Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ yang luar biasa kepada anak-anak, terutama keluarganya. Beliau tidak segan mengangkat dan memboncengkan anak-anak di atas kendaraannya, bahkan hingga tiga orang di atas satu hewan tunggangan. Ini adalah bukti nyata bahwa tawadhu' (rendah hati) dan kasih sayang adalah akhlak agung seorang pemimpin, dan hal ini tidak mengurangi kewibawaan sedikit pun.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Tentang Tiga Orang Naik di Atas Seekor Binatang" (no. 2566). Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ، مَحْبُوبُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُوَرِّقٍ، - يَعْنِي الْعِجْلِيَّ - حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ اسْتُقْبِلَ بِنَا فَأَيُّنَا اسْتُقْبِلَ أَوَّلاً جَعَلَهُ أَمَامَهُ فَاسْتُقْبِلَ بِي فَحَمَلَنِي أَمَامَهُ ثُمَّ اسْتُقْبِلَ بِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ فَجَعَلَهُ خَلْفَهُ فَدَخَلْنَا الْمَدِينَةَ وَإِنَّا لَكَذَلِكَ
Makna ringkas: Abdullah bin Ja'far bercerita bahwa ketika Rasulullah ﷺ kembali dari safar, beliau menyambut kami (anak-anak). Siapa yang lebih dulu menemuinya, beliau letakkan di depannya. Abdullah bin Ja'far yang pertama ditemui, maka beliau memboncengkannya di depan. Lalu Hasan atau Husain datang, maka beliau memboncengkannya di belakang. Maka masuklah mereka ke Madinah dalam keadaan tiga orang di atas satu kendaraan.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan ini menunjukkan keshahihannya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga:
- Kasih Sayang Nabi ﷺ kepada Anak-Anak: Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau kepada anak-anak, terutama cucu-cucunya. Ini adalah bagian dari akhlak beliau yang agung. Beliau tidak merasa gengsi atau mengurangi wibawa untuk bermain dan bercanda dengan anak-anak.
- Tawadhu' (Rendah Hati) dalam Kepemimpinan: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin pernah menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang baik adalah yang dekat dengan rakyatnya, termasuk anak-anak. Sikap Nabi ﷺ ini adalah contoh nyata bahwa kepemimpinan tidak mengharuskan seseorang untuk berjarak dan angkuh. Justru, kedekatan dan kelembutan ini yang membuat beliau sangat dicintai.
- Kebolehan Berboncengan Lebih dari Dua Orang: Imam Abu Dawud menempatkan hadits ini dalam "Bab Tiga Orang Naik di Atas Seekor Binatang", yang menunjukkan bahwa hal ini dibolehkan selama hewan tersebut mampu membawanya. Ini adalah bentuk kemudahan dalam syariat, selama tidak memberatkan hewan.
- Menghormati Anak-Anak: Perbuatan Nabi ﷺ yang menyambut dan mendahulukan anak-anak yang datang menemuinya adalah bentuk penghormatan dan perhatian beliau kepada mereka. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan perasaan anak-anak.
- Pelajaran dari Kisah Abdullah bin Ja'far: Abdullah bin Ja'far adalah keponakan Ali bin Abi Thalib dan anak dari Ja'far bin Abi Thalib yang gugur di Perang Mu'tah. Nabi ﷺ sangat memperhatikan dan menyayangi anak-anak yatim ini. Ini menunjukkan perhatian khusus beliau kepada anak yatim, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits.
Story Telling
Dari hadits ini, kita bisa membayangkan pemandangan yang sangat indah dan mengharukan. Rasulullah ﷺ, seorang pemimpin besar yang ditakuti musuh-musuhnya, baru saja kembali dari sebuah perjalanan. Debu-debu perjalanan masih melekat, dan beliau mungkin merasa lelah. Namun, saat melihat anak-anaknya datang menyambut, wajah beliau berseri-seri.
Beliau tidak menyuruh pengawal untuk menjauhkan anak-anak itu. Justru, beliau sendiri yang mendekat. Abdullah bin Ja'far yang pertama berlari kecil menghampiri, langsung disambut dan diboncengkan di depan beliau. Lalu, datanglah Hasan atau Husain, cucu beliau yang sangat dicintainya. Tanpa ragu, beliau memboncengkan keduanya di belakang.
Mereka bertiga masuk ke kota Madinah dengan satu kendaraan. Orang-orang yang melihat pasti tersenyum dan merasakan kehangatan. Inilah gambaran pemimpin yang dicintai rakyatnya, karena beliau tidak pernah merasa diri terlalu tinggi untuk dekat dengan mereka, bahkan dengan anak-anak sekalipun. Kisah ini adalah pelajaran bahwa kekuatan dan kelembutan bisa bersatu dalam satu pribadi yang agung.
Kesimpulan Praktis
Beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Meneladani kasih sayang Nabi ﷺ: Sayangilah anak-anak, baik keluarga sendiri maupun orang lain, dengan cara yang baik dan penuh perhatian.
- Bersikap tawadhu' (rendah hati): Jangan merasa gengsi untuk dekat dan bercanda dengan anak-anak atau orang yang lebih rendah kedudukannya. Ini tidak mengurangi wibawa, justru menambah kemuliaan.
- Memuliakan anak yatim: Nabi ﷺ memberikan perhatian khusus kepada Abdullah bin Ja'far yang merupakan anak yatim. Kita pun hendaknya memperhatikan dan menyayangi anak-anak yatim di sekitar kita.
- Memperhatikan kemampuan hewan: Jika kita memiliki kendaraan atau hewan tunggangan, perlakukanlah dengan baik dan jangan membebaninya di luar kemampuannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.