Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2624 tentang Kewajiban taat kepada pemimpin dalam ketaatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah atsar (perkataan sahabat) yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Kitab Jihad, Bab "Dalam Ketaatan". Isinya menjelaskan sebab turunnya (asbabun nuzul) QS. An-Nisa' [4]: 59 tentang kewajiban taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amri (pemimpin). Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Qais bin 'Adiy yang diutus Nabi ﷺ dalam sebuah pasukan (sariyyah). Pelajaran utamanya adalah bahwa ketaatan kepada pemimpin itu wajib, namun tetap dalam bingkai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan ketaatan mutlak dalam kemaksiatan.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

QS. An-Nisa' [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."

2. Hadits/atsar yang diriwayatkan:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Jihad, Bab Fi Ath-Tha'ah (Dalam Ketaatan), no. 2624. Sanadnya: Zuhair bin Harb → Hajjaj → Ibnu Juraij → Ya'la → Sa'id bin Jubair → Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan riwayat ini sebagai salah satu pendapat dalam asbabun nuzul ayat tersebut, dan beliau menegaskan bahwa pendapat yang lebih kuat adalah ayat ini turun secara umum mengenai kewajiban taat kepada pemimpin, dengan contoh kasus Abdullah bin Hudzafah bin Qais (dalam riwayat lain), namun maknanya tetap umum.
  • Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya tentang kisah Abdullah bin Hudzafah, yang menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin itu wajib selama bukan dalam kemaksiatan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk menegaskan prinsip dasar kepemimpinan dalam Islam. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Qais bin 'Adiy yang diutus Nabi ﷺ dalam sebuah sariyyah (pasukan kecil). Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Islam mengajarkan pentingnya kepemimpinan dan ketaatan dalam organisasi, termasuk dalam konteks militer.

Makna Ulil Amri:

Para ulama berbeda pendapat tentang makna ulil amri:

  • Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa'id bin Jubair berpendapat bahwa ulil amri adalah para ulama dan fuqaha (ahli ilmu).
  • Abu Hurairah dan sejumlah ulama berpendapat bahwa ulil amri adalah para pemimpin dan penguasa.
  • Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menaatiku, maka ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa mendurhakaiku, maka ia telah mendurhakai Allah. Dan barangsiapa menaati pemimpin (amir), maka ia telah menaatiku. Dan barangsiapa mendurhakai pemimpin, maka ia telah mendurhakaiku." (HR. Bukhari no. 2957, Muslim no. 1835)

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ketaatan kepada ulil amri adalah ketaatan dalam perkara yang ma'ruf (baik) dan bukan dalam kemaksiatan. Beliau menegaskan bahwa jika pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka tidak ada ketaatan, karena "tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah" (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin itu wajib selama perintahnya sejalan dengan syariat. Jika bertentangan, maka wajib menolak dengan cara yang baik dan tidak boleh memberontak selama pemimpin masih muslim dan menegakkan shalat.

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah menegaskan bahwa hadits-hadits tentang kewajiban taat kepada pemimpin adalah shahih dan harus dipahami dalam kerangka syariat, bukan ketaatan buta.

Pelajaran dari kisah ini:

Kisah Abdullah bin Qais bin 'Adiy menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat pemimpin dari kalangan sahabat untuk memimpin pasukan. Para sahabat diajarkan untuk taat kepada pemimpin mereka, namun tetap dalam koridor syariat. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya:

  1. Kepemimpinan yang terorganisir dalam Islam.
  2. Ketaatan yang proporsional — taat kepada Allah dan Rasul adalah mutlak, sedangkan taat kepada pemimpin adalah bersyarat (selama tidak bermaksiat).
  3. Menyelesaikan perselisihan dengan kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengirim sebuah pasukan dan mengangkat seorang sahabat sebagai pemimpinnya. Dalam perjalanan, pemimpin tersebut marah kepada anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk melemparkan diri ke dalam api. Sebagian sahabat hampir melakukannya, namun sebagian lain menahan mereka seraya berkata, "Kami hanya lari dari api (neraka) menuju Allah, tidak mungkin kami justru masuk ke dalam api dunia." Ketika mereka kembali dan menceritakan kejadian itu kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Seandainya mereka benar-benar masuk ke dalam api, niscaya mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (baik)." (HR. Bukhari no. 4340, Muslim no. 1840)

Kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak boleh melanggar perintah Allah. Sebagaimana para sahabat memahami batas ketaatan, kita pun harus memahami hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan Praktis

  1. Taat kepada Allah dan Rasul adalah kewajiban mutlak tanpa syarat.
  2. Taat kepada pemimpin (ulil amri) adalah kewajiban selama perintahnya tidak bertentangan dengan syariat.
  3. Jika ada perselisihan, kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kepada hawa nafsu atau opini pribadi.
  4. Jangan memberontak kepada pemimpin muslim selama mereka masih menegakkan shalat, namun tetap nasihati dengan cara yang baik.
  5. Jadilah pribadi yang taat dalam kebaikan, dan jauhi ketaatan buta yang membawa kemaksiatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.