Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, bab tentang orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi. Sanadnya: Ali bin Muslim → Abu Dawud (ath-Thayalisi) → Syu'bah → 'Amr (bin Murrah) → Abu Wa'il (Syaqiq bin Salamah). Perkataan "hadits yang mengejutkan saya" adalah ucapan 'Amr bin Murrah, bukan matan hadits itu sendiri; ia lalu menyebutkan maknanya. Inti bab ini adalah hadits terkenal dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, karena fanatisme, dan karena riya', lalu beliau menjawab: yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, itulah yang di jalan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi pokok bab ini:
QS. At-Taubah [9]: 40 (potongan yang relevan):
وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِن كُنتُمْ آمَنتُم بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
Terjemahan: "Dan Musa berkata: 'Hai kaumku, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang-orang yang berserah diri.'"
Adapun kalimat "kalimat Allah yang tertinggi" secara makna dikuatkan oleh firman Allah:
QS. At-Taubah [9]: 33:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Terjemahan: "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi."
Hadits pokok (matan yang dimaksud oleh bab ini):
Dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, beliau berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ، فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Terjemahan: "Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: 'Ada orang berperang untuk mendapatkan harta rampasan, ada yang berperang agar disebut namanya, dan ada yang berperang agar dilihat kedudukannya; siapakah yang berada di jalan Allah?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah.'"
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (dalam Shahih-nya, Kitab Jihad) dan Imam Muslim (dalam Shahih-nya, Kitab al-Imarah), dari jalur Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه. Imam Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam Sunan-nya pada bab ini, dan sebagian jalurnya diringkas oleh 'Amr bin Murrah dengan ucapan "hadits yang mengejutkan saya" lalu menyebutkan maknanya.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan sanad dan perkataan 'Amr bin Murrah
Perkataan "سَمِعْتُ مِنْ أَبِي وَائِلٍ حَدِيثًا أَعْجَبَنِي" ("aku mendengar dari Abu Wa'il sebuah hadits yang mengejutkan aku") adalah ucapan 'Amr bin Murrah al-Jamali, seorang tabi'in yang tsiqah. Ini menunjukkan bahwa para tabi'in sangat menghargai hadits ini karena kandungannya yang agung: menetapkan standar niat dalam berjihad. Imam Abu Dawud ath-Thayalisi (guru Imam Abu Dawud penulis Sunan) meriwayatkan dari Syu'bah bin al-Hajjaj, lalu dari 'Amr bin Murrah, dari Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah, dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه.
2. Makna "kalimat Allah yang tertinggi"
Para ulama yang tercantum dalam rujukan menjelaskan makna ini:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "kalimat Allah" adalah agama Allah, tauhid, dan dakwah kepada-Nya. Maksudnya, perang yang sah sebagai jihad adalah perang yang tujuannya menegakkan agama Allah, bukan untuk kepentingan pribadi.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa yang dimaksud adalah meninggikan agama Allah dan menolongnya, bukan sekadar kemenangan fisik atau kejayaan kelompok.
- Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa amal itu dinilai berdasarkan niat dan tujuan akhirnya; jika tujuan akhirnya adalah Allah dan agama-Nya, maka amal itu fi sabilillah; jika tujuannya dunia, maka ia hanya mendapat dunia.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hakikat jihad adalah jihad melawan hawa nafsu terlebih dahulu, karena siapa yang berperang untuk selain Allah, maka ia berperang untuk hawa nafsunya sendiri.
3. Tiga motif yang ditolak Nabi ﷺ
Nabi ﷺ menyebut tiga motif yang bukan fi sabilillah:
- لِلْمَغْنَمِ — untuk harta rampasan (motif materi).
- لِلذِّكْرِ — untuk disebut-sebut namanya (motif popularitas).
- لِيُرَى مَكَانُهُ — agar dilihat kedudukannya (motif pamer/riya').
Ketiga motif ini adalah bentuk syirik kecil dalam niat, sebagaimana dijelaskan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam ketika membahas hadits "innamal a'malu bin niyyat" (sesungguhnya amal itu tergantung niatnya). Beliau menyebutkan bahwa amal yang dilakukan untuk selain Allah akan sia-sia di akhirat.
4. Perbedaan pendapat ulama daftar
Di antara ulama yang tercantum, tidak ada perbedaan pokok dalam memahami hadits ini. Yang ada hanyalah penekanan:
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah menekankan bahwa niat adalah rukun amal, sehingga jihad tanpa niat ikhlas tidak bernilai pahala.
- Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak menekankan pentingnya ikhlas dalam setiap amal, termasuk jihad, dan keduanya dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud dan wara'.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa hadits ini adalah kaidah agung dalam bab niat: amal menjadi ibadah jika tujuannya Allah, dan menjadi sia-sia jika tujuannya selain Allah.
Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan bahwa syarat sahnya jihad adalah niat ikhlas untuk menegakkan kalimat Allah, dan inilah yang dipahami oleh jumhur ulama Ahlus Sunnah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه — seorang sahabat yang dikenal dengan suara indahnya membaca Al-Qur'an — menyampaikan hadits ini kepada para tabi'in. Abu Wa'il Syaqiq bin Salamah menerimanya dengan penuh perhatian, lalu menyampaikannya kepada 'Amr bin Murrah, yang begitu terkesan hingga beliau berkata: "Aku mendengar dari Abu Wa'il sebuah hadits yang mengejutkan aku."
Keheranan 'Amr bin Murrah bukan karena ceritanya aneh, tetapi karena kedalaman maknanya: betapa banyak orang berperang, berjuang, bahkan berkorban, namun niatnya bukan untuk Allah. Hadits ini menjadi timbangan yang sangat teliti — hanya niat yang murni untuk menegakkan kalimat Allah yang diterima.
Syu'bah bin al-Hajjaj — yang dijuluki Amirul Mu'minin fil Hadits — meriwayatkan hadits ini dengan sangat hati-hati, dan Imam Abu Dawud ath-Thayalisi menyampaikannya kepada muridnya Ali bin Muslim, lalu Imam Abu Dawud as-Sijistani mencatatnya dalam Sunan-nya. Ini menunjukkan betapa para ulama menjaga hadits ini karena ia berbicara tentang hati, bukan sekadar amal lahir.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki niat dalam setiap amal, terutama amal yang berkaitan dengan dakwah, pembelaan agama, dan pengorbanan.
- Jangan beramal untuk pujian manusia, harta, atau kedudukan; semua itu akan sia-sia di akhirat.
- Ukur amal dengan standar "kalimat Allah yang tertinggi" — apakah tujuan akhirnya menegakkan agama Allah atau kepentingan pribadi.
- Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu yang ingin dipuji dan dihormati, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim.
- Pelajari niat sebelum beramal, karena niat adalah ruh amal; tanpa niat yang benar, amal hanya menjadi beban.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.