Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengingatkan kita tentang dua sifat buruk yang sangat berbahaya dalam diri manusia: sifat kikir yang disertai rasa takut berlebihan (syuhhun haali’) dan sifat pengecut yang membuat seseorang lari dari kewajiban (jubnun khaali’). Kedua sifat ini dapat merusak keimanan, hubungan sosial, dan semangat berjuang di jalan Allah. Seorang mukmin hendaknya berlindung dari kedua sifat ini dan berusaha menanamkan sifat dermawan serta keberanian yang terpuji.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Jihad, Bab Tentang Keberanian dan Ketakutan, no. 2511. Berikut adalah penjelasan dari para ulama:
1. Penjelasan Makna Hadits
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 2880) menyatakan bahwa hadits ini shahih. Beliau menjelaskan bahwa kata syuhhun haali’ berarti sifat kikir yang sangat menguasai hati sehingga membuat seseorang selalu dalam keadaan cemas dan takut kehilangan hartanya. Sementara jubnun khaali’ berarti sifat pengecut yang mencabut nyali seseorang sehingga ia lari dari medan perang atau dari kewajiban membela kebenaran.
- Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam Syarh Sunan Abi Dawud menjelaskan bahwa kedua sifat ini adalah pangkal dari segala keburukan. Sifat kikir membuat seseorang enggan berinfak dan membantu sesama, sedangkan sifat pengecut membuatnya enggan berjuang dan membela agama Allah.
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Al-Fawa'id menjelaskan bahwa sifat kikir dan pengecut seringkali berjalan beriringan. Orang yang kikir akan takut kehilangan hartanya, sehingga ia menjadi pengecut untuk berkorban. Sebaliknya, orang yang pengecut akan cenderung kikir karena ia takut kehilangan keselamatan dirinya.
2. Ayat Al-Qur'an yang Relevan
Allah Ta'ala berfirman:
QS. Al-Hasyr [59]: 9
<p>وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ</p>
Artinya: "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Ayat ini menunjukkan bahwa sifat kikir (syuhh) adalah penyakit hati yang harus dijauhi. Orang yang selamat dari kekikiran dirinya adalah orang yang beruntung.
3. Hadits Lain yang Relevan
Rasulullah ﷺ bersabda:
<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "اتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ"</p>
Artinya: "Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jauhilah sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka.'" (HR. Muslim, no. 2578)
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan peringatan keras tentang dua sifat buruk yang sangat berbahaya:
- Syuhhun Haali' (Kikir yang Mengkhawatirkan)
- Makna: Syuhhun adalah sifat kikir yang sangat dalam, bukan sekadar pelit biasa. Ini adalah penyakit hati yang membuat seseorang sangat cinta pada harta dan enggan mengeluarkannya untuk kebaikan. Kata haali' berarti sangat cemas, takut, dan khawatir. Jadi, syuhhun haali' adalah sifat kikir yang disertai dengan rasa cemas berlebihan jika hartanya berkurang.
- Pandangan Ulama:
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa syuhh adalah pangkal dari segala keburukan. Sifat ini mendorong seseorang untuk memutuskan silaturahmi, enggan berzakat, dan bahkan melakukan kezaliman.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa syuhh adalah lawan dari sifat itsar (mengutamakan orang lain). Orang yang memiliki sifat syuhh akan selalu merasa kurang dan tidak pernah puas, sehingga ia akan terus-menerus mengumpulkan harta tanpa peduli halal haram.
- Jubnun Khaali' (Pengecut yang Mencabut Nyali)
- Makna: Jubnun adalah sifat pengecut atau takut. Kata khaali' berarti sesuatu yang mencabut atau merenggut. Jadi, jubnun khaali' adalah sifat pengecut yang begitu kuat sehingga mencabut seluruh keberanian dan semangat dari hati seseorang. Ia menjadi lumpuh dan tidak mampu bertindak, bahkan untuk hal-hal yang wajib sekalipun.
- Pandangan Ulama:
- Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa sifat pengecut adalah salah satu penghalang terbesar untuk berjihad di jalan Allah. Orang yang pengecut akan selalu mencari alasan untuk menghindari medan perang atau kewajiban lainnya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa keberanian yang terpuji adalah keberanian yang didasari oleh iman dan ilmu, bukan keberanian yang membabi buta. Adapun sifat pengecut adalah sifat tercela yang harus dihilangkan.
Kaitan Kedua Sifat:
Kedua sifat ini saling terkait erat. Sifat kikir membuat seseorang sangat mencintai harta dan nyawanya, sehingga ia menjadi pengecut untuk berkorban. Sebaliknya, sifat pengecut membuat seseorang tidak memiliki keberanian untuk berinfak atau berjuang. Inilah mengapa Rasulullah ﷺ menggabungkan keduanya dalam satu hadits sebagai "seburuk-buruk sifat dalam diri manusia."
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal (dalam Musnadnya) bahwa suatu ketika, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling utama?" Beliau menjawab, "Orang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya." Mereka bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Kemudian seorang mukmin yang berada di suatu lereng gunung, ia beribadah kepada Tuhannya dan meninggalkan manusia dari kejahatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini mengajarkan bahwa jihad dengan harta dan jiwa adalah puncak keimanan. Sifat kikir dan pengecut adalah penghalang utama untuk mencapai derajat yang mulia ini. Seorang mukmin sejati adalah ia yang mampu mengalahkan sifat kikir dan pengecut dalam dirinya, sehingga ia siap berkorban demi agama Allah.
Kesimpulan Praktis
- Kenali Diri Sendiri: Introspeksilah apakah dalam diri kita terdapat sifat kikir dan pengecut. Jika ada, segera bertaubat dan berusaha menghilangkannya.
- Latih Kedermawanan: Biasakan diri untuk berinfak dan bersedekah, meskipun sedikit. Semakin sering kita berlatih, semakin ringan hati kita untuk memberi.
- Tanamkan Keberanian: Tanamkan keyakinan bahwa rezeki, ajal, dan segala sesuatu telah diatur oleh Allah. Oleh karena itu, janganlah takut untuk berbuat kebaikan dan membela kebenaran.
- Berdoa kepada Allah: Mohonlah kepada Allah agar dijauhkan dari sifat kikir dan pengecut. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:
<p>اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ</p>
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (perasaan) sedih dan susah, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari lilitan hutang dan dari tekanan orang-orang." (HR. Bukhari, no. 6369)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.