Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua pelajaran besar. Pertama, doa Nabi ﷺ yang sangat agung dan penuh kasih sayang kepada para sahabatnya yang pulang tanpa harta rampasan. Beliau tidak menyerahkan urusan mereka kepada kelemahan dirinya, hawa nafsu mereka, atau ketidakadilan manusia, melainkan hanya kepada Allah semata. Kedua, kabar ghaib (nubuwwah) tentang tanda dekatnya hari kiamat, yaitu ketika kekhalifahan telah menetap di tanah suci (Baitul Maqdis), maka akan datang gempa bumi, fitnah, dan perkara-perkara besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab Tentang Seorang Pria yang Berperang untuk Mencari Pahala dan Harta Rampasan, no. 2535. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan makna doa Nabi ﷺ:
QS. Ali 'Imran [3]: 173
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
" (Yaitu) orang-orang yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, 'Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata (ucapan) itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah bagi kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.'"
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin hendaknya hanya bersandar kepada Allah, tidak kepada kekuatan diri sendiri atau pertolongan manusia yang bisa lemah atau berkhianat. Ini sejalan dengan doa Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Keutamaan Ikhlas dan Bahaya Niat yang Tercampur
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa asal mula hadits ini adalah para sahabat yang berangkat berjihad dengan niat mencari pahala dan juga harta rampasan. Ketika mereka pulang tanpa mendapatkan harta rampasan, mereka bersedih. Nabi ﷺ tidak mencela kesedihan mereka, tetapi beliau mengajarkan doa yang menunjukkan bahwa urusan hamba sepenuhnya di tangan Allah. Ini mengajarkan bahwa seorang muslim boleh berusaha mencari rezeki dunia, tetapi hatinya harus tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada hasil usaha semata.
2. Makna Doa Nabi ﷺ
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan keindahan doa ini. Nabi ﷺ mengajarkan tiga tingkatan tawakal:
- "Jangan Engkau serahkan mereka kepadaku" — karena Nabi ﷺ sebagai manusia biasa tidak memiliki daya untuk mengurus semua urusan umatnya secara sempurna. Ini menunjukkan kerendahan hati beliau.
- "Jangan Engkau serahkan mereka kepada diri mereka sendiri" — karena manusia itu lemah, mudah lalai, dan tidak mampu mengatur dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah.
- "Jangan Engkau serahkan mereka kepada manusia" — karena manusia lain bisa saja mementingkan diri sendiri dan menzalimi orang lain.
Doa ini mengajarkan bahwa tempat bergantung yang sejati hanyalah Allah. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. At-Talaq [65]: 3, "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."
3. Tanda Dekatnya Hari Kiamat
Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh Aqidah al-Wasithiyah menjelaskan bahwa kabar tentang tanda-tanda kiamat adalah bagian dari iman kepada hal ghaib. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ketika kekhalifahan telah menetap di Baitul Maqdis (Yerusalem), maka itu adalah tanda dekatnya kiamat. Para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya hal ini, namun yang terpenting adalah mengambil pelajaran bahwa dunia ini sementara dan kiamat itu pasti dekat.
4. Kisah Abdullah bin Hawalah al-Azdi
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah menyebutkan bahwa Abdullah bin Hawalah adalah sahabat yang tinggal di Himsh (Syam). Beliau meriwayatkan hadits ini sebagai bukti kasih sayang Nabi ﷺ kepada para sahabatnya yang sedang bersedih.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Hawalah al-Azdi radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ mengutus kami untuk mendapatkan harta rampasan, tetapi kami kembali tanpa mendapatkan apa-apa."
Betapa sedihnya hati para sahabat saat itu. Mereka telah bersusah payah berjalan jauh, berperang, dan mempertaruhkan nyawa, tetapi pulang dengan tangan kosong. Wajah mereka menunjukkan kelelahan dan kekecewaan.
Namun, lihatlah bagaimana Nabi ﷺ yang penyayang itu berdiri di hadapan mereka. Beliau tidak mencela, tidak menghardik, tidak berkata "mengapa kalian gagal?" Beliau justru mengangkat tangan dan berdoa dengan doa yang sangat dalam maknanya: "Ya Allah, janganlah Engkau serahkan mereka kepadaku, jangan Engkau serahkan mereka kepada diri mereka sendiri, dan jangan Engkau serahkan mereka kepada manusia."
Kemudian beliau meletakkan tangannya di kepala Abdullah bin Hawalah dan mengabarkan kabar ghaib tentang dekatnya kiamat. Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ yang luar biasa. Beliau tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan bahwa segala sesuatu datang dari Allah, dan kepada Allah lah kita berserah diri.
Hikmah dari kisah ini: ketika kita gagal atau kecewa, janganlah berputus asa. Angkatlah tangan kepada Allah, serahkan segala urusan kepada-Nya, dan yakinlah bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya yang bertawakal kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki niat dalam setiap amal — niatkan ibadah semata-mata karena Allah, dan jika ada keinginan duniawi, jadikan itu sebagai sarana, bukan tujuan utama.
- Bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan — baik saat sukses maupun gagal, serahkan hasil akhir kepada Allah.
- Jangan bersedih berlebihan atas kegagalan dunia — karena rezeki, keberhasilan, dan kegagalan semuanya dari Allah.
- Meyakini tanda-tanda kiamat — sebagai pengingat bahwa dunia ini sementara dan akhirat adalah tujuan sejati.
- Meneladani kasih sayang Nabi ﷺ — dalam menghadapi orang yang sedang bersedih, hibur dengan doa dan nasihat yang lembut, bukan dengan celaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.