Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 2536 tentang Keutamaan kembali bertempur setelah pasukan melarikan diri

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (no. 2536) dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, berisi pujian dan kekaguman Allah—yang disebutkan dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya—terhadap seorang mujahid yang tetap bertahan di medan perang meski kawan-kawannya melarikan diri, lalu ia kembali dan gugur syahid. Hadits ini menunjukkan keutamaan istiqamah, taubat dari dosa lari dari perang, dan besarnya pahala orang yang kembali kepada Allah dengan penuh harap dan takut.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Anfal [8]: 16

﴿وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلَّا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَىٰ فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾

Terjemahan: "Dan barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) pada hari itu, kecuali karena siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya ia telah kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Ayat ini menjadi dasar larangan lari dari medan perang, sekaligus pengecualian bagi yang mundur untuk strategi atau bergabung dengan pasukan lain.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Bab Tentang Seorang Pria yang Menjual Dirinya" (no. 2536), dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 111:

﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ﴾

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan jihad dan keteguhan di medan perang menunjukkan bahwa Allah memuliakan hamba-Nya yang kembali kepada-Nya dengan taubat dan istiqamah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa sifat "kagum" (عجب) yang dinisbatkan kepada Allah tidak boleh dipahami seperti kagumnya makhluk, melainkan sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya yang wajib diimani tanpa tahrif, ta'thil, takyif, dan tamtsil.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Allah mencintai hamba yang kembali kepada-Nya dalam keadaan apapun, terutama ketika ia kembali karena harap dan takut kepada-Nya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menceritakan tentang seorang lelaki yang berperang di jalan Allah. Ketika pasukannya kalah dan teman-temannya melarikan diri, ia menyadari bahwa melarikan diri dari medan perang adalah dosa besar (sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anfal [8]: 16). Maka ia pun kembali ke medan perang, bertempur hingga darahnya mengalir (yakni gugur syahid). Allah—dengan sifat kagum yang layak bagi-Nya—memuji perbuatan hamba-Nya ini di hadapan para malaikat, seraya berfirman: "Lihatlah hamba-Ku, ia kembali karena mengharap apa yang ada di sisi-Ku dan takut terhadap (hukuman) yang ada di sisi-Ku, hingga darahnya mengalir."

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Tentang sifat "kagum" (عجب) bagi Allah:
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa sifat-sifat khabariyah (seperti kagum, tertawa, turun, dan sebagainya) yang disebutkan dalam hadits shahih wajib diimani sebagaimana adanya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak maknanya. Allah kagum dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ijtima' al-Juyusy al-Islamiyyah menegaskan bahwa kagumnya Allah di sini menunjukkan kecintaan dan keridhaan-Nya yang besar terhadap hamba tersebut.
  1. Tentang kembali ke medan perang setelah lari:
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini menunjukkan bahwa taubat dari dosa lari dari medan perang bisa dilakukan dengan kembali dan bertahan hingga syahid.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini memotivasi seorang muslim untuk tidak putus asa dari rahmat Allah, karena seburuk-buruk keadaan pun, jika ia kembali kepada Allah dengan ikhlas, Allah akan menerimanya.
  1. Tentang "menjual diri" (بذل النفس):
  • Judul bab dalam Sunan Abu Dawud, "Bab Tentang Seorang Pria yang Menjual Dirinya," merujuk pada QS. At-Taubah [9]: 111, di mana Allah membeli diri dan harta orang mukmin dengan surga. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah puncak keutamaan jihad, di mana seorang hamba menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk Allah.
  1. Tentang "raghbatan wa syafaqatan" (harap dan takut):
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa seorang hamba yang beribadah dengan menggabungkan rasa harap (raghbah) dan takut (syafaqah) adalah hamba yang paling sempurna imannya. Inilah yang dilakukan oleh mujahid dalam hadits ini: ia kembali karena mengharap pahala Allah dan takut akan azab-Nya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan kembali kepada Allah. Perbedaan hanya pada rincian teknis, seperti apakah "kagum" termasuk sifat fi'liyah atau dzatiyah—namun semuanya sepakat mengimani sifat tersebut tanpa takyif (menanyakan bagaimana) dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Yang paling kuat adalah pendapat Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim yang menetapkan sifat tersebut sebagaimana datangnya, tanpa menolak makna dan tanpa menyerupakan dengan makhluk.

Story Telling

Dikisahkan dalam sejarah Islam tentang seorang sahabat mulia, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling tahu tentang Al-Qur'an. Beliau meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ menceritakan tentang seorang lelaki dari umat sebelumnya atau dari umat ini yang berperang di jalan Allah.

Ketika pasukannya kalah dan semua orang melarikan diri, lelaki ini menyadari bahwa ia telah berbuat dosa dengan melarikan diri. Ia pun kembali ke medan perang sendirian, bertempur dengan gagah berani hingga akhirnya gugur syahid. Allah—dengan keagungan-Nya—berfirman kepada para malaikat: "Lihatlah hamba-Ku ini, ia kembali kepada-Ku bukan karena ingin dilihat manusia, bukan karena ingin dipuji, tetapi karena ia mengharap apa yang ada di sisi-Ku dan takut kepada azab-Ku. Lihatlah, darahnya mengalir di jalan-Ku."

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa sebesar apapun dosa seorang hamba, pintu taubat selalu terbuka. Bahkan dalam keadaan kalah dan sendirian, seorang hamba bisa meraih derajat syahid dan pujian Allah di hadapan para malaikat. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya yang kembali dengan ikhlas.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan putus asa dari rahmat Allah — sebesar apapun dosa, selama masih hidup, taubat masih diterima. Kembalilah kepada Allah dengan harap dan takut.
  2. Istiqamah di jalan Allah — meski sendirian dan ditinggalkan orang lain, tetaplah teguh dalam ketaatan. Allah melihat dan menghargai perjuangan hamba-Nya.
  3. Gabungkan rasa harap dan takut — dalam beribadah, jangan hanya mengandalkan harapan tanpa rasa takut, dan jangan hanya takut tanpa harapan. Keduanya harus seimbang.
  4. Ikhlas dalam beramal — yang membuat Allah "kagum" adalah keikhlasan hamba yang kembali kepada-Nya tanpa pamrih dunia.
  5. Jihad bukan hanya di medan perang — namun juga jihad melawan hawa nafsu, dengan kembali kepada Allah setiap kali terjatuh dalam dosa.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?