Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2629 tentang Larangan menyempitkan tempat dan memotong jalan saat perang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa jihad yang benar tidak boleh disertai gangguan terhadap kaum Muslimin, seperti mempersempit tempat tinggal atau memotong jalan. Orang yang melakukan hal itu saat berjihad, maka amal jihadnya tidak sempurna dan tidak diterima sebagai jihad yang sah menurut syariat. Islam menuntut akhlak mulia bahkan di medan perang sekalipun.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 11

وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۚ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Terjemahan: "Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

Ayat ini menunjukkan larangan mengganggu sesama Muslim, dan ini berlaku lebih kuat lagi dalam keadaan jihad.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Jihad, Bab Apa yang Diperintahkan Mengenai Bergabung dengan Angkatan Perang dan Luasnya (no. 2629), dari sahabat Mu'adz bin Anas Al-Juhani رضي الله عنه.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunan-nya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya menjaga hak-hak kaum Muslimin, termasuk dalam keadaan perang.
  • Imam an-Nawawi menegaskan bahwa akhlak mulia adalah bagian tak terpisahkan dari jihad.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat penting tentang adab dan akhlak dalam berjihad. Mari kita uraikan maknanya:

1. Konteks hadits

Mu'adz bin Anas Al-Juhani رضي الله عنه menceritakan bahwa ia ikut berperang bersama Nabi ﷺ. Dalam peperangan tersebut, sebagian orang mempersempit tempat tinggal (yakni mengambil tempat yang bukan haknya sehingga orang lain kesulitan) dan memotong jalan (yakni menghalangi orang lain melewati jalan). Maka Nabi ﷺ mengumumkan bahwa siapa yang melakukan hal itu, maka tidak ada jihad baginya.

2. Makna "tidak ada jihad baginya"

Para ulama menjelaskan makna ini dengan beberapa pemahaman:

  • Pendapat pertama: Jihadnya tidak sah dan tidak diterima, karena ia telah melakukan dosa yang merusak amal jihadnya.
  • Pendapat kedua: Jihadnya tidak sempurna dan pahalanya berkurang, bukan berarti jihadnya batal secara total.
  • Pendapat ketiga: Ia tidak mendapatkan pahala jihad yang sempurna karena telah menzalimi saudaranya.

Imam an-Nawawi dalam penjelasannya tentang hadits-hadits jihad menegaskan bahwa gangguan terhadap kaum Muslimin adalah dosa besar, dan dosa ini bisa menghapus pahala amal saleh termasuk jihad.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa jihad harus dijalankan dengan adab dan tidak boleh merusak hak orang lain. Jihad bukan alasan untuk berbuat zalim.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa syariat Islam selalu menjaga kemaslahatan umum, termasuk dalam keadaan perang. Merusak fasilitas umum seperti jalan dan tempat tinggal adalah bentuk kerusakan yang dilarang.

3. Pelajaran tentang akhlak dalam jihad

Jihad dalam Islam bukan hanya tentang berperang, tetapi juga tentang menjaga akhlak. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa bahkan dalam keadaan perang, seorang Muslim harus:

  • Tidak menzalimi orang lain
  • Tidak mengambil hak orang lain
  • Tidak merusak fasilitas umum
  • Menjaga ketertiban dan keamanan

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya adab dalam berjihad. Jihad yang tidak disertai adab hanya akan mendatangkan kerusakan, bukan kemenangan.

4. Perbedaan pendapat di antara ulama

Sebagian ulama memahami "tidak ada jihad baginya" sebagai batalnya jihad secara total, sementara yang lain memahami sebagai kurangnya pahala. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa jihadnya tidak sempurna dan pahalanya berkurang, karena ia telah melakukan dosa. Namun, jika ia bertaubat, maka Allah menerima taubatnya.

5. Kaitan dengan kehidupan sehari-hari

Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak mengganggu orang lain dalam kehidupan sehari-hari, baik di jalan, di tempat kerja, maupun di lingkungan tempat tinggal. Mengganggu orang lain adalah perbuatan yang tercela dalam Islam.

Story Telling

Suatu ketika, dalam sebuah peperangan bersama Nabi ﷺ, para sahabat sedang beristirahat. Sebagian dari mereka mendirikan tenda dan mengambil tempat yang luas, sehingga menyempitkan tempat bagi yang lain. Ada juga yang memarkir kendaraan mereka di jalan sehingga menghalangi orang lain lewat.

Melihat hal ini, Nabi ﷺ tidak diam. Beliau mengutus seseorang untuk mengumumkan kepada seluruh pasukan: "Siapa yang menyempitkan tempat tinggal atau memotong jalan, maka tidak ada jihad baginya."

Mendengar pengumuman ini, para sahabat segera memperbaiki keadaan mereka. Mereka menyadari bahwa jihad bukan hanya tentang berperang, tetapi juga tentang menjaga akhlak dan tidak mengganggu orang lain.

Hikmah: Jihad yang sejati adalah jihad yang disertai dengan akhlak mulia. Bahkan dalam keadaan perang, seorang Muslim harus menjaga hak-hak orang lain. (Sumber: Sunan Abu Dawud dan penjelasan para ulama)

Kesimpulan Praktis

  1. Jihad harus disertai akhlak mulia. Tidak boleh mengganggu orang lain, baik dalam keadaan perang maupun damai.
  2. Mengganggu hak orang lain adalah dosa yang bisa mengurangi pahala amal saleh, termasuk jihad.
  3. Islam mengajarkan ketertiban dan keamanan. Merusak fasilitas umum seperti jalan dan tempat tinggal adalah perbuatan yang dilarang.
  4. Bertaubatlah jika pernah mengganggu orang lain. Allah Maha Pengampun dan menerima taubat hamba-Nya.
  5. Jadilah Muslim yang bermanfaat bagi orang lain, bukan yang mendatangkan kerusakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?