Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kepada kita tentang semangat persaudaraan, tolong-menolong, dan keikhlasan dalam berjihad di jalan Allah. Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat yang memiliki kendaraan untuk membonceng atau membawa serta saudara-saudara mereka yang tidak memiliki apa-apa, bahkan sampai bergiliran menaiki kendaraan yang sama. Ini adalah pelajaran tentang ukhuwah Islamiyah yang hakiki, di mana harta dan kemampuan digunakan untuk meringankan beban saudara seiman, bukan untuk kepentingan pribadi semata.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab "Seorang Pria yang Menggunakan Harta Orang Lain untuk Berperang", nomor 2534, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudara kalian (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian mendapat rahmat."
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, sangat memperhatikan hadits-hadits tentang jihad dan persaudaraan. Adapun Imam Abu Dawud sendiri, beliau menempatkan hadits ini dalam bab yang berkaitan dengan penggunaan harta orang lain untuk berperang, menunjukkan bahwa dalam jihad, seorang muslim boleh memanfaatkan harta saudaranya dengan cara yang baik dan penuh keikhlasan, selama tidak ada unsur pemaksaan dan sesuai dengan syariat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:
- Perintah untuk Saling Menolong dalam Kebaikan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Maka hendaklah salah seorang dari kalian menggabungkan (membawa serta) dua atau tiga orang (yang tidak punya kendaraan)." Ini adalah perintah langsung dari Nabi ﷺ kepada para sahabat yang memiliki kemampuan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarah-syarahnya sering menekankan bahwa tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa adalah pondasi masyarakat Islam. Dalam konteks ini, membantu saudara yang tidak punya kendaraan untuk ikut serta dalam perang adalah bentuk tolong-menolong yang sangat besar pahalanya.
- Keikhlasan dan Kerendahan Hati: Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu berkata, "Sungguh, aku tidak memiliki apa pun selain giliran menaiki untaku seperti salah seorang dari mereka." Ini menunjukkan bahwa Jabir tidak merasa lebih tinggi atau lebih mulia hanya karena dia memiliki unta. Dia rela berbagi dan bergiliran dengan orang yang tidak punya. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa salah satu tanda keikhlasan adalah seseorang tidak merasa memiliki kelebihan atas saudaranya, dan semua yang dia miliki hanyalah titipan dari Allah untuk digunakan di jalan-Nya.
- Konsep Kepemilikan Harta dalam Islam: Hadits ini juga mengajarkan bahwa harta seorang muslim pada hakikatnya adalah milik umat, dalam artian harus bermanfaat bagi sesama. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits-hadits tentang jihad, menekankan bahwa seorang mujahid (pejuang di jalan Allah) boleh menggunakan kendaraan atau perbekalan saudaranya yang lain dengan cara yang ma'ruf (baik), selama pemiliknya ikhlas dan tidak keberatan. Ini adalah bentuk kerjasama dalam kebaikan.
- Pentingnya Ukhuwah (Persaudaraan): Sabda Nabi ﷺ, "Di antara saudara-saudara kalian ada orang-orang yang tidak memiliki harta dan keluarga," menunjukkan bahwa ikatan persaudaraan Islam lebih kuat dari ikatan darah dan harta. Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm sering mengutip ayat-ayat tentang persaudaraan dan menekankan bahwa hak seorang muslim atas muslim lainnya sangat besar, termasuk dalam hal saling membantu dalam kebaikan.
Story Telling
Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, beliau menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ hendak berangkat perang, beliau bersabda kepada para sahabatnya agar menggabungkan diri dengan orang-orang yang tidak punya kendaraan. Jabir berkata, "Maka aku menggabungkan diriku dengan dua atau tiga orang. Aku berkata, 'Aku tidak memiliki apa pun selain giliran menaiki untaku seperti salah seorang dari mereka.'"
Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat tidak pernah merasa berat untuk berkorban. Mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga memikirkan saudara-saudaranya yang lain. Bahkan Jabir, yang memiliki unta, rela untuk bergiliran menaikinya dengan orang yang tidak punya. Ini adalah cerminan dari firman Allah dalam QS. Al-Hasyr [59]: 9, tentang keutamaan orang-orang Ansar yang mengutamakan saudaranya (Al-Itsar) meskipun mereka sendiri dalam keadaan kekurangan.
Kesimpulan Praktis
- Ringankan Beban Saudara: Jika kita memiliki kelebihan harta, kendaraan, atau kemampuan, gunakanlah untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, terutama dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah.
- Jauhi Sifat Egois: Jangan pernah merasa lebih mulia hanya karena memiliki lebih banyak harta. Ketawadhuan (kerendahan hati) adalah kunci diterimanya amal.
- Niatkan untuk Ibadah: Bantulah dengan niat ikhlas karena Allah, bukan untuk dipuji atau mengharap balasan dari manusia.
- Jaga Persaudaraan: Perkuat ukhuwah Islamiyah dengan saling tolong-menolong, karena mukmin itu bersaudara.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.