Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2573 tentang Larangan menghamstring hewan dalam perang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits yang Anda tanyakan adalah kisah tentang keberanian Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pada Perang Mu'tah. Beliau menghamstring (memotong urat kaki) kudanya agar tidak mundur, lalu bertempur dengan gagah berani hingga gugur sebagai syahid. Ini adalah kisah heroik yang menunjukkan keteguhan dan keberanian seorang sahabat dalam membela agama Allah. Namun, perlu diketahui bahwa Imam Abu Dawud sendiri menilai sanad hadits ini tidak kuat (tidak sahih), meskipun makna kisahnya (bahwa Ja'far gugur dalam keadaan mulia) tetap benar dan diriwayatkan dari jalur lain yang sahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 2573 (sebagaimana yang Anda sebutkan), dari jalur 'Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair dari ayah angkatnya dari Bani Murrah bin Auf.

Imam Abu Dawud setelah meriwayatkan hadits ini menyatakan: "هَذَا الْحَدِيثُ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ" — "Hadits ini tidak kuat (sanadnya)."

Catatan Penting: Ada jalur lain yang lebih sahih yang menceritakan kisah gugurnya Ja'far bin Abi Thalib dalam Perang Mu'tah, di antaranya:

  • Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada para sahabat tentang gugurnya para pemimpin pasukan di Mu'tah: Zaid bin Haritsah, kemudian Ja'far bin Abi Thalib, kemudian Abdullah bin Rawahah. Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Ja'far gugur setelah mengambil bendera dan bertempur hingga syahid.
  • Hadits riwayat Imam An-Nasa'i dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, yang menyebutkan bahwa Ja'far bin Abi Thalib bertempur pada hari Mu'tah, dan ketika pedang musuh memotong tangan kanannya, ia mengambil bendera dengan tangan kiri, lalu tangan kirinya juga dipotong, maka ia memeluk bendera itu hingga gugur.

Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang keutamaan orang-orang yang berjihad dan gugur di jalan Allah:

QS. Ali 'Imran [3]: 169-170

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan mereka bersukacita terhadap orang-orang yang belum menyusul mereka dari belakang, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati."

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para syuhada, dan disebutkan bahwa ruh-ruh mereka berada di dalam burung-burung hijau yang bergantung di pohon-pohon surga (sebagaimana dalam hadits shahih riwayat Muslim dari Masruq).

Penjelasan Rinci

1. Konteks Perang Mu'tah

Perang Mu'tah terjadi pada bulan Jumadil Awal tahun 8 Hijriah. Rasulullah ﷺ mengirim pasukan yang dipimpin oleh tiga panglima secara berurutan: Zaid bin Haritsah, kemudian Ja'far bin Abi Thalib, kemudian Abdullah bin Rawahah radhiyallahu 'anhum. Jika ketiganya gugur, maka pasukan boleh memilih pemimpin mereka sendiri.

Pasukan Muslimin saat itu berjumlah sekitar 3.000 orang, berhadapan dengan pasukan Romawi yang jumlahnya mencapai 100.000 atau lebih. Ini adalah pertempuran yang sangat tidak seimbang.

2. Kisah Ja'far bin Abi Thalib

Ja'far bin Abi Thalib adalah sepupu Rasulullah ﷺ dan kakak dari Ali bin Abi Thalib. Beliau dijuluki "At-Thayyar" (yang terbang di surga) dan "Dzul Janahain" (pemilik dua sayap), karena Allah mengganti kedua tangannya yang terpotong dengan dua sayap di surga.

Ketika Zaid bin Haritsah gugur, Ja'far mengambil bendera dan bertempur dengan gagah berani. Dalam riwayat yang sahih, ketika pedang musuh memotong tangan kanannya, ia memegang bendera dengan tangan kiri. Ketika tangan kirinya juga dipotong, ia memeluk bendera itu dengan kedua lengannya hingga gugur.

Adapun dalam hadits yang Anda tanyakan (riwayat Abu Dawud), disebutkan bahwa Ja'far menghamstring kudanya terlebih dahulu sebelum bertempur. Ini adalah strategi perang yang dilakukan sebagian sahabat agar kuda tidak lari dan mereka tidak tergoda untuk mundur dari medan pertempuran. Ini menunjukkan tekad yang kuat untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.

3. Penilaian Ulama tentang Hadits Ini

Imam Abu Dawud sendiri menyatakan bahwa hadits ini tidak kuat. Para ulama menjelaskan kelemahan hadits ini karena beberapa hal:

  • Muhammad bin Ishaq (perawi dalam sanad ini) adalah seorang ulama besar dalam maghazi (sejarah peperangan), tetapi ia dikenal sebagai mudallis (yang menyembunyikan cacat dalam periwayatan) dan terkadang meriwayatkan dari orang yang tidak dikenal.
  • Ibnu 'Abbad yang dimaksud dalam sanad ini tidak jelas identitasnya secara pasti.

Namun, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah dan Fathul Bari menyebutkan bahwa kisah menghamstring kuda oleh Ja'far ini memiliki syawahid (penguat) dari riwayat lain, meskipun tidak setingkat sahih.

4. Pelajaran dari Kisah Ini

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa tindakan para sahabat yang menghamstring kuda mereka dalam perang menunjukkan kesungguhan mereka dalam berjihad dan ketidaktertarikan mereka pada dunia. Mereka lebih memilih mati syahid daripada mundur dari medan perang.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan betapa tingginya keimanan para sahabat. Mereka tidak takut mati, bahkan menginginkannya karena yakin akan keutamaan syahid di sisi Allah. Ini berbeda dengan orang-orang yang lemah iman yang sangat takut mati dan lari dari medan perang.

5. Hikmah yang Bisa Diambil

Kisah ini mengajarkan kita tentang:

  • Keberanian dan keteguhan dalam membela kebenaran
  • Keikhlasan dalam beramal, karena Ja'far tidak mencari pujian atau kedudukan
  • Kesiapan berkorban dengan jiwa dan harta di jalan Allah
  • Keyakinan akan balasan syahid yang mulia di sisi Allah

Story Telling

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Aku berada di samping Ja'far bin Abi Thalib pada hari Perang Mu'tah. Aku mencari-carinya dan aku dapati ia telah gugur, dan pada tubuhnya terdapat lebih dari sembilan puluh luka — dari tombak dan pedang — tidak ada satu pun yang mengenai punggungnya, semuanya di bagian depan tubuhnya." (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya)

Subhanallah! Ini menunjukkan bahwa Ja'far tidak pernah membelakangi musuh. Seluruh lukanya ada di bagian depan tubuhnya, membuktikan bahwa ia maju terus dan tidak pernah mundur. Ia bertempur dengan gagah berani hingga tetes darah terakhir.

Rasulullah ﷺ sendiri bersabda tentang Ja'far:

"رَأَيْتُهُ فِي الْجَنَّةِ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ" — "Aku melihatnya di surga terbang dengan dua sayapnya." (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Umar)

Inilah penghormatan Allah kepada hamba-Nya yang berjuang dengan ikhlas dan berkorban dengan jiwa raganya. Allah mengganti kedua tangan Ja'far yang terpotong dengan dua sayap yang indah untuk terbang di surga.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini memiliki kelemahan sanad sebagaimana dinyatakan Imam Abu Dawud, namun kisahnya memiliki penguat dari riwayat lain yang sahih.
  2. Kisah Ja'far bin Abi Thalib adalah kisah nyata yang diriwayatkan dalam kitab-kitab shahih, menunjukkan keberanian dan pengorbanan seorang sahabat yang mulia.
  3. Pelajaran utama: Kita harus berani membela kebenaran, ikhlas dalam beramal, dan siap berkorban di jalan Allah. Jangan takut mati, karena kematian pasti datang, dan syahid adalah sebaik-baik kematian.
  4. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa meneladani keteguhan Ja'far dengan cara: konsisten dalam ibadah, berani menyampaikan kebenaran, tidak mundur saat menghadapi tantangan dalam ketaatan, dan selalu mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan pribadi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?