, serta keyakinan bahwa kemenangan datang dari Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jihad, Bab "Fi Mawaqit Alladzi Yukrahu Fihi Al-Qital" (Bab Kapan Pertempuran Disukai), no. 2655, dari sahabat Ma'qil bin Yasar, dari An-Nu'man bin Muqarrin radhiyallahu 'anhu.
Teks Arab Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، أَخْبَرَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ النُّعْمَانَ، - يَعْنِي ابْنَ مُقَرِّنٍ - قَالَ: شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ إِذَا لَمْ يُقَاتِلْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَخَّرَ الْقِتَالَ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ وَتَهُبَّ الرِّيَاحُ وَيَنْزِلَ النَّصْرُ.
Makna Ringkas:
Aku (An-Nu'man bin Muqarrin) menyaksikan Rasulullah ﷺ. Apabila beliau tidak memulai pertempuran di awal siang, maka beliau mengakhirkannya hingga matahari condong ke barat (waktu zawal), angin bertiup, dan turunlah pertolongan (Allah).
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan Ahlul Hadits dan Syarh (penjelas hadits) seperti Al-Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Fath Al-Bari (Syarh Shahih Al-Bukhari, berbeda dengan Ibnu Hajar) dan juga Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari (Syarh Shahih Al-Bukhari) membahas makna hadits ini dalam konteks adab dan strategi perang. Namun, perlu dicatat bahwa penjelasan paling otoritatif tentang waktu-waktu yang dianjurkan dalam berperang juga bisa dirujuk kepada perkataan para ulama salaf seperti Al-Imam Al-Auza'i dan lainnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Waktu yang Diberkahi: Waktu zawal (matahari tergelincir ke barat) adalah waktu yang mulia. Pada saat itu, pintu-pintu langit dibuka, dan doa mustajab. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memilih waktu ini untuk memulai pertempuran karena berharap turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya memilih waktu-waktu yang penuh berkah untuk urusan-urusan pentingnya.
- Strategi dan Kesiapan: Menunda pertempuran bukan berarti menunda karena takut, tetapi untuk memberikan kesempatan bagi pasukan untuk beristirahat, mempersiapkan diri, dan mengatur barisan dengan lebih baik. Di awal pagi, kondisi fisik dan mental mungkin belum sepenuhnya siap. Dengan menunggu hingga siang, pasukan dalam keadaan lebih segar dan siap.
- Tawakal dan Keyakinan: Frasa "وَيَنْزِلَ النَّصْرُ" (dan turunlah pertolongan) menunjukkan keyakinan kuat bahwa kemenangan sepenuhnya berasal dari Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berstrategi, tetapi hasil akhirnya ada di tangan Allah. Ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan persiapan kita, tetapi selalu bersandar kepada-Nya.
- Pandangan Ulama tentang Waktu Perang: Sebagian ulama seperti Al-Imam Asy-Syafi'i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal (dalam salah satu riwayat) berpendapat bahwa makruh (tidak disukai) memulai perang di awal pagi sebelum matahari naik, berdasarkan hadits ini. Namun, jika keadaan mendesak (seperti serangan mendadak dari musuh), maka diperbolehkan berperang kapan saja. Ini menunjukkan fleksibilitas syariat dalam kondisi darurat.
- Hikmah Angin: Angin yang bertiup pada waktu tersebut juga merupakan tanda rahmat. Dalam Al-Qur'an, Allah mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira dan rahmat-Nya. Oleh karena itu, memulai peperangan di saat angin bertiup diharapkan membawa kebaikan dan keberkahan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa An-Nu'man bin Muqarrin Al-Muzani radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang mulia. Dalam perang melawan pasukan Persia di Nihawand, beliau adalah seorang panglima. Ketika pasukan Muslimin hendak berperang, sebagian pasukan ingin segera menyerang di pagi hari. Namun, An-Nu'man mengingatkan mereka tentang sunnah Nabi ﷺ ini. Beliau berkata, "Rasulullah ﷺ jika tidak berperang di awal hari, beliau menunggu hingga matahari condong, angin bertiup, dan turunlah pertolongan." Maka mereka pun menunggu hingga waktu tersebut, dan Allah memberikan kemenangan yang besar kepada kaum Muslimin dalam perang Nihawand yang masyhur itu. Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat memperhatikan dan mengamalkan detail-detail sunnah Nabi ﷺ dalam setiap keadaan, termasuk dalam strategi perang.
Kesimpulan Praktis
- Teladani Nabi ﷺ dalam setiap urusan, termasuk dalam hal strategi dan pengaturan waktu. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan penting, tetapi tunggulah waktu yang tepat dan penuh berkah.
- Perbanyak doa di waktu-waktu mustajab, seperti setelah zawal, karena itu adalah waktu di mana pintu langit dibuka.
- Kuatkan tawakal kepada Allah. Usaha dan strategi hanyalah wasilah (perantara), tetapi keyakinan kita harus tertuju sepenuhnya kepada Allah yang memberi kemenangan.
- Bersabar dan tidak tergesa-gesa. Kemenangan tidak selalu harus datang dengan cepat. Terkadang, menunggu waktu yang tepat adalah bagian dari kemenangan itu sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.